JAKARTA (Lentera) - Nilai tukar rupiah yang melemah bahkan menyentuh level Rp17.600 per dollar AS pada Jumat (15/5/2026) memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi tersebut tidak perlu disikapi dengan kepanikan.
"Enggak perlu panik karena fondasi ekonomi bagus. Kita tahu betul kelemahannya di mana dan bisa kita betulin. Kita enggak akan sejelek seperti 98 lagi," ujar Purbaya di Kompleks Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Jakarta Selatan, mengutip Kompas, Jumat (16/5/2026).
Purbaya menjelaskan, tanggung jawab utama menjaga stabilitas nilai tukar berada di tangan Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral. Meski demikian, pemerintah melalui Kementerian Keuangan juga menyiapkan sejumlah langkah pendukung untuk memperkuat pasar keuangan.
Salah satu fokus utama pemerintah saat ini adalah menjaga stabilitas pasar obligasi atau bond market. Langkah ini dinilai penting untuk menahan laju capital outflow dan memulihkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik.
"Itu kan tugas bank sentral. Cuma kita sedang ambil langkah-langkah untuk membantu memperkuat juga dari sisi bond market. Mungkin kita coba lihat apakah kita bisa masuk untuk membantu apa enggak, tetapi pasti ke depan akan ada perbaikan, jadi jangan takut," katanya.
Menurut Purbaya, stabilitas pasar surat berharga negara memiliki peran strategis dalam menjaga minat investor, terutama ketika pasar global sedang bergejolak.
Jika harga obligasi stabil, investor tidak akan terburu-buru menjual asetnya karena kekhawatiran terhadap capital loss atau kerugian akibat penurunan harga obligasi.
Sebaliknya, apabila harga obligasi kembali menguat, investor berpeluang memperoleh capital gain. Kondisi tersebut dinilai dapat mendorong masuknya kembali aliran modal asing ke Indonesia.
"Kalau bond market stabil, orang itu enggak jual, mereka enggak takut dengan capital loss, yang keluar juga akan berkurang. Apalagi kalau nanti bond-nya menguat, kan ada potensi capital gain, biasanya mereka suka," kata bendahara negara tersebut.
Editor: Santi




