03 April 2025

Get In Touch

Literasi Laduni

Literasi Laduni

IBU Guru Hj. Masyrifah, ibu saya, menceritakan kisah pengalaman sekolah. Era 50-an Orla, beliau kepingin masuk di madrasah, namun belum diijinkan ayah. Beliau pun akhirnya menempuh rihlah pembelajaran mandiri di rumah. Materinya baca tulis aksara Jawa, Arab Pegon, latin dan dirosah Islamiyah

Ibu belajar secara mandiri swadaya di rumah mengakses literasi Alfiyah, Sulam Safinah, Taqrib, Daqaiqul Akhbar, Bidayah, Imriti, Bulughul Maram, Ta’lim muta’alim dan kitab-kitab dasar yang diakrabi poro santri.

Satu hari beliau penasaran sama temannya yang tiap pagi selalu berdandan rapi. Ketika ditanya, si teman ini menjawab mau ke sekolah. Dipicu ingin tahu, ibu saya menyusul teman tersebut ke sekolah. Ternyata si teman ini ikut program PBH (Pemberantasan Buta Huruf).

Ibu yang waktu itu sudah bisa terampil tulis baca, mengintip kegiatan pembelajaran si teman dari luar ruangan. Ketika si teman ini kesulitan menjawab pertanyaan gurunya, Ibu yang mengintip dari luar langsung menjawab pertanyaan tersebut.

Singkat cerita, karena peristiwa itu, ibu disuruh masuk kelas dan diperintah oleh guru tersebut untuk membantu mengajari murid-murid, termasuk si teman tadi.

Kerennya lagi, dalam waktu tiga hari, ibu saya langsung naik kelas akselerasi. Hari pertama dites masuk kelas 1. Hari kedua dites lagi, masuk kelas 2. Hari ketiga dites materi lain, dan atas rekomendasi guru, beliau dimasukkan ke kelas 3 sampai akhirnya lulus cumlaude.

Madrasah ibtidaiyah yang semestinya ditempuh 6 tahun, beliau tamatkan cukup 3 tahun. Saat diijazahi lembaran surat kelulusan, ibu saya berhasil tamat sendirian. Rekan-rekan seangkatan beliau sudah pada mundur semua, karena rata-rata dinikahkan secara dini usia oleh keluarganya.

Cerita inpiratif Ibu Guru Hj. Masyrifah jadi bahan pembekalan motivasi pembelajaran santri, khususnya saya sekeluarga. Dari kisah Umi Masyrifah, saya mendapatkan catatan bahwa “pengetahuan, keahlian, keterampilan, keilmuan, dan pengalaman tidak melulu terbatas didapat pada kelas klasikal atau pola cerdas konvensional”

Kepada kami sekeluarga, putra-putri dan cucunya, Umi Masyrifah banyak menukilkan literasi kisah Al Quran sebagai referensi pembelajaran keteladanan. Terutama diantaranya mengambil sirah nabawiyah dan cerita perjuangan orang shaleh beriman.

Biasanya Umi Masyrifah mengisahkan cerita Rasulullaah Musa, nama Nabi yang juara pertama paling banyak disebutkan Al Quran. Kisah Rasulullaah Musa melewati lintas jaman dan scenario kelas pengalaman penugasan. Diantara pengembaraan keilmuan dan pencarian pengetahuan Rasulullaah Musa ini, ialah kisah inspirasi di dalam Surat al Kahfi.

Rasulullaah Musa yang bergelar Kalaamullaah (perantara kalamNYA) diperintahkan berguru kepada Nabi Khidlir. Ini seperti kursus khusus. Sebab Rasulullah Musa yang berkategori ulul azmi dan pernah bercakap langsung dengan Allah, disuruh tirakatan menempuh perjalanan jauh menjumpai Nabi Khidlir –manusia istimewa tapi profilnya hamba biasa dan tidak dikenal siapa-siapa, terutama oleh Rasulullaah Musa.

