
LONDON (Lenteratoday) -West Ham United menghadirkan nelangsa perdana bagi Liverpool di Liga Inggris pada musim ini, Senin (8/11/2021) dini hari WIB. West Ham menggusur posisi sekaligus menghentikan rentetan 25 laga tidak terkalahkan ”Si Merah” di berbagai kompetisi. Liverpool takluk, 2-3.
Padahal, sebelum laga di Stadion Olimpiade London itu digelar, Manajer Liverpool Juergen Klopp telah bertekad meraih poin guna mengejar Chelsea di puncak klasemen sekaligus menorehkan sejarah baru, yaitu tidak terkalahkan dalam 26 laga berturut-turut.
Jika itu tercapai, Klopp melampaui rekor Liverpool bersama manajer Bob Paisley pada tahun 1982. Kala itu, Liverpool asuhan Paisley tidak terkalahkan di 25 laga beruntun sejak Maret hingga September 1982.
Maka itu, bagi Klopp, laga melawan West Ham, tim London Timur, bermakna ganda. Ada misi khusus yang diemban pasukan Liverpool pada laga itu. Sayangnya, misi tersebut tidak berjalan mulus di lapangan Stadion London.
Laga baru empat menit berjalan, Liverpool langsung dikejutkan gol bunuh diri kiper Alisson Becker. Kiper tim nasional sepak bola Brasil itu hendak menangkap bola sepak pojok lawan, namun kurang sempurna. Bola masuk ke gawangnya sendiri setelah berbelok arah terkena jari tangan kirinya.
Para pemain Liverpool sempat memprotes gol itu karena Becker dianggap terganggu oleh bek tengah West Ham, Angelo Ogbonna, saat berupaya menangkap bola. Gol itu tetap disahkan wasit Craig Pawson setelah meminta peninjauan VAR (asisten wasit peninjau video).
Liverpool baru bisa menyamakan kedudukan pada menit ke-41 melalui tendangan bebas bek sayap, Trent Alexander-Arnold. Di babak kedua, Liverpool kembali tertinggal lewat gol Pablo Fornals pada menit ke-67. West Ham bahkan memperlebar keunggulannya di babak itu, yaitu menjadi 3-1, berkat sundulan bek tengah Kurt Zouma pada menit ke-74.
Menyadari kondisi tertinggal dua gol dari lawan bisa mengancam misinya, Klopp menginstruksikan pemainnya untuk lebih agresif menyerang. Alhasil, Liverpool mencatatkan penguasaan bola hingga 70 persen. Mereka juga menorehkan 16 tembakan ke gawang lawan, di mana lima di antaranya mengarah tetap ke sasaran.
Kondisi itu sangat asing bagi Liverpool setelah terbiasa tidak terkalahkan selama 25 laga di berbagai kompetisi sebelum laga itu. Musim ini, Liverpool juga belum pernah tertinggal lebih dari satu gol. Maka itu, mereka terlihat amat berambisi untuk segera menyamakan kedudukan dan berbalik unggul.
Namun, usaha tersebut menguap sia-sia lantaran para pemain Si Merah terlihat kurang tenang dan terburu-buru dalam menyelesaikan peluang mencetak gol. Dorongan untuk tidak kalah demi mengejar target meraih rekor berubah menjadi beban. Di lain pihak, tampil disiplinnya barisan pertahanan West Ham juga kian menyulitkan para pemain Liverpool untuk menyamakan skor.
”Kami harusnya lebih bersabar dan mencetak gol penyeimbang yang pantas. Menurut saya, kami terlalu terburu-buru di babak kedua,” ucap bek tengah Liverpool, Virgil van Dijk, seusai laga dikutip dari laman resmi Liverpool.
Liverpool akhirnya mampu memperkecil ketertinggalannya, yaitu menjadi 2-3, berkat gol Divock Origi pada menit ke-83. Akan tetapi, tidak ada lagi gol tercipta hingga laga itu berakhir. Liverpool pun harus merelakan tim tuan rumah menyegel poin penuh (*)
Sumber: Kompas
Editor: Arifin BH