04 April 2025

Get In Touch

Enam Inovasi Bidang Kemo dan Biosensor oleh Guru Besar ITS

Enam Inovasi Bidang Kemo dan Biosensor oleh Guru Besar ITS

Surabaya – Dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), ProfDr rer nat Fredy Kurniawan MSi menciptakan berbagai inovasi berbasis kemo danbiosensor mulai dari bidang medis, pertanian, hingga kehalalan.

Ada enam penelitian yang disampaikan dalam orasi ilmiahnya,yaitu indikator titik beku, sensor glukosa, sensor dopamin, sensor sukrosa,sensor gelatin babi, dan juga sensor kepedasan. Guru Besar ITS ke-124 inimenyebutkan sebenarnya masih banyak penelitian lainnya, tetapi yang disebutkanmemang hanya enam penelitian itu saja.

Melalui temuan risetnya, guru besar dalam bidang Kemo danBiosensor yang akan resmi dikukuhkan oleh ITS, Rabu (12/2) mendatang, ini ingindapat membantu manusia dalam bidang deteksi dan analisis pada sebuah objek yangdiaplikasikan pada berbagai bidang.

Dalam orasi ilmiah pengukuhannya, dosen kimia inimenjelaskan bahwa kemo dan biosensor memiliki fungsi untuk mendeteksi analatatau target dengan cara memberikan sinyal. Perbedaan keduanya hanya terletakpada keterlibatan komponen biologi atau tidak. “Jadi fungsinya untukmen-sensing sesuatu, targetnya bergantung pada kasusnya,” imbuhnya.

Pada penelitiannya mengenai indikator titik beku, Fredymengatakan bahwa tujuan utamanya adalah untuk mengatasi masalah penyimpananvaksin polio. Vaksin polio harus tersimpan pada temperatur antara 0–10°C. Diluar temperatur tersebut, maka vaksin polio akan rusak.

Tak heran apabila penyakit polio di suatu daerah masih sajaditemukan meskipun telah ada program penyuntikan vaksin polio. “Vaksin dapatrusak ketika terjadi proses pemindahan, dan kerusakan itu tidak dapat dilihatdengan mata telanjang,” papar lelaki asal Blora, Jawa Tengah tersebut.

Melihat hal tersebut, Kepala Departemen Kimia ITS inimembuat indikator yang dilekatkan pada vaksin saat penyimpanan. “Vaksin yangbelum rusak akan berwarna merah, jika sudah mengalami perubahan suhu warnamerahnya akan menghilang yang menandakan vaksin sudah rusak,” jelasnya.Menurutnya, penelitian ini memang sederhana, tetapi sangat bermanfaat.

Penelitian selanjutnya adalah sensor glukosa. Fredymengatakan bahwa jika sensor glukosa pada umumnya menggunakan enzim. Akantetapi kali ini berbeda, dosen kelahiran 28 April 1974 ini berhasil membuatsensor menggunakan material aktif berupa emas nanopartikel untuk mendeteksiglukosa. “Sensor dapat digunakan berulang kali dan dapat dibersihkan pada kondisiyang berat,” paparnya.

Selain itu, Fredy juga mengungkapkan ada penelitian tentangsensor dopamin. Menurut Fredy, mengetahui kadar dopamin sangat penting, karenakekurangan dopamin dapat menyebabkan kekacauan otak seperti parkinson atauskizofrenia. Dopamin sendiri merupakan kelompok hormon katekolamin yangmempunyai fungsi penting pada saraf pusat, renal, dan hormonal, dan sistemkardiovaskular. “Dopamin ini senyawa penting karena berfungsi untuk rasabahagia dan positif, untuk mendeteksi tinggi rendahnya bisa melalui darahmaupun urin,” terang Fredy.

Tak hanya di bidang medis, Fredy juga berhasil ciptakansensor sukrosa yang ditujukan untuk bidang pertanian. Sukrosa dapat kita temuisehari-hari, seperti gula di dapur yang biasanya terbuat dari tebu. Dalamproses pembuatannya, untuk tebu sampai ke pabrik harus diukur dan dihitungterlebih dahulu kandungan sukrosa di dalamnya. Karena petani tidak dapatmengukur kadar sukrosa, mengakibatkan harga gula selalu ditetapkan oleh pabrik.

“Saat itu saya berpikir bagaimana caranya kita punya sensoryang mudah digunakan oleh petani, jadi mereka tidak akan mudah dibohongi,” kataFredy. Ia bersama timnya telah membuat sebuah biosensor untuk sukrosa denganmelibatkan enzim invertase. “Dengan hanya meneteskan sampel tebu pada ujungsensor, kandungan sukrosanya akan langsung terukur,” tuturnya.

Tak hanya itu, Fredy juga berhasil temukan alat pendeteksigelatin babi, yang mana saat ini gelatin babi banyak beredar di masyarakat.“Pembacaan dengan alat yang kami buat hanya dengan melihat pergeseranfrekuensi, di mana frekuensi yang positif atau naik mengindikasikan adanyamateri babi pada sampel, dan frekuensi negatif atau urun menunjukkan adanyakandungan materi dari sapi pada sampel,” jelasnya.

Terakhir dalam orasi ilmiahnya, Fredy juga menciptakansensor kepedasan. Ia menjelaskan tingkat kepedasan pada cabai berbeda-beda,sehingga ia pun berinovasi menciptakan sensor untuk mengetahui kadarkepedasannya. “Tim kami telah berhasil membuat sensor kepedasan yang berbasis emastermodifikasi yang mampu menggantikan indera perasa manusia untuk mengukur rasapedas pada cabai,” urai dosen yang mendapat gelar doctor rerum naturalium(Dr.rer.nat.) dari Regensburg University, Jerman ini.

Melalui berbagai inovasinya tersebut, Fredy ingin membuatproduk-produk yang lebih terjangkau di masyarakat dan dapat bermanfaat untukbanyak orang. “Meskipun masyarakat mengenal saya, tetapi saya merasa penelitiansaya belum dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” ungkapnya saat ditemui diDepartemen Kimia ITS.

Di akhir, Fredy menyampaikan bahwa kebahagiaan seorangpeneliti sebenarnya adalah ketika produk penelitian yang mereka hasilkan dapatdirasakan manfaatnya oleh orang lain dan memberikan nilai lebih bagi mereka.(hms/ufi)

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.