06 April 2025

Get In Touch

Pasca Banjir, Pariwisata Kota Batu Mulai Menggeliat

Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko didampingi Wakil Wakil Kota Batu Punjul Santoso saat menerima cinderamata dari Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Prov Jatim Ali Kuncoro, Sabtu (20/11/2021).
Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko didampingi Wakil Wakil Kota Batu Punjul Santoso saat menerima cinderamata dari Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Prov Jatim Ali Kuncoro, Sabtu (20/11/2021).

BATU (Lenteratoday) – Pasca terjadinya bencana banjir bandang beberapa waktu lalu, wisata di Kota Batu sudah mulai menggeliat lagi. Kunjungan wisatawan sudah mulai meningkat meski sempat turun akibat bencana tersebut. Meski demikian, Pemkot Batu harus kembali menerapkan pembatasan wisata pada Natal dan tahun baru (Nataru) nanti seiring dengan pemberlakukan PPKM level 3 oleh pemerintah.

Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko, mengatakan sebenarnya pasda banjir bandang, Dinas Pariwisata Pemkot Batu bersama seluruh stake holder berupaya mendongkrak pariwisata. Diantara yang dilakukan adalah menggelar expo pariwisata di Jatim Park 3 pada 19-22 Nopember 2021. Kemudian juga acara Street Food di Balai Kota Among Tani.

“Para tamu maupun wisatawan yang tidur di hotel bisa menikmati makan pagi di Halaman Gedung Balai Kota Among Tani,” kata Dewanti saat merima kunjungan Kelompok Kerja (Pokja) wartawan Pemprov Jatim yang dipimpin Kepala Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Setdaprov Jatim M Ali Kuncoro di Balai Kota Among Tani Pemkot Batu, Sabtu (20/11/2021).

Dalam kesempatan itu, Dewanti menceritakan bahwa beredarnya video dan informasi di media sosial terkait dengan banjir bandang mengakibatkan kunjungan wisatawan menurun. Sebab pada video tersebut seakan-akan mengambarkan kalau luruh kota Batu porak poranda.

“Padahal, faktanya tidak demikian. Tidak ada satu pun tempat wisata yang terdampak banjir bandang tersebut. Banjir bandang hanya melewati sungai kering yang selalu mengalir saat musim hujan,” kata Dewanti.

Lebih lanjut dia menjelaskan, peristiwa banjir bandang tersebut mengakibatkan kerusakan di beberapa desa, 7 warga meninggal dan mengakibatkan kerusakan rumah, lahan pertanian, alat transportasi, dan binatang ternak hilang. Namun, tidak ada sektor pariwisata terdampak banjir bandang secara fisik tidak ada.

Kemungkinan, banjir bandang tersebut akibat pengalih fungsi lahan dari lahan. Untuk itu, Pemkot Batu akan terus melakukan evaluasi dan pemantauan udara. Namun, ada daerah yang tidak terjangkau antara lain Gunung Pucung dan Pucuk Lading. Di puncak gunung tersebut, banyak tanaman yang telah rusak karena diduga kebakaran hutan lereng Gunung Arjuna beberapa waktu lalu.

Di satu sisi, setelah banjir bandang ini,pariwisata di kota Batu kembali akan dilakukan pembatasan, seiring pemberlakuan PPKM level 3 oleh pemerintah pusat. Terkait dengan hal itu, Dewanti sudah melakukan sosialisasi pada pengelola wisata dan juga hotel untuk melakukan pembatasan dan tidak menggelar acara.

“Semua pengelola wisata dan hotel sudah setuju, mereka memahami jika tidak dilaksanakan maka malah bisa berdampak panjang. Lebih baik nurut dari pada nanti malah terjadi penutupan yang lebih lama lagi,” kata Wali Kota Batu ini.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Batu, Punjul Santoso menjelaskan terkait dengan upaya penanggulangan bencana pihaknya sudah melakukan kesiapsiagaan. Diantaranya dengan menggelar apel kesiapsiagaan bencana pada 27 Oktober 2021 lalu. Kemudian BMKG Kelas II Malang juga telah memberikan arahan tingkat curah hujan serta tingkat ancaman banjir tertinggi di Desa Bulukerto, Bumiaji. Termasuk potensi fenomena La Nina.

 “Dari Kalaksa BPBD berdasarkan peta risiko Kota Batu ada beberapa yang berisiko tinggi. Beberapa desa diprediksi tinggi, sedangkan Bumiaji masuk risiko sedang,” kata Punjul.

Namun, pada 4 November 2021 terjadi banjir bandang tanpa disangka. Curah hujan sangat tinggi dengan durasi kurang lebih 3 jam. Terjadi luapan sungai di Desa Sumberbrantas. Banjir itu berdampak pada Desa Sidomulyo, Desa Bulukerto, Desa Sumberbrantas, Desa Bumiaji, Desa Tulungrejo, Desa Sumbergondo, Desa Giripurno, Kelurahan Temas, Desa Pendem serta beberapa desa maupun kelurahan terdampak jaringan air terputus.

Pasca bencana, lanjut Punjul, kondisi pariwisata di Kota Batu, ini masih dibuka mengingat daerah terdampak banjir bandang tidak ke jalan raya atau tempat wisata. Beberapa ruas jalan yang sempat terendam lumpur dan terputus juga sudah bisa dilalui.

“tahun 2019 kemarin kunjungan wisata ke Kota Batu itu hampir 7,6 juta orang. Berikutnya untuk 2020 kemarin turun drastis menjadi 2 juta karena pandemi,” jelasnya.

Pada kesempatan sama, Kepala Biro Adpim Setdaprov Jatim M Ali Kuncoro mengatakan, Pemprov Jatim dan Kota Batu tengah mendapat dua ancaman besar dan butuh langkah mitigasi progresif yakni untuk menyelesaikan pandemi Covid-19 dan ancaman bencana alam hidrometeorologi.

Namun, ia memuji kecepatan Pemkot Batu dalam memulihkan kondusifitas pasca bencana yang menjadi sorotan nasional tersebut. “Kota Batu progressnya luar biasa. Kota Batu survive, bisa bangkit dan kembali bisa produktif,” tegasnya.  (*)

Reporter : Lutfiyu Handi

Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.