03 April 2025

Get In Touch

Kroco Mikir Seperti CEO?

Kroco Mikir Seperti CEO?

Oleh: Banter Laksana Bayu, Community Relations Enthusiast

Sore hari, menjelang pulang kerja di sebuah perusahaan plat merah. Seperti biasanya, beberapa karyawan ngobrol ngalor-ngidul sambil menunggu jam kerja berakhir. Di tengah keriuhan percakapan, seorang bos menginterupsi. “Kalau mau jadi pemimpin, kamu harus berpikir dua level di atas kamu!”

Pada situasi seperti itu, biasanya para bawahan otomatis merespons dengan senyuman. Minimal mereka mencoba bersikap santun, dengan manggut-manggut sekadarnya. Sebagai upaya menghargai nasihat bos.

Sebetulnya sangat mudah mematahkan dalilnya yang bernuansa agak mengekang cara berpikir karyawan rendahan itu. Seakan anak buah adalah kaum yang hanya mampu berpikir sebatas dua layer ke atas dalam struktur hierarki.

Hierarki bisa saja menjadi sakral dan vital. Namun pada era normalitas baru, hierarki hanya optimal di ruang yang bersifat administrasif. Tentunya, agar perintah terlaksana, memudahkan koordinasi, dan porsi pertanggungjawaban menjadi jelas.

Hierarki yang ideal, ketika bos berani memaksimalkan peran bawahan yang memiliki ide autentik yang logis. Selama berpotensi menambah nilai kepada perusahaan, ide yang berasal dari grass root sebaiknya diakomodir.

Setiap individu dalam setiap organisasi atau unit kerja seharusnya dapat diberikan kesempatan berkreasi, tanpa khawatir berbenturan dengan sekat jabatan. Sehingga kompetensi yang mereka miliki menjadi unique selling yang dapat ‘dijual’, sekaligus menciptakan diferensiasi berupa terobosan baru yang memberikan keuntungan bagi perusahaan.

Selanjutnya, konektivitas. Dalam konteks ini manajemen perusahaan wajib mengarahkan kompetensi yang dimiliki agar dapat terkoneksi dengan dunia luar.

Dengan kata lain, selama kompetensinya dapat menjadi penghubung jaringan antar stakeholder perusahaan, manajemen harus hadir sebagai bentuk dukungan konkret.
Selain itu, hal yang wajib dirawat adalah kreativitas.

Kreativitas harus disajikan dengan setting narasi yang mencipatkan nilai (value creation) atau berdampak positif bagi pihak lain (share value). Kreativitas dibutuhkan untuk menghindari kejenuhan dari aktivitas yang monoton.

Diharapkan setiap karyawan dapat mengerti tentang benefit dari hasil karyanya, dan dampak terhadap jenjang karir lanjutan. Hal ini merujuk pada aktualisasi diri dan penghargaan yang merupakan 2 dari 10 kebutuhan dasar manusia, sesuai kebutuhan hierarki Maslow.

Terakhir adalah kontribusi yang menjadi semacam alat ukur untuk melihat kekuatan dan kelemahan dari konsep ide yang terlaksana. Di dalam fase kontribusi, perusahaan dapat menilai tentang komitmen, integritas, hingga konsistesi dari perancangan konsep hingga eksekusi ide dalam rupa kegiatan yang terukur.

Setengah berbisik, di antara mereka ada yang nyeletuk. “Emangnya kalau kroco nggak boleh mikir kayak CEO, bro!?,” tanyanya sambil ‘tertawa jahat’, sebelum pamit pulang karena mendapat telepon dari istrinya.(*)

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lentera Today.
Lentera Today.