Lesson learned dari kisah ini mengilhami kaum santri supaya tidak berhenti belajar riyalat ngelmu, sadar taat berguru, dan kudu sabar tirakat lelaku. Rasulullaah Musa membawa pengalaman keilmuan kepemimpinan ”dipaksa” mengikuti cara belajarnya Nabi Khidlir yang mengalir air. Keduanya bersumber sama; literasi laduni dari ilahi.

Meski di awal perjumpaan, Rasulullaah Musa dan Nabi Khidlir seolah berbeda pandangan, namun akhirnya kedua manusia istimewa ini bertemu satu ilmu. Yaitu praktik terbaik penggabungan dua kutub literasi keilmuan dari Tuhan; ilmu katon dan ngelmu lakon. Bahraini au amdliya huquubaa bersenyawa min ladunna ‘ilmaa

Tak ketinggalan, Umi Masyrifah juga mengisahkan betapa perjuangan Rasulullaah Isa AS yang luar biasa menginspirasi kami semua. Terutama pembelajaran tentang kasih sayang berlebih, keikhlasan nirpamrih, dan pengalaman linuwih pejalan al Masih.

Beberapa cerita yang sering Umi Masyrifah ulang adalah kisah Nabi Dawud AS saat diangkat dan diberikan hikmah kenabian, usianya masuk remaja belia.

Nabi Dawud tidak mendapatkan pelajaran teori atau praktik strategi peperangan dari sekolah keprajuritan. Namun demikian, dengan izin Tuhan, beliau mampu duel satu lawan satu mengalahkan Raja Jalut yang jauh lebih berpengalaman dan menang ukuran badan.

Kisah populer Nabi Dawud yang menang tanding ini menjadi ilham literasi panduan pertempuran para peracik strategi peperangan terkini. Di mana jika terjadi satu pihak kalah jumlah, belum tentu akan kalah oleh lawan yang lebih secara kuantitasnya. Taktik gerilya dan teknik pasukan luar biasa bisa jadi alternatif strategi pemenangannya.

Ibu Masyrifah juga kerap membacakan cerita Ibu Maryam sebagai inspirasi figur teladan peran keibuan. Kepada kami dan para santri, Umi Masyrifah menempatkan Ibu Maryam sebagai lelaku tokoh yang perlu dicontoh; terutama dari segi literasi pembelajaran mandiri, keterampilan pengasuhan, dan ketahanan daya survival orang tua tunggal (single parent).

Kisah lain yang dibacakan Umi Masyrifah untuk dzurriyah, terutama saya sekeluarga, adalah tuladha sempurna Rasulullaah Muhammad SAW. Seperti jamak diimani oleh kita semua, Rasulullaah Muhammad adalah pelopor literasi visual, keilmuan relevan sepanjang jaman dan teknologi kontemporer.

Beliau Rasulullaah mendapatkan keahlian semua itu secara wahyu, given from heaven. Meski dikenal Ummi, tidak pandai baca tulis, tidak pernah sekolah, namun kini pengalaman literasi beliau menjadi rujukan pengetahuan dan sandaran iman milyaran manusia di ruang pembelajaran dunia.

Khusus dalam literasi bahasa, tak henti-henti sampai hari ini saya selalu mengagumi keistimewaan bahasa Al Quran. Saya penyuka sastra dan keilmuan kebahasaan. Al Quran secara sempurna bisa memenuhi rasa suka saya pada dua aspek ilmu literasi itu.

Pembawa risalah literasi Al Quran adalah Rasullaah Muhammad SAW, pribadi yang oleh jahiliyah cendekia Makkah purba, dicap sebagai bodoh dan gila. Walau ternyatakan kemudian, kebahasaan literasi sastra Al Quran bisa mengalahkan budaya pujangga Arab lama yang waktu itu menjamur masyhur.

