BATU (Lentera) - Volume sampah di Kota Batu mengalami kenaikan sekitar 2,34 persen. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat mencatat produksi sampah harian kini mencapai 125 ton per hari, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 122,138 ton.
Kepala DLH Kota Batu, Dian Fachroni, mengungkapkan kenaikan tersebut dipicu oleh beroperasinya Satuan Pelayanan Pengolahan Gizi (SPPG), atau dapur penyedia Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Terjadi kenaikan karena berbarengan dengan aktivasi SPPG di Kota Batu, sehingga itu menghasilkan sampah juga rata-rata 2 ton per hari. Terakhir (total keseluruhan timbulan sampah di Kota Batu) di angka 125 ton," ujar Dian, dikutip pada Selasa (5/5/2026).
Diketahui, melansir laman resmi Badan Gizi Nasional (BGN) per 5 Mei 2026, jumlah SPPG yang telah beroperasi di Kota Batu tercatat sebanyak 24 dapur. Jumlah tersebut diproyeksikan terus bertambah, mengingat masih ada sejumlah dapur lain yang saat ini dalam tahap persiapan, dengan target mencapai 40 dapur.
Meski terjadi tren kenaikan pada 2026 ini, DLH Kota Batu menegaskan komitmennya untuk tetap mengendalikan volume sampah. Salah satu strategi yang didorong adalah pengembangan industri pengolahan sampah sebagai bagian dari proyek strategis daerah, mBatu SAE.
Program tersebut, kata Dian, difokuskan pada penguatan pengolahan sampah organik agar memiliki nilai tambah sekaligus mampu mengurangi beban sampah yang masuk ke TPA Tlekung.
Selain itu, DLH juga tengah mengupayakan kehadiran offtaker atau pihak yang dapat menyerap hasil olahan sampah, khususnya dari rumah kompos yang tersebar di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) maupun di TPA.
"Harapannya ini bisa menjadi embrio untuk industri pengolahan sampah seperti yang dicanangkan dalam proyek strategis daerah," imbuh Dian.
Dari sisi fasilitas, DLH mencatat komposter yang berada di TPA memiliki kapasitas pengolahan hingga 4 ton per hari. Namun, hingga saat ini pemanfaatannya baru mencapai sekitar 2 ton per hari, sehingga masih terdapat ruang optimalisasi yang cukup besar.
Di tingkat hulu, dari total 16 rumah kompos yang telah dibangun, sebanyak 14 unit sudah aktif beroperasi. Sementara dua unit lainnya masih dalam proses pemenuhan sarana dan prasarana.
Dian mengatakan, salah satu rumah kompos yang belum beroperasi penuh berada di Desa Pesanggrahan, yang saat ini masih dalam tahap pencacahan material dan distribusi peralatan.
Disebutkannya, sekitar 70 persen sampah di Kota Batu telah berhasil ditangani melalui skema pengelolaan di hulu, seperti TPS3R, bank sampah unit, dan fasilitas pengolahan lainnya. Sementara itu, sekitar 20 hingga 30 persen sisanya masih ditangani di hilir.
Sedangkan mengacu pada data DLH tahun 2025, dari total 122,138 ton sampah per hari, sekitar 106,138 ton telah berhasil dikelola. Namun, masih terdapat sekitar 16 ton sampah yang belum tertangani secara optimal.
Kemudian sekitar 37 ton sampah yang masuk ke TPA Tlekung setiap harinya diproses menggunakan insinerator. Langkah ini menjadi salah satu upaya untuk mengurangi beban timbunan sampah di TPA.
Untuk memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat, DLH Kota Batu berencana menambah sedikitnya 4 rumah kompos baru pada tahun ini. Penambahan ini difokuskan untuk mendukung TPS3R yang belum memiliki fasilitas pengolahan organik.
Tidak hanya itu, dalam rencana jangka menengah, DLH juga menargetkan pembangunan 10 TPS3R tambahan dalam kurun waktu 5 tahun ke depan di sejumlah wilayah.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Santi




