
CIREBON (Lenteratoday) – Perhatian kekerasan perempuan menjadi perhatian DPRD Kota Cirebon. Mereka menilai pemberdayaan dibutuhkan, kekerasan muncul karena adanya faktor ekonomi.
Ketua Komisi III DPRD Kota Cirebon, Tresnawaty mengatakan, sektor pemberdayaan ekonomi perempuan menjadi hal krusial yang layak diupayakan saat ini, khususnya kala pandemi belum usai. "Para perempuan korban kekerasan saat ini paling membutuhkan penanganan dan pendampingan, kami mensinyalir rata-rata kekerasan muncul karena faktor ekonomi," katanya.
Di Cirebon sendiri, saat ini telah terbentuk Women's March Cirebon. Di antara mereka terdapat anak-anak muda yang turut merespon isu-isu kekerasan perempuan di Kota Cirebon. Pihaknya sendiri mengapresiasi geliat aktivisme anak mudah untuk menyikapi isu kekerasan perempuan hingga keadilan gender.
Women's March Cirebon sendiri berencana menggelar kegiatan peringatan hari Anti kekerasan terhadap perempuan awal Desember mendatang. Namun, Tresnawaty mengingatkan, pandemi telah melahirkan situasi di mana kerumunan dilarang. Karena itu, pihaknya mendorong mereka untuk menggerakkan sektor pemberdayaan ekonomi perempuan.
"Bukannya mengecilkan aksi dan orasi, tapi di masa pandemi tidak boleh berkumpul orang banyak," ujarnya.
Salah satu perempuan di Kota Cirebon, Fany Krisna memandang, kekerasan terhadap perempuan dapat dihentikan bila perempuan memiliki energi/daya pada sektoe-sektor kehidupan, salah satunya ekonomi. Kemampuan perempuan untuk berdaya secara ekonomi menjadi dasar atau bekal untuk memiliki kekuatan di segala lini.
"Perempuan harus berdaya, di antaranya harus memiliki skill yang membuatnya berdaya secara ekonomi," ujarnya.
Kemampuannya pada sektor ekonomi dinilai akan membuat perempuan dapat mandiri dan tak tergantung pada siapapun. Bila perempuan dapat mandiri, dia meyakini, perempuan dapat menghindarkan diri dari bentuk-bentuk kekerasan.(ST1)