03 April 2025

Get In Touch

DOKTRIN DISIPLIN

DOKTRIN DISIPLIN

MENYAPA bulan puasa Ramadhan setiap tahunnya, Alhamdulillaah saya sekeluarga bersyukur bahagia dan berusaha sekuat daya melaksanakan peramalan dengan antusias ikhlas tuntas. Bagi kami, masa tiga puluh hari ini adalah tarbiyah pembinaan doktrin dan muhasabah peningkatan disiplin.

Sebagai pembuktian pengakuan syahadat kepada Rasulullaah Muhammad, saya sekeluarga percaya, puasa selama satu bulan selain bermanfaat sehat jasad ruhiyat, juga punya dimensi seni pedagogi, terutama pola pengasuhan pembelajaran sekeluarga. Hal itu bisa dilakukan lewat penyadaran, pendoktrinan, pelatihan, pembiasaan, dan pendisiplinan. Apa saja uraiannya ?

Disiplin Saat, puasa Ramadhan mengajarkan pengalaman saya sekeluarga untuk selalu mendisiplinkan waktu. Diawali dari hari pertama diumumkan puasa, segera kami meniatkan. Lalu pada waktu berbuka, 30 menit sebelum waktunya, biasa semua sudah berwudlu siap tanggap dan nadzoman menunggu adzan.

Sebagai pembentukan karakter muslim, doktrin pemanfaatan waktu sangat ketat melekat dipraktik-ajarkan dalam keluarga saya. Tarawih dinihari jam 2 pagi, lanjut sahur bersama 30 menit setelahnya. Tadarus 1 juz hingga fajar tiba. Sholat 2 rakaat dan kemudian menunggu adzan. Setelah fardlu subuh berjamaah, ikut kajian tafsir Al Quran hingga jam enam. Istirahat sesaat dan mandi pagi, lalu ditunggu jam 7 sholat duha bersama santri asrama.

Kegiatan berkelanjutan hingga nanti jam 10 malam. Begitu selalu mengulangi giat tiap hari. Terasa capeknya bagi kita yang tidak terbiasa. Namun Alhamdulillaah bagi keluarga bertradisi santri, godaan rasa lelah akan kalah oleh doktrin yang tertoreh yakin. No pain no gain, no gain without discipline, and time would never back again.

Saking begitu penting disiplin saat ini, sebagai materi pembinaan doktrin keyakinan, Al Quran yang diturunkan pada bulan Ramadhan pun sampai perlu menandai jadwal waktu-waktu dalam nama kode suratnya. Ada surat ad Duha (duha), al Ashr (ashar), al Lail (malam), al Fajr (fajar). Maka sebagai terapan amalan dari inspirasi kode pesan surat-surat ini, disiplin saat atau waktu adalah praktik terbaik yang mesti kami ikthiari. Ramadhan puasa, latihan pembinaannya.

Disiplin Giat. Memasuki bulan suci begini, tambahan giat santri dan keluarga kian padat saja. Selain kegiatan rutin yang sudah berjalan disiplin, biasanya ada tugas extra untuk santri dan keluarga. Terutama peramalan berpahala kelipatan, seperti sedekahan dan ngaji tadarusan. Selain kegiatan tambahan yang wajib disyaratkan untuk mendapatkan perijinan liburan.

Tantangan berkedisiplinan padat giat di bulan suci Ramadhan begini adalah melawan bosan dan kelelahan badan pikiran. Tapi sugesti para pengasuh pembina, bila di keluarga ada orang tua, membuat semangat bertambah bertumbuh bergairah.

Saya sendiri selalu mendoktrin keluarga bahwa puasa kali ini adalah Ramadhan terakhir, belum tentu tahun depan bertemu lagi Ramadhan. Jadi jangan disia-siakan. Mumpung semua peramalan berbonus pahala berkelipatan plus ampunan keridhoan Tuhan.

