04 April 2025

Get In Touch

40% Warga Surabaya Tak Miliki Rumah, Ubah Kampung Jadi Vertical House

40% Warga Surabaya Tak Miliki Rumah, Ubah Kampung Jadi Vertical House

SURABAYA- LETRA.ID Hunian masih menjadi salah satu kendala masyarakat Surabaya. Padahal papan menjadi salah satu kebutuhan primer manusia bersama dengan sandang dan pangan. Melihat kondisi tersebut Direktur KADIN Institute, Dr Ir Jamhadi, MBA, sekaligus dewan pendiri Surabaya Creative City Forum (SCCF) memberikan salah satu solusi efektif untuk mengurainya.
“Jumlah penduduk kota Surabaya diperkirakan mencapai 3 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 40% tidak memiliki rumah. Di sisi lain, warga yang tidak memiliki rumah kebanyakan juga tidak mempunyai pekerjaan.Ironis kan?” ujarnya saat membahas masalah perkotaan bersama Gus Imam (Sekretaris Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia/Ishari) NU Surabaya, H Kemas (aktivis), Nuryanto (Dosen Fak. Hukum Univ. Wijaya Putra), Gus Arif, Yoyok Teropong, dan Adi Wijaya, Minggu (25/8).


Persoalan hunian pun harusnya mendapat perhatian serius. Jamhadi merasa kebutuhan tempat tinggal di Surabaya semakin besar. Apalagi, setiap tahun jumlah penduduk di suatu lokasi terus bertambah. Masalahnya, kebanyakan yang membutuhkan tempat tinggal berasal dari keluarga tak mampu. Sehingga, selama ini mereka harus berbagi satu hunian dengan saudara-saudaranya. Walhasil, lokasi tersebut dipastikan menjadi wilayah/kampung yang sangat padat.
’’Solusinya adalah bangun vertical house atau rusun di lokasi tersebut. Beli rumah warga di gang-gang, bangunkan hunian vertikal. Itu gampang dan efektif,’’ tandas Jamhadi.
Kenapa kok tidak di pinggir kota yang lahannya masih luas? Sebab, warga rata-rata telah lahir dan bermasyarakat seumur hidupnya di lokasi tersebut. Sehingga kehidupan sosial kemasyarakatannya telah terjalin erat. Bila dibangunkan di lokasi lain, maka potensi ditolak karena harus ‘tercabut’ dari lingkungannya.”Mereka rata-rata juga bekerja disekitar daerah tersebut, baik yang karyawan ataupun UKM. Jadi akan memudahkan akses juga dalam mencari nafkah,” tuturnya.
Dengan sistem ini bukan hanya masalah hunian teratasi, tapi ketertiban umum dan ketersediaan fasilitas untuk warga juga bisa diberikan. Dicontohkan, setiap rusun dilengkapi dengan lahan parker, taman bermain maupun taman bacaan, jadi masyarakat sekitar bisa menikmatinya. Di sisi lain, penataan kampong oleh pemerintah kota juga akan lebih mudah.(RED)

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.