MADINAH (Lentera) -Seorang nenek berusia 70 tahun asal Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel) akhirnya berhasil menjejakkan kaki di Tanah Suci setelah menabung hampir dua dekade dari hasil bertani.
Otoritas Keimigrasian Arab Saudi menginformasikan kisah Jumaria melalui akun @makkahroute pada Jumat, 8 Mei 2026. Jumaria kemudian terpilih menjadi Ikon Haji 2026, setelah perjuangannya menarik perhatian publik internasional luas.
Kisah perjuangannya mendapat sorotan publik bahkan jadi bahan liputan media asing.
Sehari-harinya Jumaira tinggal seorang diri di sebuah rumah sederhana yang berada di tengah sawah.
Setiap pagi, ia pergi ke sawah dan kebun milik warga untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menabung biaya haji.
Jumaria menyisihkan hasil panen padi serta upah kebun untuk kebutuhan tabungan hajinya setiap hari. Ia menerima upah harian kecil melalui pekerjaan berkebun milik warga sekitar tempat tinggalnya sendiri.
Hasil panen padi dan upah kecil dari bekerja di kebun tidak langsung dihabiskan oleh Jumaira. Uang tersebut ia sisihkan sedikit demi sedikit, mulai dari Rp20 ribu hingga Rp200 ribu.
"Saya sedih kenapa saya datang ke sini. Mungkin saya ke sini karena panggilan Tuhan, kan saya orang miskin. Ada orang bilang kalau kau punya uang bisa kau ke Tanah Suci," ungkap Jumaira, dikutip Senin (11/5/2026).
Karena tidak memiliki tempat menabung, ia menyimpan uangnya di bawah tempat tidur dan di dalam ember yang ditutup kain bekas agar tidak terpakai untuk kebutuhan lain.
Bahkan demi menjaga tabungan hajinya tetap utuh, Jumira menjalani hidup dengan sederhana. Saat tidak memiliki lauk, ia hanya memasak daun ubi dan sayuran seadanya.
"Dia itu mengumpulkan uang dari recehan yang dia dapat sampai-sampai bisa pelunasan bahkan lebih uangnya untuk pelunasan itu sendiri," ujar jemaah haji lain, Marwati.
Kisah Nenek Jumairah menjadi gambaran nyata tentang ketulusan serta perjuangan panjang seorang jemaah haji dalam mewujudkan impian untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci (*)
Editor: Arifin BH




