29 April 2026

Get In Touch

Penurunan Air Danau Toba Picu Kematian Massal Ikan

Penurunan Air Danau Toba Picu Kematian Massal Ikan

SURABAYA ( LENTERA ) - Permukaan air Danau Toba mengalami penurunan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan pemantauan satelit altimetri, ketinggian air danau tersebut tercatat menyusut hingga sekitar 1,6 meter sepanjang periode Juni 2025 sampai Maret 2026.

Penurunan ini menjadi perhatian karena berlangsung secara bertahap dalam kurun waktu yang cukup panjang. Data tersebut menunjukkan adanya perubahan kondisi hidrologi yang perlu dicermati lebih lanjut oleh pihak terkait.

Sektor perikanan budi daya di kawasan Danau Toba, terutama usaha keramba jaring apung, tengah menghadapi tekanan akibat penurunan permukaan air danau. Kondisi ini dinilai berpotensi mengganggu aktivitas para pembudi daya.
Berdasarkan hasil pemantauan satelit altimetri, muka air Danau Toba tercatat terus menyusut dengan penurunan mencapai sekitar 1,6 meter dalam rentang Juni 2025 hingga Maret 2026.

Situasi tersebut menjadi perhatian karena dapat berdampak pada keberlangsungan usaha perikanan di wilayah tersebut.
Jonson Lumban Gaol, menyebutkan bahwa permukaan air Danau Toba berpotensi turun hingga 2 meter apabila musim kemarau berlangsung lebih lama.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut dapat berdampak luas terhadap berbagai aktivitas di sekitar danau, termasuk sektor perikanan budi daya yang bergantung pada kestabilan tinggi muka air.

Jonson juga mengingatkan bahwa kondisi hidrologi tersebut berpotensi semakin memburuk. Hal ini sejalan dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Mengenai kemungkinan terjadinya El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) fase positif secara bersamaan pada 2026.
“Kombinasi ini dapat memicu musim kering berkepanjangan di Indonesia, termasuk di kawasan Danau Toba, yang pada akhirnya mempercepat penyusutan volume air danau dan dapat menyebabkan kematian massal ikan di keramba,” kata Jonson melalui keterangan tertulis, Kamis, 23 April 2026.
Jonson menambahkan, penurunan permukaan air danau kerap berkaitan dengan peristiwa kematian massal ikan di keramba jaring apung. Ia mencontohkan kejadian pada 2016, ketika ribuan ton ikan mati seiring surutnya muka air hingga sekitar 2 meter.

Peristiwa serupa juga tercatat terjadi pada 2018, 2020, dan 2023 saat ketinggian air berada pada level relatif rendah, meskipun dampaknya tidak sebesar kejadian pada 2016.

Menurut Jonson, penurunan muka air danau bukan menjadi penyebab langsung kematian ikan, melainkan berperan sebagai pemicu terjadinya percampuran massa air saat cuaca ekstrem dan angin kencang.

Dalam kondisi perairan yang lebih dangkal, angin kencang dapat mengaduk sedimen limbah organik di dasar danau. Sedimen halus tersebut kemudian terangkat ke permukaan dan berpotensi menyumbat insang ikan, sehingga meningkatkan risiko kematian massal.
Selain itu, penumpukan limbah organik dan limbah rumah tangga di dasar danau juga menjadi faktor pemicu. Jonson menjelaskan, dalam kondisi normal limbah tersebut diuraikan oleh bakteri dengan bantuan oksigen. 

Namun, ketika kadar oksigen menurun, proses penguraian berubah menjadi anaerobik dan menghasilkan gas beracun seperti hidrogen sulfida dan metana.
Ia mengimbau para nelayan di kawasan Danau Toba untuk meningkatkan kewaspadaan. Jika mulai muncul tanda-tanda cuaca ekstrem, seperti angin kencang dan perubahan warna air menjadi keruh, nelayan disarankan memindahkan keramba ke perairan yang lebih dalam atau segera melakukan panen guna meminimalkan risiko kerugian. (Ella- Mahasiswa UINSA, berkontribusi dalam tulisan ini)
 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.