Bagi anak-anak saya, disiplin giat Ramadhan ini merupakan pembelajaran lanjutan moral survival sekalian detoks digital. Biasanya boring akibat lama daring, tugas sekolahan atau aktifitas mainan, kini bisa diterapi. Silaturahmi mendengarkan cerita santri kasepuhan, bikin mainan tradisional bermuatan lokal, nguber iwak muter tambak, dan memperkaya literasi beragama lewat kisah sirah nabawiyah.

Kegiatan itu dikemas rekreatif semenarik mungkin supaya anak-anak dibiasakan berlatih cerdas produktif asyik disiplin. Misalnya di sela tadarus one day one juz, saya ajak anak-anak membaca al iklil, kitab tafsir Bahasa Jawa karangan Kyai Misbach Bangilan, Tuban.

Plus dari ngaji tafsir Jawi yang kaya cerita heroic epic versi Al Quran ini, anak-anak saya bisa belajar berdongeng bersama tentang lelaku tokoh yang perlu dicontoh –alih-alih mengidolakan pahlawan rekaan dalam game online full adegan kekerasan atau kecanduan tontonan karakter yutuber yang produksi obral vanity individual + mimpi hayal.

Disiplin Tempat. Ramadhan bagi saya sekeluarga bisa jadi pembiasaan praktik terbaik disiplin memilih tempat yang tepat untuk tarbiyah dan ibadah. Dua tempat itu adalah lingkungan rumah dan lingkungan masjid. Rumah sebagai pusat tarbiyah berdekatan dengan masjid sebagai tempat munajat dan ibadah.

Keluarga bisa beraktifitas di mana saja sesuai tugas pokok pekerjaannya. Namun sejauh-jauhnya kemana dan sesibuk-sibuknya agenda, haruslah senantiasa membawa spirit masjid dan pulang ke rumah untuk sambang dzurriyah. Keluarga dan anak-anak dibiasakan bertumbuh kembang melalui toolkit tarbiyah masjid dan rumah.

Terma keluarga sakinah mawaddah wa rahmah diejawantah lewat giat bervisi akhirat serta membawa manfaat dunia. Masjid adalah rumah ibadah dan rumah bisa dikondisikan berspirit masjid. Ramadhan begini, anak-anak usai bersekolah dan main, akan banyak diajak beraktifitas di dua tempat ini.

Sholat, ngaji, tadarus, les, pun bila mungkin main, di rumah. Latihan praktik sedekah memberi kecintaan yang dimiliki, dapat ditasarufkan ke masjid. Seperti yang dulu diteladani Abi dan Umi, setiap sebelum berbuka puasa dan sahur bersama, kami diutus memberikan makanan minuman dari sebagian jatah kami untuk para penerima di lingkungan masjid; para lansia, anak-anak duafa, keluarga berkebutuhan khusus, fakir miskin, yatim, pengampu ilmu, pejalan safar.

Anak-anak pun menjadi terbiasa, jika ke masjid tempatnya di mana. Mereka bisa tertib berperilaku kedisiplinan supaya tidak mengganggu kegiatan. Contoh praktiknya, ke masjid berangkat dengan niat sholat fardlu atau sunat sehingga tidak membawa mainan dan bikin kegaduhan. Masuk ke masjid sholat tahiyyatul masjid atau sesaat sebelum iqomat, auto sholat rawatib qobliyah dua rakaat.
Disiplin alat. Untuk yang satu ini, soal kedisiplinan yang sering mesti diperbaiki. Terutama anak-anak yang terkadang karena padat giat bulan Ramadhan, kerap sepelemparan menaruh peralatan. Paling sering bakda ngaji pagi, mushaf atau kitab belum sempat mengembalikan ke rak penyimpanan, tertelungkup di tempat ngantukan. Juga alat kelengkapan ke masjid, terutama sandal, yang kerap hilang atau digasap gegara salah lupa menaruh posisisnya.

Saya pastikan semua peralatan pembelajaran harus teridentifikasi milik sendiri, bukan pinjaman, apalagi gasapan. Ada sanksi menanti bila alat pembelajaran atau kegiatan ini ternyata bukan miliknya. Sanksi yang diberikan mulai dari pengurangan nilai harian hingga tindakan takzir pendisiplinan.

