03 April 2025

Get In Touch

Virus Corona Sekarang adalah Bentuk Baru, Ini Sejarahnya

Virus Corona Sekarang adalah Bentuk Baru, Ini Sejarahnya

Surabaya - Selama beberapa pekan terakhir, dunia dihebohkan oleh wabah yang merebak ke berbagai negara dan merengut banyak korban jiwa. Penyebaran wabah ini, diduga bermula dari serangkaian kasus pneumonia yang tidak diketahui penyebabnya, di kawasan Wuhan, Provinsi Hubei, China, pada Desember 2019.

Sejumlah pakar berpendapat bahwa wabah itu disebabkan karenavirus corona jenis baru. Jika diamati dalam mikroskop, virus Corona memilikikarakteristik seperti mahkota yang ditandai dengan spike protein atau protein Sdi sekeliling permukaan virus. Jenis protein itulah yang berperan sebagaireseptor serta mempengaruhi proses infeksi pada manusia.

Menurut sejarahnya, virus corona pertama kali diidentifikasisebagai penyebab flu biasa pada tahun 1960. Sampai tahun 2002, virus itu belumdianggap fatal. Tetapi, pasca adanya Severe Acute Respiratory Syndrome(SARS-Cov) di China, para pakar mulai berfokus pada penyebab dan menemukanhasil apabila wabah ini diakibatkan oleh bentuk baru corona.

Kemudian, pada tahun 2012 juga terjadi wabah yang miripyakni Middle East Respiratory Syndrome (MERS-Cov) di Timur Tengah. Dari kedua peristiwaitu, diketahui bahwa corona bukan virus yang stabil serta mampu berdaptasimenjadi lebih ganas, bahkan dapat mengakibatkan kematian. Sejak itulah,penelitian terhadap corona semakin berkembang.

Munculnya Jenis Baru Corona: Novel Corona Virus (2019-ncov)

Mengamati penyebaran virus yang kembali terjadi, Wakil DekanIII Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga, Prof. Dr. Soewarno,drh., M.Si., angkat bicara. Dia berpendapat bahwa virus corona jenis baru atauNovel Corona Virus (2019-ncov) yang sekarang sedang berkembang, bukan merupakansebuah hal baru, melainkan hasil dari mutasi. Virus itu serupa dengan coronayang menjadi penyebab SARS-Cov dan MERS-Cov.

“Virus corona sudah ditemukan sejak lama, baik pada manusiamaupun hewan. Sebagai contoh, unggas, kalkun, babi, tikus, kucing, dan anjingyang masing-masing ada sendiri. Begitu juga manusia. Sementara ini, terdapattujuh jenis virus corona yang ditemukan sejak tahun 1960 hingga tahun 2019kemarin dengan nama Novel Corona Virus,” urainya.

Virus corona terbagi menjadi empat jenis genus, yakni alphacoronavirus, beta corona virus, gamma coronavirus, serta delta coronavirus.Namun, virus corona yang seringkali menyerang manusia hanya berasal dari genusalpha dan genus beta (paling berbahaya). Sementara virus corona yang menyeranghewan adalah genus delta serta genus gamma.

Tujuh jenis virus corona yang menulari manusia adalahHCoV-229E (alpha coronavirus), HCoV-NL63 (alpha coronavirus), HCoV-OC43 (betacoronavirus), serta HCoV-HKU1 (beta coronavirus). Tiga lainnya merupakan genusbeta yang bisa menginfeksi hewan sekaligus manusia pasca berevolusi dalam bentukbaru, yakni SARS-Cov, MERS-Cov, dan 2019-ncov.

“Secara struktur, ketiga virus corona jenis baru itu,memiliki persamaan dari segi struktur maupun morfologi. Tetapi berbeda secaragenetik dan host. Selain itu, karena mampu menginfeksi manusia, maka virus inidikategorikan sebagai zoonosis,” ujar Prof. Soewarno.

