
EUFORIA dirasakan sebagian besar warga Jawa dan Bali. Bagai panas setahun disiram hujan sehari. Pembataasan masuk mall dikurangi. Anak-anak diizinkan untuk masuk. Mereka pun berbondong-bondong melapiaskan kerinduan itu.
Sejenak, ingatan dan kewaspadaan terhadap pandemi Covid-19 lekang. Mereka mengedepankan pemenuhan kebutuhan psikis manusia sebagai mahluk sosial. Bergerak kesana-kemari, menghibur diri, serta berinteraksi dengan individu lainnya. Harapan yang sudah dinanti sejak PPKM Darurat diterapkan pada Juli lalu.
Dilihat dari kondisi lalu lintas pun, mulai tampak dipadati kendaraan bermotor. Mal-mal pun mulai bergeliat dikunjungi penduduk. Meskipun ada syarat dan ketentuan dan berlaku untuk bisa masuk ke dalamnya.
Pemerintah pun deg-deg ser. Membuka kran interaksi masyarakat memberi ancaman yang beragam. Waspada tetap ditingkatkan. Risiko pun siap ditanggung.
Beberapa ahli epidemiolog dan Satuan Tugas Penanganan COVID-19 memprediksi gelombang ketiga COVID-19 di Indonesia akan terjadi pada Desember 2021.
Karenanya, Satuan Tugas Penanganan COVID-19 dan para epidemiolog pun mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada agar tak terjadi situasi ketika terjadi puncak gelombang dua COVID-19 pada Juli 2021.
Pasalnya, sejumlah negara mencatat lonjakan kasus di gelombang ketiga COVID-19. Lonjakan kasus Ini dilatarbelakangi oleh berbagai faktor yang berbeda.
Sebut saja negara-negara tetangga yang sedang mengalami gelombang ketiga seperti Singapura, Malaysia, dan Filipina.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Singapura (MOH) per 2 September 2021, melaporkan 180 kasus baru COVID-19. Dari jumlah itu, 177 kasus merupakan kasus transmisi lokal sementara tiga lainnya merupakan kasus impor.
Ini merupakan jumlah tertinggi sejak 21 Juli 2021. Kasus lokal juga mengalahkan data kemarin, 160 infeksi baru.
MOH mengungkap ada 90 kasus yang belum diketahui dari mana asalnya. Pasalnya, kasus itu tidak terkait dengan kluster-kluster yang telah ditemukan di negara pusat keuangan Asia ini.
Kluster COVID-19 terbanyak terkait beberapa pemberhentian bus di Singapura. Antara lain, halte Bugis Junction, Tampines, Boon Lay, Jurong East, Toa Payoh, Bishan, Punggol, Clementi, and Sengkang.
Mengutip Worldometers, total kasus Covid-19 Singapura sejak pandemi tercatat 67.800. Di mana tercatat ada 55 kematian sepanjang COVID-19 menyerang.
Sementara Malaysia juga merupakan negara yang masih dilanda gelombang pandemi yang cukup besar. Selama delapan hari terakhir negeri Jiran itu masih melaporkan jumlah kasus di atas 18 ribu perhari.
Puncaknya terjadi pada 26 Agustus lalu di mana jumlah kasus berada di angka 24.599 dalam satu hari. Mengutip Worldometer Kamis, total kasus aktif hingga pagi ini adalah 267.863, dengan 1.005 kasus serius.
Filipina juga melaporkan kenaikan infeksi yang signifikan. Per 1 September 2021, jumlah kasus total telah mencapai dua juta.
Bahkan pada per 30 Agustus 2021, negara pimpinan Presiden Rodrigo Duterte itu melaporkan rekor penambahan kasus harian sebesar 22.194 dalam 24 jam terakhir.
Hingga saat ini, penambahan masih terjadi di atas level 13 ribu perhari.
Penambahan ini juga menandai penambahan infeksi yang sangat pesat. Dalam bulan Agustus ini saja, Filipina sudah mencatatkan 387.237 kasus baru COVID-19 yang dilaporkan.
Melihat lonjakan kasus yang eksponensial di negara-negara tetangga dengan cakupan vaksinasi dosis pertama yang tinggi, kita tidak boleh semata-mata bergantung pada efek vaksinasi. Jangan berpuas diri dan merasa aman hanya dengan vaksin terutama jika hanya vaksin dosis pertama.
Sebagaimana diketahui, berdasarkan data Kemenkes RI, hingga 19 September 2021, jumlah penerima vaksin COVID-19 dosis pertama di Indonesia mencapai 79.515.356 orang. Sedangkan penerima vaksin Covid-19 dosis kedua sebanyak 45.134.194 jiwa. Target penerima vaksin Covid-19 di Indonesia adalah sebanyak 208.265.720 orang. Artinya, saat ini jumlah pemilik imunitas dari vaksin Covid-19 hanya sekitar 38%.
Sementara cakupan vaksinasi di Singapura sudah mencapai 79,12 persen. Di Singapura, relaksasi kebijakan dilakukan dengan fokus pada penguatan 3T dan cakupan vaksinasi.
Namun, berdasarkan pengamatan Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku menyebut Singapura kurang berfokus pada pencegahan yaitu protokol kesehatan di tempat umum. Akibatnya, muncul klaster baru seperti klaster restoran, tempat makan di bandara, tempat karaoke, mall, hingga terminal bus.
Sekali lagi, pemerintah bersama TNI-Polri, tenaga kesehatan (nakes), seluruh lapisan masyarakat tidak boleh lengah sama sekali meski Indonesia kini sudah merelaksasi beberapa kebijakan. Selain itu juga di sejumlah daerah sudah dikatakan berada pada level 1 berdasarkan assesment situasi COVID-19 dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.
Selain itu, fasilitas layanan kesehatan pun harus bersiap menghadapi kemungkinan gelombang ketiga COVID-19. Upaya persiapan perlu dilakukan karena rumah sakit di negara tetangga Indonesia mengalami kenaikan angka masuknya pasien ke rumah sakit (RS).
Salah satu kunci menuju sukses adalah tidak mengulangi kesalahan yang sama. Begitu juga kunci sukses dalam menghadapi pandemi COVID-19, yakni tidak mengulang kesalahan yang pernah terjadi. Ini imbauan bersama. Sebab Covid-19 bukan permasalahan pemerintah, tenaga kesehatan, atau pun masyarakat. Pandemi COVID-19 adalah permasalahan bersama.
Penulis : I Gede Alfian Septamiarsa, S.Sos, M.I.Kom
Jabatan : Pranata Humas Ahli Pertama Biro Administrasi Pimpinan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur