
SURABAYA (Lenteratoday) – Kekeringan yang mengakibatkan kelangkaan air bersih di kawasan pulau Madura terus dikeluhkan masyarakat dan belum terselesaikan sampai saat ini. Untuk itu dibutuhkan strategi khusus menggunakan metode geolistrik dengan menggandeng perguruan tinggi.
Anggota Fraksi Partai Gerindra DPRD Jatim, Abdul Halim mengaku mendapatkan keluhan tersebut dari masyarakat saat reses beberapa waktu lalu. Dia mengatakan, keluhan kelangkaan air bersih ini hampir merata disampaikan warga Madura mulai dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, hingga Sumenep.
Sebagai upaya tindak lanjut keluhan warga, Abdul Halim akan melakukan koordinasi dengan pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk mencari solusi jangka panjang. Menurutnya, salah satu yang harus dilakukan adalah pembuatan sumur bor, pasalnya sumur biasa yang selama ini menjadi andalan warga untuk mendapat air bersih sudah kering.
“Kekeringan yang terjadi di wilayah Madura, disebabkan sumber mata air atau sumur yang selama ini menjadi andalan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air bersih banyak yang mengalami kekeringan. Kondisi tersebut sudah berlangsung beberapa tahun terakhir karena pengaruh perubahan iklim dan lingkungan,” tandasnya.
Untuk itu, dia berharap pemerintah mau menggandeng perguruan tinggi untuk menggunakan metode geolistrik. Dia meyakini, metode ini akan mampu menemukan titik sumber air baru yang lebih akurat untuk kemudian dilakukan pengeboran.
Tekait dengan masalah ini, sebenarnya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur telah menggandeng Laboratorium Fisika Bumi Instititut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya khususnya penerapan teknologi geolistrik untuk menemukan sumber air.
Plt Kalaksa BPBD Jatim, Yanuar Rachmadi mengatakan, kerjasama tersebut sudah dilakukan sejak awal Oktober lalu. Bahkan, tim dari BPBD dan ITS telah melakukan survey di 100 titik pengukuran yang tersebar di 10 daerah, di Jatim yaitu Tuban, Lamongan, Bojonegoro, Gresik, Ngawi, Pacitan, serta empat kabupaten di Pulau Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep).
“Langkah ini, menjadi upaya kesiapsiagaan terhadap bencana kekeringan yang selalu terjadi setiap tahun di daerah rawan kekeringan,” kata Yanuar Rachmadi. (ufi)