Ramadhan meski berpuasa, selalu saya latihkan ke anak-anak dan keluarga diajak untuk kian menambahi konsentrasi, terutama menjaga alat-alat perlengkapan aktifitasnya. Sebab sering karena faktor asupan badan yang dibatasi selama sehari, hal ini bisa berpengaruh terhadap tubuh dan berdampak mempengaruhi daya ingat memory.

Secara khusus Abi, Ibu dan Umi memberi resep sehat dalam merawat daya ingat. Yaitu kami dilarang tidur bakda ashar dan seusai subuh. Dua porsi waktu ini adalah saat yang tepat untuk merencanakan aktifitas pekerjaan, menyiap-rapikan perkakas peralatan, melaksanakan tugas pembelajaran dan memfokuskan doa permintaan.

Disiplin alat sepertinya perkara biasa. Namun bagi saya, itu adalah perihal vital. Meski kecil tapi prinsipil.

Disiplin umat. Mumpung Ramadhan --yang menurut keyakinan—semua raihan kebaikan bakalan diganjar berkelipatan, pas untuk latihan bersama keluarga sedekah sebanyak-banyaknya. Di lingkungan rumah dan masjid kami, selain santri yang diberi layanan full freemium hospitality, ada juga beberapa hewan peliharaan plus tanaman dan pepohonan.

Setiap pagi bakda ngaji, Ibu mengajari kami memberi makan burung dara yang ratusan jumlahnya. Sehari dua kali dengan pakan jagung yang dibeli dari uang sendiri. Setelah burung dara, giliran memberi pakan ikan di tambak. Ikan-ikan ini disediakan khusus untuk tamu yang datang.

Selain “umat” burung dara dan ikan yang disedekahi setiap hari, Ibu pun mengajarkan peduli ke tanaman dan pepohonan. Biasanya bekas minuman suguhan atau lebihan makanan di perdapuran dijadikan kompos racikan untuk rabuk tanaman.

Kata Ibu, “Inilah diantara sedekah yang nanti di hari kiamat bisa mengantarkan syafaat. Setidaknya di dunia, mereka semua akan mendoakan kebaikan untuk kita. Kegiatan ini sekaligus uji bukti bahwa kita punya tanggungjawab melayani umat bukan terbatas hanya manusia saja. Apalagi masa pandemi dan ruwetnya persoalan bangsa sekarang ini, kita berharap doa-doa mereka flora dan fauna yang bisa jadi perantara mengatasi.”

Kepada keluarga, anak-anak terutama, doktrin disiplin pelayanan umat yang diteladankan oleh Ibu, Latihan saya intensifkan pada Ramadhan. Setidaknya dalam 24 jam, sedekah jariyah pelayanan keumatan, mesti memenuhi jadwal minimum tiga kali. Sebelum sahur, sebelum berbuka, dan sebelum tidur, anak-anak praktik mengirimkan makanan kepada mbah-mbah santri lansia di asrama. Juga membelikan makanan yang disuka untuk anak-anak duafa sebaya umurnya.

Hal itu selain membiasakan doktrin terapan ilmu kaidah arroisu khodim-ul ummah, harapan selama Ramadhan semoga kian menambah disiplin praktik uswah sebagai tindak lanjut tarbiyah.

Kelima praktik disiplin tersebut adalah diantara berkah kehadiran bulan Ramadhan yang saya rasakan bersama keluarga. Mudah-mudahan keluarga pembaca bisa merasakan pula pengalaman yang sama.

Marhaban Ya Ramadhan, bulan kedisiplinan dan perlombaan kebaikan. Semoga niat puasa serta amalan kebaikan kita diterima Allah SWT dan menjadi syaafaat sekeluarga di akhirat dan dunia. Aamiin bi idznillahi nasta’iin. Bismillaah bi ayyaamillaah.(*)

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lentera Today.
Lentera Today.