Virus corona juga mempunyai sejumlah karakteristik. Yakni,bersifat Single-stranded RNA sehingga mudah untuk mengalami mutasi.Selanjutnya, terdapat empat macam protein yang berperan penting di dalamnya,antara lain protein spike, protein matrix, protein envelope, dan nucleoprotein.Dari keempatnya, protein spike merupakan jenis yang paling sering melakukanmutasi karena memiliki peran sebagai reseptor yang menempel di host.

“Kalau dulu, virus corona ini tergolong host-spesific.Artinya, hanya bisa menginfeksi antar binatang atau antar manusia saja. Tetapidengan adanya proses mutasi, memungkinkan untuk menginfeksi makhluk hidup lain.Selain itu, korona juga bisa mengalami perubahan yang dipengaruhi olehlingkungan, host, waktu, serta perubahan sifat RNA-nya,” jelasnya.

Penyebaran Novel Corona Virus dan Upaya Penanganannya

Menurut sejumlah pemberitaan yang beredar, penyebaran2019-ncov, diduga memiliki keterkaitan dengan aktivitas sejumlah masyarakatdalam mengonsumsi satwa liar seperti tikus, kelelawar, curut, karnivora, danprimata. Meskipun masih terdapat polemik mengenai perihal penyebab pasti dari2019-ncov, baik pakar maupun otoritas kesehatan terus bergerak untuk melakukanpenelitian lanjutan maupun penanganan terkait virus ini. 

“Berbeda dengan virus corona yang beredar sebelumnya, dimanaSARS-Cov berasal dari kelelawar, sementara MERS-Cov ditularkan oleh unta.Sejauh ini, diperoleh kesimpulan apabila 2019-ncov, mengalami mutasi padakelelawar, lalu berlanjut ke ular, dan berakhir masuk ke manusia. Karena itu,masyarakat disarankan untuk menghindari konsumsi satwa liar,” ungkap Ketua IPengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) itu.

Ia memberikan contoh pada hewan kelelawar. Menurut Prof.Soewarno, terdapat tiga jenis kelelawar, yakni kelelawar pemakan serangga,kelelawar penghisap darah, dan kelelawar pemakan buah. Ketiga jenis kelelawartersebut sama-sama bertindak sebagai vektor virus atau perantara penyakitsehingga tak disarankan untuk dikonsumsi manusia.

“Selain itu, kelelawar juga dapat membawa virus daribeberapa jenis, seperti halnya lyssavirus, coronavirus, adenivirus, danparamyxovirus, yang ditularkan melalui gigitan atau air liur. Jika hal ituterjadi, maka akan berbahaya bagi manusia,” kata Prof. Soewarno.

Tidak hanya menyebar melalui satwa liar, 2019-ncov jugamenginfeksi antar manusia melalui batuk maupun bersin. Oleh karena itu,hendaknya masyarakat ikut mencegah penyebaran virus dengan menjaga imunitas,menjaga lingkungan, menggunakan masker saat berada di ruang terbuka, mengolahmakanan dengan tepat, dan segera ke dokter apabila mengalami gejala sepertisakit tenggorokan, flu, batuk, demam, atau sesak nafas.

“Masyarakat harus waspada karena gejala 2019-ncov dapatmuncul hanya dalam satu atau selama empat belas hari setelah terpapar virus.Hal ini didasarkan pada apa yang telah diamati pada penyebaran virus sebelumnyasebagai masa inkubasi MERS-Cov. Hingga saat ini masih belum ditemukan treatmentyang spesifik selain isolasi,” bebernya.

Guru besar Virologi dan Imunologi FKH UNAIR itu turutmenghimbau tenaga kesehatan untuk waspada karena memiliki risiko tertular lebihbesar. Yakni, menghindari kontak jarak dekat dengan penderita Infeksi SaluranPernapasan Akut (ISPA), menggunakan alat pelindung diri (APD), sering mencucitangan setelah melakukan kontak bersama lingkungan orang sakit, danmengingatkan mengenai etika batuk kepada pasien ISPA. (ist)

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.