
Harlah Paguyuban Sari Roso Ke-VIII
Blitar - Mungkin hanya di Desa Ploso, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar, yang diberikan sertifikasi oleh Dinas Kesehatan agar jajanan yang diproduksi Paguyuban Sari Roso bisa dijual di seluruh sekolah.
Demikian disampaikan Bupati Blitar, Rijanto dalam sambutannya sebelum membuka Acara Peringatan Hari Lahir (Harlah) Paguyuban Sari Roso Ke - VIII, di sekitar Pasar Desa, Ploso Kecamatan Selopuro, Minggu(8/3/2020).
"Sejak 2014 saat masih menjabat Wakil Bupati Blitar selalu rutin hadir pada setiap peringatan Harlah Paguyuban Sari Roso di Desa Ploso Kecamatan Selopuro ini. Apa yang dilakukan Paguyuban Sari Roso ini memang luar biasa, bisa membantu peningkatan perekonomian warga desa," ujar Bupati Rijanto.
Bupati Rijanto menyatakan siap mendukung apa pun yang dibutuhkan oleh Paguyuban Sari Roso, mulai ijin usaha, permodalan melalui fasilitasi dengan perbankan sampai pemasaran secara online. Agar usaha produk jajan tradisional ini bisa terus berkembang, serta dikenal sampai ke luar daerah. "Dari Desa Ploso Selopuro Untuk Indonesia Yang Luar Biasa," tandas bupati yang akan maju lagi periode kedua ini.

Bupati Rijanto menegaskan inilah bukti kekompakan, jika pemimpin dan warganya bisa menyatu. Maka apa pun yang dilakukan akan didukung warganya hingga berhasil.
Sebelum mengakhiri sambutannya, Bupati Rijanto memberikan bantuan untuk Paguyuban Sari Roso sebesar Rp 10 juta, langsung diterima ketuanya, Arif.
Dalam rangkaian Peringatan Harlah Paguyuban Sari Roso Ke-VIII ini digelar berbagai kegiatan diantaranya Gebyar Pasar Murah, Parade Kirab Jajanan Tradisional dan berbagai hiburan serta atraksi di sekitar Pasar Ploso. Acara ini dibuka langsung oleh Bupati Blitar, Rijanto didampingi kepala OPD terkait, Muspika Kecamatan Selopuro dan kepala desa se Kecamatan Selopuro.
Ketua Paguyuban Sari Roso, Arif menyampaikan jika saat ini anggota Paguyuban Sari Roso ada sekitar 150 Kepala Keluarga (KK), termasuk 35 KK diantaranya sebagai penjual dan pembuat jajan. "Bertepatan dengan Harlah ke VIII ini, kami bersyukur bisa berkembang dan meningkatkan perekonomian Desa Ploso," tutur Arif.
Arif menjelaskan sesuai dengan moto peringatan Harlah ke VIII ini yaitu "Siji Wadah Ojo Pecah" maka panitia mengusung konsep Jaman Dulu (Jadul), dimana seluruh yang terlibat dalam acara ini wajib menggunakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. "Mulai dari Sumatera, Kalimantan, Jawa sampai Papua. Untuk menunjukkan meskipun berbeda, suku dan budaya tetap bersatu," jelas Arif.
Selanjutnya Kepala Desa Ploso Kecamatan Selopuro, Rohmadi dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur dan bangga kepada Paguyuban Sari Roso, karena dulu Desa Ploso kehidupan warganya hanya bertani.
"Tapi sejak adanya Paguyuban Sari Roso, yang mendorong warganya untuk membuat kue dan dijual ke luar desa sampai bisa meningkatkan perekonomian warganya," ungkap Rohmadi.
Paguyuban Sari Roso ini dipelopori atau dibabat oleh Imam Suyuti, berawal dari idenya semua warga membuat aneka jajanan tradisional. Kemudian dijual keliling menggunakan obrok atau keranjang dari bambu yang ditumpangkan diatas sepeda motor. "Kini sudah berkembang bukan obrok, tapi semacam kotak kaca dengan kerangka aluminium. Jadi lebih bersih, terlihat rapi dan hygienis," papar Rohmadi.
Kini setiap hari, produksi jajan tradisional dari Desa Ploso terus laku terjual dan macamnya juga semakin banyak. Sekitar 80 macam jajanan, dengan omzet penjualan mencapai jutaan setiap harinya. (ist/ais)