04 April 2025

Get In Touch

Gitangan, Desa Anyaman Bambu yang Go Internasional

Gitangan, Desa Anyaman Bambu yang Go Internasional

Menganyam bambu adalah salah satu keahlian turun menurun bagi warga DesaGintangan, Rogojampi, Banyuwangi. Tak hanya melestarikan budaya, di tangan yangtepat warisan leluhur inipun mampu menjadi katalis perekonomian.

Desa Gintangan, Rogojampimerupakan pusat anyaman bambu di Banyuwangi, bahkan Jawa Timur. Terdapatsetidaknya 60 orang perajin dengan kapasitas produksi rata-rata 400 buah produktiap bulannya. Rata-rata para perajin dibantu oleh 6- 15 karyawan.

Melihat besarnya potensikerajinan bambu di desa tersebut, Kabpaten Banyuwangi bahkan menggelar acarakhusus bertajuk Festival Bambu Gintangan. Dalam acara ini seluruh wargaGintangan menampilkan keahlian dan karyanya dengan bahan dasar anyaman bambu.

Selain sebagai salah satupenguatan ikon bambu di Gintangan, festival tersebut diharapkan bisa menanrikbuyer dari dalam maupun luar negeri.

Walhasil, saat pengunjungmemasuki desa ini, hampir disebagian besar rumah terdapat kegiatan menganyambamboo menjadi berbagai produk kerajinan. “Sejak nenak moyang kami warga sinimemang pandai membuat anyaman bambu dan menyulapnya menjadi produk berkulitasmengikuti tren pasar,” ujar Bayu Wily Pratama, pemilik salah satu produk bamboobernama Widya Handicraft ,.

Bayu sendiri merupakan anak mudayang sukses melanjutkan dan mengembangkan usaha keluarganya.Bila sebelumnyasang ayah, Widodo, membuat anyaman bamboo untuk alat-alat dapur saja, kini Bayumelakukan inovasi menjadikan anyaman bambu sebagai bahan dasar berbagaisouvenir kekinian.

“Saat itu, rata-rata masyarakatmembuat alat-alat dapur dari bambu. Dari situ tercetus ide mengembangkankerajinan bambu untuk kerajinan lain, misal keranjang buah dan tempat kue,”tutur tuturnya.

Niatnya mendirikan usaha ini munculkarena kurang optimalnya pemberdayaan potensi-potensi desa di bidang kerajinanbambu. Banyak tenaga-tenaga trampil yang kurang puas dengan besarnya nilai yangdihasilkan dari membuat produk kerajinan bambu. Sistem manajemen yang kurangbaik dari para pengelola usaha lain juga mempengaruhi pertimbangan mendirikanusaha ini. Selain itu metode pemasaran saat itu yang cenderung pasif membuatpasar kerajinan bambu kurang berkembang

Kini ribuan order terus mengalirhingga melibatkan banyak warga desa Gintangan dalam proses produksinya. Berbagaiproduk yang dihasilkan antara lain tudung saji, piring, tempat buah, tempatsayur, tempat makanan ringan/kue, tempat tisu, vas bunga, toples bambu,keranjang, nampan, kursi lipat, lampion, lampu meja, lampu dinding, kipastangan, dompet kecil, baskom, dan sebagainya.

“Ekspor sudah kami lakukanmelalui dropshipper -dropshipper yang ada di berbagai kota. Mulai dari Chinahingga Eropa,” tuturnya.

Saat ini sendiri, WidyaHandicraft  memiliki 15 karyawan yangberada di sanggar mengolah menjadi barang siap jual. Ada juga, beberapa tenagalepas yang bertugas membuat kerangka dan mengambil bahan baku bambu. Selainitu, ada sekitar 300 perajin anyaman bambu yang berada di bawah 3 pengepul.“Rata-rata ibu-ibu yang tugasnya menyetor anyaman. Sampai sanggar kami olahmenjadi berbagai produk sesuai pesanan,” jelasnya.

Para ibu-ibu yang diberdayakan untuk membuat anyaman selain berasal dari Desa Gintangan, juga menyebar di 5 desa yang ada di Kecamatan Kalipuro.

Untuk harga relatif murah,sebanding dengan karya yang dihasilkan. Kerajang buah dan kue dibanderol Rp20.000-Rp 40.000/buah. Sementara untuk lampu hias gantung biasa antara Rp50.000-Rp 200.000/buah. Namun untuk lampu atau ornamen ruangan dengan desainseni yang tinggi harga bisa mencapai Rp 1.000.000/buah. “Harga sesuai bahanbaku dan tingkat kesulitan dalam pembuatan. Seperti kotak cerutu hanya Rp16.000/buah, karena relatif mudah prosesnya. Beda dengan lampu hias denganbentuk unik dan penuh warna, pasti lebih mahal,” katanya.(dya)

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.