JAKARTA (Lentera) - Progres pengembangan proyek Kampung Haji di Makkah, Arab Saudi, masih tertahan situasi geopolitik. Hingga kini, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mengaku belum menerima kepastian hasil lelang lahan yang menjadi kunci ekspansi proyek strategis tersebut.
Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara, Pandu Sjahrir, mengungkapkan pihaknya masih menunggu kelanjutan proses tender lahan yang dikelola otoritas Arab Saudi.
Pandu menyebut, proses finalisasi yang semula diperkirakan rampung lebih cepat kini berjalan lebih lama dari jadwal akibat kondisi konflik di Timur Tengah yang tidak menentu.
"Kita lagi menunggu dari pemerintah Arab Saudi. Sebenarnya dari sisi lot yang sudah kita bid, seharusnya sudah ada kabar, tapi sampai sekarang masih belum," ujar Pandu dalam forum Fitch Ratings Annual Indonesia Conference 2026 di Jakarta, melansir Antara, Kamis (23/4/2026).
Menurut Pandu, kondisi geopolitik di Timur Tengah turut memengaruhi fokus pemerintah Arab Saudi saat ini. Ia menilai, stabilitas dan kepentingan pertahanan negara menjadi prioritas utama yang berdampak pada proses investasi, termasuk proyek Kampung Haji.
"Mereka juga sedang mengalami goncangan. Jadi kepentingan utama mereka saat ini adalah pertahanan negara," jelasnya.
Di tengah ketidakpastian itu, Pandu menyampaikan kabar positif terkait aset awal yang telah dimiliki Danantara di Makkah. Hotel Novotel Thakher Makkah disebut telah siap digunakan untuk melayani jamaah haji Indonesia pada musim haji 2026.
"Sudah bisa digunakan. Rating-nya bagus, respons dari pengguna juga sangat positif," katanya.
Sebagai bagian dari pengembangan jangka panjang, Danantara saat ini juga masih mengikuti proses lelang lanjutan yang dikelola Royal Commission for Makkah City and Holy Sites (RCMC), untuk memperoleh peluang kawasan lain yang lebih dekat dengan Masjidil Haram.
Kawasan Thakher sendiri telah menjadi fondasi awal proyek, dengan aset berupa hotel berkapasitas sekitar 1.461 kamar yang tersebar di tiga menara, serta lahan pengembangan seluas kurang lebih 4,4 hektare di koridor strategis berjarak 2–3 kilometer dari pusat ibadah.
Ke depan, kawasan tersebut ditargetkan berkembang signifikan hingga mencapai sekitar 6.000 kamar dengan kapasitas sekitar 22.000 jamaah, atau setara 10 persen dari total jamaah haji Indonesia setiap tahun.
Pandu menegaskan, pengembangan dilakukan secara bertahap dan berbasis kajian matang, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam investasi.
Untuk tahap awal, investasi di Kawasan Thakher akan difokuskan pada penguatan aset yang sudah ada serta belanja modal (capex) untuk ekspansi lanjutan.
Proyek ini ditargetkan memasuki tahap groundbreaking pada 2026, sementara operasional tambahan direncanakan mulai berjalan pada 2029.
"Fokus kami memastikan setiap langkah dilakukan secara prudent, terukur, dan memberi manfaat jangka panjang. Kompleks Haji ini kami bangun sebagai proyek strategis lintas generasi," pungkas Pandu.
Editor: Santi




