
Jakarta - Sex education sudah seharusnya diberikan kepada anak-anak yang sudah beranjak dewasa atau remaja, baik melalui pendidikan formal maupun informal. Hal Ini penting untuk mencegah biasnya sex education, dan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi di kalangan remaja, serta orang tua memiliki peran penting dalam memberikan edukasi seks sejak dini bagi anak-anak.
Dari riset yang dilakukan oleh Durex Indonesia tahun 2019 soal Kesehatan Reproduksi dan Seksual, 500 61 persen anak muda merasa takut dihakimi oleh orang tua mereka ketika mereka ingin bertanya tentang edukasi seksual. Padahal orang tua memegang kunci penting dalam hal ini.
"Ujung-ujungnya pasti orang tua yang harus mengajarkan tentang sex education, yang paling penting bagaimana mengedukasikan kepada anak, biar anak tuh tahu kalau diumur 20 Tahun itu banyak masalah resiko kesehatan," ujar dr Wiendra Waworuntu, M.Kes, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Kamis (18/07/2019).
Pendidikan seks merupakan upaya pengajaran, penyadaran, dan pemberian informasi tentang masalah seksual. Informasi yang diberikan di antaranya pengetahuan tentang fungsi organ reproduksi dengan menanamkan moral, etika, komitmen, dan agama agar tidak terjadi 'penyalahgunaan' organ reproduksi tersebut.
Itu sebabnya, pendidikan seks dapat dikatakan sebagai cikal bakal pendidikan kehidupan berkeluarga yang memiliki makna sangat penting. Dalam kesempatan yang sama, psikolog klinis dari Klinik Angsamerah, Inez Kristanti, MPsi, Psikolog memaparkan beberapa tahapan sederhana yang bisa dilakukan baik para orang tua maupun calon orang tua memberikan edukasi seks pada anak:
1. Usia 1-2 tahun
Anak dalam rentang usia ini sudah memiliki pemahaman bahasa yang baik. Oleh karena itu lebih baik saat mengajarkan organ tubuh, Inez juga menyarankan untuk tidak melewatkan mengajari bagian organ intim juga.
"Jangan lupa untuk mengenalkan dengan nama sebenarnya. Kan biasanya kita pakai kata kayak 'burung' lah atau bahasa-bahasa daerah yang disamarkan. Sebaiknya sudah diberikan bahasa yang sebenarnya. Ini penis, ini vagina. Dari situ kita mulai menormalisasi pembicaraan seksualitas dengan anak. Nah itu sangat penting, anak waktu kecil udah merasa topik-topik mana sih yang orang tua mau omongin dan ga mau omongin," imbuh Inez.
Misalnya seperti yang dilakukan oleh Dewi (28), seorang ibu dari anak perempuan berusia 3 tahun di Jakarta Selatan. Anaknya mengenal bagian intim lewat lagu yang dikenalkan saat di tempat penitipan anak (TPA).
"Iya anakku pernah dapat lagu di TPA-nya, jadi waktu itu lagi ngajarin soal organ tubuh, termasuk itu (organ intim juga). Ternyata lagunya bagus. Lama-lama hapal dan dia tahu mana bagian yang boleh dan nggak boleh disentuh," ungkapnya kepada detikHealth.
2. Usia 3-5 tahun
Pada usia ini, pengenalan bagian-bagian provasi terhadap organ intim anak sangat penting terutama untuk menghindari pelecehan seksual terhadap anak. Ada bagian-bagian yang tidak boleh disentuh selain oleh orang tua, misalnya.
Ketika anak pada usia 1-2 tahun sudah memahami organ intim dan nama sebenarnya, pada usia ini menjelaskan soal fungsi organ intim juga sama pentingnya, tegas Inez.
Jika anak-anak terlihat memegang bagian intim, Inez menyebut hal tersebut adalah hal normal dan bukanlah indikasi anak akan menjadi porno dan sebagainya. Peran orang tua sebagai pembimbing juga penting pada situasi ini.
3. Usia 5-8 tahun
Anak-anak usia ini sudah mulai bersosialisasi dengan teman sebaya dan sudah mengenal perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Orang tua kemudian bisa mengajarkan apa peran gender, bagaimana menjadi laki-laki dan bagaimana menjadi perempuan.
Kemudian juga terkait citra tubuh, bagaimana kita menghargai dan mencintai diri sendiri.
4. Usia 8-12 tahun
Merupakan usia menjelang pubertas, maka sangat penting bagi orang tua untuk menjelaskan soal pubertas dan perubahan-perubahan apa yang akan dialami sang anak. Dan memang pembicaraan ini akan lebih baik jika diberikan oleh orang tua yang memiliki jenis kelamin yang sama dengan sang anak, tutur Inez.
"Tapi tak menutup kemungkinan (gender) yang lain juga terlibat. Tapi memang prefer message atau pesan utamannya dari jenis kelamin yang sama. Tapi tidak semua keluarga kan ideal ya, ada ayah dan ada ibu," katanya.
Kemungkinan pada usia ini mereka juga sudah aktif secara seksual (bukan penetrasi). Akan lebih baik pula apabila sang anak memiliki ketertarikan atau hasrat seksual pada lawan jenis dapat diutarakan pada orang tua.
5. Usia remaja
Usia remaja di atas 12 tahun sangat penting, Inez tetap mengingatkan pentingnya memberi informasi dua arah. Peran orang tua paling krusial adalah menjadi teman bagi anak, dan jika sudah dibina dan menjadi sumber informasi yang kredibel soal edukasi seks, diharapkan tidak ada lagi penghakiman pada sang anak.
"Anak remaja itu kan paling mental kalau dihakimin. 'Kamu nggak boleh ini, kenapa kamu akses ini, kenapa kamu pergi sama dia, kamu sekarang WhatsApp-an sama siapa, tadi telepon siapa'. Jadi hal-hal tersebut dihindari. Kita menjadi teman agar bisa berdiskusi dua arah," pungkasnya.