
JAKARTA, LETRA.ID- Keputusan sudah bulat, pemerintah bakal memindahkan ibu kotaIndonesia ke Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Pemindahan ini diperlukankarena beban Jakarta saat ini sudah begitu berat. Lokasinya di dua kabupaten,yaitu Kabupaten Kutai Kertanegara &Penajam Paser Utara dinilai sangat strategis. Terletak di tengah Indonesia dandekat dengan area perkotaan serta tidak rawan bencana.
Keputusan yang dibuat Jokowi menjadi perbincangan dunia dan diulas oleh media internasional. Selain mengulas pengumuman, media luar negeri juga menyoroti kekhawatiran jika ibu kota pindah. Salah satu media internasional yang menyorotinya adalah Agence Frence Presse atau AFP. Kantor berita asal Perancis itu menyoroti Kalimantan yang tak hanya jadi lokasi penambangan utama. Namun juga fakta bahwa pulau yang juga dibagi dengan Malaysia serta Brunei itu merupakan lokasi hutan hujan tropis, serta rumah bagi spesies orangutan.

Pemerhati lingkungan mengungkapkan kekhawatiran bahwapembangunan ibu kota bakal mengancam spesies terancam punah. Seperti aktivisGreenpeace Indonesia, Jasmine Putri. "Pemerintah harus memastikan bahwaibu kota baru di Kalimantan Timur tidak akan dibangun di atas lahan konservasiatau pun area yang dilindungi," kata Jasmine.
Belum lagi kenyataan setiap tahun, Kalimantan jugadisibukkan penanganan kebakaran hutan. Pakar tata kota Nirwono Joga menilai,faktor itu membuat Kalimantan belum fit jadi kandidat ibu kota. "Selainitu, pemindahan tersebut juga belum tentu bakal menyelamatkan Jakarta secarapenuh dari masalah seperti banjir, kemacetan, hingga urbanisasi," kataNirwono.
Mei lalu, Manajer Kampanye dan Energi Wahana LingkunganHidup Indonesia (Walhi) Dwi Sawung memperingatkan sebagian besar kawasan ituadalah tanah gambut. Yakni sejenis lahan basah kaya karbon yang terdiri darisebagian vegetasi mati yang dikeringkan dan dibakar untuk membuat jalan bagiperkebunan kelapa sawit.
Setelah Ibu Kota Pindah, Dwi menjelaskan dilansir JakartaPost via CityLab, para pembangun perlu melakukan pekerjaan pendahuluan sepertimenggali guna memperkuat lahan gambut. "Pekerjaan pendahuluan sebelummembangun ibu kota baru bisa menyebabkan lebih banyak kebakaran serta polusiudara." Demikian keterangan Dwi.
Kemudian politisi dari Partai Gerindra, Bambang Haryo,mempertanyakan kelayakan megaproyek itu. Dia menyebut kekhawatiran soalmeningkatnya utang hingga deforestasi. Berdasar data Dana Moneter Internasional(IMF), utang Indonesia berada di kisaran 29 persen dari GDP, menjadikannyakedua terbawah di ASEAN setelah Brunei. Tetapi rasionya meningkat lima persendalam lima tahun terakhir. Proyek relokasi itu diprediksi bakal menghabiskandana Rp 466 triliun. Sebanyak 19 persen bakal didanai dari APBN. Sisanya dariKerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dan swasta.
Green City
Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala BappenasBambang Brodjonegoro mengungkapkan, ibu kota baru akan dibangun dengan konsepramah lingkungan. Sebab, pemerintah ingin calon ibu kota baru itu nyamanditempati oleh para penghuninya. “Nanti di ibu kota baru dibangun dengan konsepgreen city. Kalimantan yang lebih dekat dengan forest city dan energinya harusterbarukan, clean dan renewable energy,” ujar Bambang di Jakarta.
Pemerintah menginginkan ibu kota baru Indonesia dibangundengan konsep yang matang. Misalnya, di lokasi tersebut nantinya masyarakatmemasak tak menggunakan tabung has LPG 3 kilogram lagi. “Di ibu kota baru tidakada lagi LPG. orang nanti masak dengan jaringan gas kota yang dibangunlebihawal. Tidak seperti saat ini banyak yang bergantung dengan LPG karena tidak adajaringan gas kota,” kata Bambang.
Selain itu, lanjut Bambang, pembangunan saluran air untukmasyarakat harus tertata rapih. Sehingga tak mengakibatkan kerusakan lingkunganseperti di daerah lainnya. “Tidak ada rumah dengan sumur lagi. Tiap tempattinggal langsung terconnect dengan jaringan dari PDAM, sehingga water supplytidak jadi masalah dan masyarakat bisa menikmati air berkualitas tanpa merusaklingkungan,” ucap dia.(kcm)