13 June 2026

Get In Touch

BI: Modal Asing Rp19 Triliun Masuk usai BI Rate Naik ke 5,50 Persen

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti. (foto: ist)
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti. (foto: ist)

JAKARTA (Lentera) - Bank Indonesia (BI) mencatat aliran masuk modal asing (foreign inflows) ke instrumen keuangan domestik mencapai Rp19,02 triliun, dua hari setelah bank sentral menaikkan BI Rate menjadi 5,50 persen.

"Pasca kenaikan BI Rate, aliran masuk modal asing mengalami perkembangan positif, didukung oleh daya tarik instrumen keuangan domestik," ujar Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti dalam keterangan tertulis di Jakarta, melansir Antara, Jumat (12/6/2026).

Berdasarkan data BI, aliran dana nonresiden pada 10-11 Juni 2026 tersebut didominasi investasi pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp15,11 triliun. Sementara itu, investasi pada Surat Berharga Negara (SBN) tercatat mencapai Rp3,91 triliun.

Tak hanya itu, BI juga mencatat keberhasilan penjualan perdana obligasi internasional Danantara yang mampu menyerap dana investor hingga Rp26,9 triliun. Menurut Destry, capaian tersebut semakin mempertegas optimisme pelaku pasar terhadap aset-aset Indonesia.

"Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik," katanya.

Sentimen positif tersebut turut tercermin pada pergerakan nilai tukar rupiah. Pada penutupan perdagangan Jumat (12/6/2026), rupiah berada di kisaran Rp17.865-Rp17.875 per dolar Amerika Serikat (bid-ask), menguat 0,84 persen dibandingkan penutupan 5 Juni 2026 yang berada di level Rp18.010-Rp18.020 per dolar AS.

Destry menilai penguatan rupiah merupakan respons pasar terhadap bauran kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia.

Selain menaikkan BI Rate menjadi 5,50 persen, BI juga memperkuat struktur suku bunga SRBI, memberikan insentif hedging swap bagi investor asing, membuka akses repo untuk mendukung likuiditas perbankan, serta meningkatkan intensitas operasi moneter rupiah dan valuta asing.

Menurutnya, efektivitas kebijakan tersebut juga ditopang oleh koordinasi yang erat antara Bank Indonesia dan pemerintah dalam menjaga stabilitas sektor keuangan nasional.

Di sisi lain, BI memperkuat ketahanan eksternal melalui kerja sama dengan People’s Bank of China (PBOC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA).

Kerja sama tersebut menghasilkan tiga kesepakatan strategis, yakni memperkuat stabilitas keuangan kedua negara sekaligus kawasan, memperkuat Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA), serta memperluas penggunaan mata uang lokal melalui skema Local Currency Transactions (LCT).

Destry menjelaskan, penguatan kerja sama tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus mendukung stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Bank Indonesia, lanjutnya, akan terus mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan secara konsisten dan terukur serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan ketahanan eksternal perekonomian nasional.

"Dengan berbagai perkembangan di atas, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap dolar AS menuju ke level fundamentalnya," tutup Destry.

Editor: Santi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.