Kisah yang dibacakan Ibu Masyrifah untuk kami sekeluarga santri dan dzurriyah, semuanya berdasarkan referensi pustaka Al Quran. Kami diajarkan untuk semangat menghimpun pelajaran, mengunduh pengalaman, mempraktikkan ujaran, mengajarkan keteladanan, dari basis literasi praktis keilmuan Al Quran.

Saya sekeluarga kemudian percaya dan membuktikan fakta, bahwa Al Quran memuat keniscayaan sumber segala pengetahuan. Terutama dari inspirasi kisah-kisah dalam sirah nabawiyah, Rasul Nabi dan orang-orang saleh salehah yang diceritakan Ibu Guru Hj. Umi Masyrifah.

Umi Masyrifah ingin memberikan pelajaran kepada kami sekeluarga, bahwa keilmuan dan pengetahuan tidak hanya melulu dari sekolah atau bangku kuliah. Keterampilan profesi atau kecerdasan duniawi datangnya tidak cuma bersumber dari ruang belajar formal dan teori kondang pakar terkenal.

Ada fenomena Rasul, Nabi, Wali, dan orang-orang beriman yang mendapatkan keilmuan, keahlian, pengetahuan, plus kecerdasan dari wangsit langit. Dalam budaya tradisi santri, fenomena demikian dikenali sebagai ilmu laduni. Tidak dari hasil belajar biasa dan tidak bersumber dari manusia. Tidak bisa diminta, tidak bisa dipola.

Zona pembelajarannya extra. Paling sering tidak jamak. Sangat berbeda dengan kelaziman pada umumnya. Model alurnya juga tidak bisa ditebak. Sebab sumber sanad keilmuannya langsung didapat dari Allah Azza wa Jalla.

Dari sumber pembelajaran berbasis literasi wahyu ilahi ini kemudian kita diperkenalkan karya spiritual dan pustaka monumental; literasi kitab suci. Yakni Taurat, Injil, Zabur dan disempurnakan dalam kesatuan Al Quran. Di dalamnya terdapat literasi ayat dan bukti mukjizat yang relevan kekinian

Saya sekeluarga terinspirasi gaya pembelajaran literasi seperti ini. Makanya di paruh pertengahan Ramadhan yang tersisa beberapa hari lagi, saya fokus ngaji tadarus takhasus bersama keluarga. Mendalami literasi Al Quran yang berkebenaran sepanjang jaman. Sekalian ini saya niatkan sebagai pemaknaan peringatan Nuzulul Quran, bulan Ramadhan turunnya Al Quran.

Satu diantara ijazah doa pembelajaran yang saya dapatkan dari Umi Masyrifah ialah doa khataman tadarusan Al Quran. Terdapat kalimat “warzuqnii fahmil-anbiyaa” (beri kami kepahaman para Nabi).

Saya memahami doa ini sebagai pelajaran keilmuan Tuhan yang sangat luas tidak terbatas. Juga ikhtiar belajar mengerti psikologi Nabi ketika menggembala umatNYA; niscaya berwawasan luas, berpikiran cerdas dan berkebijaksanaan ikhlas ketika bertugas.

Satu lagi amalan dari Umi Masyrifah adalah, “buku” yang wajib setiap hari beliau tadarusi adalah mushaf Al Quran. Kapanpun di manapun dan ke manapun beliau beraktifitas tugas, selalu membawa Al Quran dan sambil menunggu dimanfaatkan untuk khataman tadarusan.

Saya percaya amalan Umi Masyrifah yang begitu mencintai, mentadarusi, mengakrabi dan berusaha mengamalkan al Quran itulah penyebab dari kecerdasan beliau saat ini. Terutama cerita beliaunya saat era 50-an yang laduni belajar sendiri, tidak melalui sekolah, kemudian suatu hari datang ke sekolah langsung diminta untuk mengajari siswa yang sudah sekolah.

Saliman Literasi Keilahian. Ahlan wa Sahlan Nuzulul Quran

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lentera Today.
Lentera Today.