
Oleh: Sukarjito, wartawan lenteratoday
Pendaftaran calon yang diusung partai politik masih Juni 2020 dibuka. Banyak pelobi berkumpul di Jakarta. Road show elite parpol tujuannya. Termasuk, nama calon yang muncul di Kota Surabaya.
Sebagai warga Surabaya—sekarang domisili Jakarta— terhenyak dengan “permainan” lobi yang mereka lakukan. Pra kondisi namanya. Sebelum rekomendasi resmi turun. Pasti rekomendasinya akan jatuh kepada nama yang disodorkan mereka.
Dengan wawancara beberapa elite parpol. Rata-rata punya kursi di parlemen senayan. Tak heran jika beberapa nama calon sudah masuk ke meja Ketua partainya masing-masing. Salah dua di antaranya Machfud Arifin mantan Kapolda Jawa Timur.
“Calonmu Surabaya sudah aman ya di DPP,” ujar elite Partai Demokrat ketika bertemu dengan pelobi itu di sebuah kafe kawasan Senayan.
Elite ini bukan sembarangan. Dia merupakan ring 1 Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono.
Bahkan, elite parpol lainnya seperti Nasdem, Golkar, PKB yang juga diwawancarai menyiratkan gumpalan ke MA.
Emang muncul koalisi besar dalam Pilwali Surabaya. “Musuh” bersamanya yakni PDI Perjuangan. Yang sampai saat ini masih menguasai jalur politik di Kota Pahlawan. Atau disebut Kandang Banteng lah.
Satu tujuan, ingin menggeser hegemoni PDIP, parpol ingin “keroyok” Banteng Moncong Putih ini. Dipasanglah nama MA. Sebagai ikon “perlawanan” mereka.
Slowly but sure. Itu lah yang dilakukan PDIP. Membiarkan sebuah kubu terbentuk. Dengan agenda yang sama. Wajar, kesan timbul dari sebagian pengamat, MA mungkin bagian PDIP dengan memberikan nada beda. Satu irama menang Pilwali Surabaya.
Politik punya adagium klasik, tidak ada kawan atau musuh abadi. Hanya kepentingan yang kekal.
Sebagai wartawan politik. Saya melihat PDIP tetap memberikan “lakon” yang sama. Mungkin beda nama. Mungkin juga punya jalur akses ke Bu Mega.
Sisi lain, dalam sebuah perbincangan elite PDIP. Memberikan sinyal kuat Puti Guntur Soekarno Putri akan diusung PDIP. Meskipun proses penjaringan masih dilakukan Banteng.
“Demi marwah partai. Mbak Puti harus menerima panggilan tugas ini,” bincang elite partai Banteng dengan diksi kuat.
Mungkin—nama Puti— jalan terbaik yang bisa konsolidasikan Banteng Surabaya. Yang akhir-akhir ini terkesan ada blok. Buah dinamika politik dalam proses penjaringan internal mereka.
Inilah injury time. Dua kandidat nama kuat bakal menggantikan Risma sebagai Walikota Surabaya. Berbeda lagi kalau Azrul Ananda juga maju. Sayang dengan tegas Azrul lebih memilih jalur profesional.