
Oleh: Istidha Nur Amanah (Jurnalis LenteraToday)
PANDEMI Covid-19 sudah menghantui Indonesia selama kurang lebih 9 bulan. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pun lunas dilakukan selama satu semester. Seperti diketahui, meski ada wabah, tahun ajaran baru 2020/2021 tetap dimulai pada 13 Juli 2020 lalu. Sejak itu, siswa dan guru mau tidak mau harus melakukan kegiatan belajar dari rumah masing-masing via daring (online).
Zoom dan Google Class pun menjadi andalan. Pekerjaan rumah bisa dikerjakan sambil rebahan ditemani cemilan. Di akhir tahun ini para orangtua mulai ‘ketar-ketir’ karena pemerintah mensinyalkan sekolah tatap muka akan kembali diselenggarakan.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Makarim memutuskan sekolah tatap muka bias kembali dilaksanakan Januari 2021. Dalam Rakornas Pembukaan Sekolah Pada Masa Pandemi Covid-19 yang diselenggarakan KPAI (30/11/2020), Nadiem mengungkapkan pembelajaran jarak jauh memang menjadi upaya pencegahan penyebaran Covid-19, tetapi dampak negatif yang ditimbulkan harus tetap diperhatikan.
Hasil evaluasi pembelajaran jarak jauh menunjukkan anak berisiko mengalami gangguan tumbuh kembang. Banyak anak mengalami tekanan psikologis sehingga mempengarui perkembangan kognitif maupun karakter.
Angka putus sekolah pun terancam meningkat. Tak sedikit anak yang dilibatkan bekerja demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Apalagi selama Covid-19 hampir semua sektor terdampak.
Tentu saja sekolah tatap muka tak bisa dilakukan serentak. Pelaksanaan bergantung pada kesiapan sekolah, persetujuan dari pemerintah setempat, dan tentunya izin dari orang tua / wali murid. Zona tiap daerah tak lagi jadi patokan utama.
Sekolah dianggap siap menyelenggarakan pembelajaran tatap muka jika memiliki fasilitas kesehatan dan sanitasi yang memadai. Jarak antar bangku minimal 1,5 meter, dengan jumlah maksimal 18 orang atau 50% dari total keseluruhan siswa di setiap kelas.
Jam belajar pun dipersingkat, ekstrakurikuler dan kegiatan luar kelas ditiadakan. Saat istirahat siswa hanya boleh makan makanan dari rumah. Soal transportasi, siswa wajib dijemput ketika sekolah usai agar tidak bermain sepulang sekolah.
Tentu saja kebijakan ini mendapat respon beragam dari guru dan orangtua. Di satu sisi, pembelajaran tatap muka mempermudah guru menyampaikan materi pelajaran. Penanaman nilai-nilai karakter pun lebih mudah jika guru dan murid bertemu langsung. Akan tetapi, guru juga harus mempersiapkan materi untuk siswa yang belajar daring. Bisa dibilang, guru harus ‘kerja dua kali’.
Di sisi lain, orangtua yang merasa anaknya sudah bosan belajar daring sangat mendukung kebijakan ini. Kelas online diikuti hanya untuk menggugurkan kewajiban. Tugas sekolah pun tak lagi dikerjakan. Belum lagi biaya kuota internet harian yang cukup menguras kantong.
Meski begitu, ancaman penyebaran Covid-19 membuat beberapa orangtua tetap memilih belajar daring. Dikhawatirkan apabila kembali ke sekolah anak sulit menerapkan protokol kesehatan dan saling menularkan satu sama lain. Apalagi akhir-akhir ini angka Covid-19 di Indonesia kembali naik.
Per tanggal 02 Desember 2020 kasus covid-19 di Indonesia sebanyak 549.508 positif, 17.199 kematian, dan 73.429 dirawat. Martadi, Ketua Bidang Pengembangan Profesi Pendidik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengingatkan pemerintah daerah untuk tidak terburu-buru memutuskan pembelajaran tatap muka. Tren perkembangan penyebaran covid-19 harus terus dipantau.
Pemerintah Indonesia memang sedang menyiapkan vaksin dengan harga terjangkau untuk beberapa kelompok sasaran utama, termasuk tenaga pendidik sebanyak 4,3 juta orang. Sayangnya kepastian vaksinasi belum menemukan titik temu. Terbaru, PT Bio Farma mengumumkan vaksinasi covid-19 di Indonesia bisa dilakukan setelah mendapat izin penggunaan darurat dari BPOM, yakni awal Februari 2021.
Kemendikbud juga menyiapkan Bantuan Subsidi Upah (BSU) untuk Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) non PNS. Bantuan senilai Rp 3,66 triliun diberikan kepada 2.034.732 orang terdiri dari 162.277 dosen PTN dan PTS, 1.634.832 guru dan pendidik pada satuan pendidikan negeri dan swasta, 237.623 tenaga perpustakaan, tenaga umum, dan tenaga administrasi. Bantuan diberikan sebanyak 1 kali sebesar Rp1.800.000.
Berbagai upaya telah dilakukan, tapi masih banyak pekerjaan rumah menanti. Langkah-langkah antisipatif wajib dipersiapkan agar penyebaran covid-19 pada anak tidak meningkat. Dicky Budiman, Epidemiolog dari Universitas Griffith, mengungkapkan hingga kini kasus covid-19 yang menimpa anak mencapai 11 persen.
Sosialisasi 3T kepada tenaga pendidik dan orangtua juga perlu digencarkan. 3T terdiri dari pemeriksaan dini (testing), pelacakan (tracing), dan perawatan (treatment) bertujuan agar pemeriksaan dapat dilakukan lebih awal, sehingga perawatan lebih cepat, dan potensi penularan dapat dicegah. Komisioner KPAI, Retno Listyarti, menyarankan tes swab kepada seluruh tenaga pendidik dan pelajar wajib dilakukan secara besar-besaran jika pembelajaran tatap muka kembali dilaksanakan. Jika ada bukti terinfeksi, sekolah harus siap ditutup.
Mengingat persiapan menuju pembelajaran tatap muka di tahun 2021 terbilang singkat, tentu kita berharap hal ini tak menyurutkan semangat tenaga pendidik dan seluruh pihak terkait untuk merumuskan formula terbaik bagi pendidikan Indonesia.(*)