20 May 2026

Get In Touch

Pemerintah Targetkan Serap Obligasi Rp2 Triliun per Hari untuk Jaga Rupiah

Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa. (foto: Kemenkeu RI)
Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa. (foto: Kemenkeu RI)

JAKARTA (Lentera) - Pemerintah menargetkan penyerapan obligasi negara hingga Rp2 triliun per hari. Kebijakan tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas pasar Surat Berharga Negara (SBN) di tengah tekanan pasar global dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan realisasi pembelian obligasi sejauh ini masih jauh di bawah target. Pada perdagangan terakhir, pemerintah hanya mampu menyerap sekitar Rp600 miliar.

"Kemarin saja saya sudah targetkan serap Rp2 triliun, hanya dapat Rp600 miliar. Artinya yang jual juga sedikit sebetulnya," ujar Purbaya kepada wartawan di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, melansir Kompas, Selasa (19/5/2026).

Menurutnya, pemerintah masuk ke pasar obligasi untuk menjaga harga obligasi tetap stabil sekaligus menahan kenaikan imbal hasil (yield) SBN agar tidak melonjak terlalu tinggi.

Untuk saat ini, intervensi dilakukan menggunakan skema pengelolaan kas pemerintah atau cash management. Pemerintah belum mengaktifkan Bond Stabilization Framework (BSF), yaitu mekanisme khusus untuk menstabilkan pasar obligasi dengan melibatkan sejumlah lembaga negara.

"Ini baru cash management," kata Purbaya.

Dijelaskannya, BSF baru akan digunakan jika tekanan di pasar obligasi semakin dalam dan aksi jual investor menjadi lebih masif.

Dalam skema tersebut, pemerintah dapat menggandeng sejumlah institusi, termasuk PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), untuk ikut menyerap obligasi negara.

"Kalau framework nanti saya panggil SMI dan lain-lain untuk ikut, tapi sekarang belum separah itu keadaannya," kata Purbaya.

Bendahara negara ini mengungkapkan, pemerintah telah mulai melakukan pembelian obligasi secara bertahap sejak Kamis pekan lalu. "Dari Kamis minggu lalu sedikit, terus kemarin sedikit, sekarang saya lihat lagi seperti apa," katanya.

Meski pasar keuangan global masih diliputi ketidakpastian, Purbaya menilai kondisi pasar obligasi domestik masih relatif terkendali.

Ia menegaskan aksi jual investor belum terlalu agresif, sehingga pemerintah belum perlu mengerahkan seluruh instrumen stabilisasi yang telah disiapkan.

Editor: Santi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.