03 April 2025

Get In Touch

Metode Curahan Gambar Dalam Psikososial Anak Penyintas Erupsi Semeru

Metode Curahan Gambar Dalam Psikososial Anak Penyintas Erupsi Semeru

Penulis Kontributor Lepas : Andri (Abeng) Siswanto 

Dalam berbagai cerita kebencanaan, anak memiliki pengalaman tersendiri dari sebuah peristiwa. Tak terkecuali, anak dalam peristiwa erupsi Gunung Semeru pada Desember penghujung tahun lalu. Dengan goresan gambar, penyintas dari  kelompok rentan ini  mencoba mencurahkan berbagai emosi maupun pembelajaran penting dalam sebuah  peristiwa bencana. Yang tentu saja hal ini menjadi bagian penting dalam menguatkan emosi maupun psikis anak dalam penanganan mitigasi bencana.

Tepat mengawali tahun 2022 lalu, Mushola Pak Hafidz di Kampung Kali Lengkong, Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang tidak biasanya penuh riuh juga riang gembira. Pasalnya, anak-anak yang belajar mengaji di Mushola Pak Hafidz, begitu warga menyebut tempat ini, tiba-tiba tengah “berpesta” gambar dengan segala curahan hatinya.

Keriangan berpadu dengan aktifitas goresan gambar, tak lain merupakan kegiatan yang tengah dilansir oleh kelompok relawan Posko Aliansi Pulih Semeru. Sebuah posko yang diinisiasi oleh beberapa kelompok organisasi lingkungan maupun organisasi intra kampus di sebuah perguruan tinggi.

Bagi kelompok relawan ini, gambar menjadi bagian penting dalam sebuah mitigasi bencana. Yang tentunya, menjadi bagian terpenting dalam memahami relasi antara aspek psikologis dengan aspek sosial atau yang jamak dengan sebutan psikososial. Gambar dapat menjadi cara penilaian maupun penyelidikan tentang situasi anak dalam relasi psikis maupun sosial dari bencana erupsi Gunung Semeru pada Desember 2021 lalu.

Bagi Pradipta Indra, Koordinator Posko Aliansi Pulih Semeru, anak merupakan bagian dari kelompok rentan  yang mudah mengalami trauma terhadap suatu peristiwa kebencanaan. Selain itu, anak juga memiliki waktu panjang untuk proses belajar dan berkehidupan sosial sehingga proses trauma healing atau psikososial untuk membantu memulihkan psikis anak sangatlah penting dalam sebuah mitigasi bencana.

Dengan metode gambar ini, ia bersama tim relawan lainnya mendapatkan cerita utuh dari peristiwa bencana yang dialami oleh anak. Pun, mendapatkan temuan penting, dari pengalaman anak pada aspek  emosi ataupun psikisnya saat bencana.

“Kami seringkali mengamati dalam tanggap bencana Semeru, penanganan psikososial dilakukan hanya sekadar menghibur anak belaka. Membagikan makanan, bernyanyi, setelahnya selesai dan pergi.  Itu tidak salah. Namun, bagi kami yang penting adalah melakukan pengamatan yang  mendalam tentang apa yang terjadi pada diri si anak. Sebelum bencana terjadi,  saat bencana terjadi dan apa harapan mereka ke depan untuk hidup yang layak dalam wilayah yang rawan bencana. Itu yang penting sebagai pengetahuan anak ke depan dari perspektif mereka sendiri,” ujar Pradipta yang saat ini aktif dalam sebuah organisasi lingkungan hidup Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).  

Pada kesempatan ini, Mushola Pak Hafidz memang menjadi jujugan, bahkan semakin ramai oleh aktifitas anak. Baik anak-anak dari lokal Kampung Lengkong, maupun anak penyintas bencana yang datang dari Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo. Bagi Ustad Hafidz sendiri, kegiatan spiritual seperti belajar mengaji di Mushola yang ia yakini sebagai resep mengobati psikis dari anak-anak penyintas bencana alam Gunung Semeru. Tidak lebih dari itu.

Namun, dengan adanya kegiatan psikososial  yang dihelat oleh Posko Aliansi Pulih Semeru, ia meyakini akan memberikan warna baru dalam metode belajar mengaji di Mushola yang ia kelola saat ini. Akan lebih menguatkan dan anak-anak akan sering datang ke Mushola tentunya.

Dari temuan kegiatan menggambar yang dilakukan oleh tim relawan, banyak sekali serpihan cerita yang ada dalam benak anak-anak yang datang rutin di Mushola Pak Hafidz ini. Rizki, misalnya. Dengan usianya 10 tahun, ia mencoba menggambarkan lanskap pemandangan Gunung Semeru yang lengkap dengan aliran lava mengalir. Berpadu dengan suasana orang berlarian yang ia gambarkan pada secarik kertas gambar yang disediakan oleh tim relawan.

Rizki, salah satu anak dari Desa Saupiturang, yang memang mengungsi di Kampung Lengkong, Desa Oro-Oro Ombo.

Sembari memberikan penjelasan dari gambarnya, ia mengaku merasa panik dan cemas bahkan kebingungan saat peristiwa awan yang pekat mengampiri desanya. Kecemasan bertambah saat  melihat banyak orang dewasa berlarian dengan teriakan. Kecemasan Rizki tak lain disebabkan situasi bencana yang lalu merupakan pengalaman pertamanya. Sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak berdaya, hanya bergantung pada kesigapan dari orangtuanya dalam mencari tempat untuk mengungsi. Dan Kampung Lengkong lah yang menjadi jujugan-nya.

Berbeda dengan Haikal ( 9 tahun). Haikal memang tinggal di Desa Oro-Oro Ombo, namun berbeda kampung dengan Kali Lengkong. Saat ini ia tinggal bersama neneknya di Kampung Kali Lengkong. Lokasi rumah Haikal memang lumayan jauh dari lokasi yang terdampak langsung dari erupsi maupun guguran awan panas Gunung Semeru.

Namun, lokasi tempat tinggal Haikal pun juga menjadi jujugan pasir erupsi maupun awan yang pekat, walaupun agak jauh dari lereng Gunung Semeru. Nampak sekali pada coretan gambar  Haikal, ia hanya menggambarkan satu pohon tanpa rumah penduduk. Saat peristiwa terjadi, ia sama sekali tidak bisa melihat apa-apa dari pekatnya awan saat itu. Dia bersama ibunya, berjalan dengan tenang menuju rumah neneknya di Kampung Kali Lengkong. Saat sampai di rumah neneknya, ia sudah mendapati banyak sekali orang dewasa dan anak-anak dari Desa Supiturang yang berkerumun mengungsi di rumah neneknya.

Bagi Haikal, yang menjadi ia tenang dan tidak panik saat itu adalah sikap dari ibunya. Yang bersabar menunutun ia jalan hingga tujuan. Dari pengakuan Haikal, ibunya adalah seorang guru. Patokan  Haikal kenapa tidak panik ternyata adalah ibunya. Yang ia yakini sebagai seorang guru yang banyak mengetahui banyak hal dan bersikap menunutun dalam situasi bencana.

Cerita tentang peristiwa 4 Desember yang disampaikan oleh anak-anak melalui gambar  ini tentu sangat beragam. Beberapa anak membuka memorinya saat menjelaskan gambar, bahwa saat itu ada bunyi semacam gemuruh seperti tabuhan gong raksasa.  Yang kemudian disambut dengan banyaknya orang dewasa berlarian di sekitaran kampung, sebelum awan panas berwarna pekat datang menghampiri kampungnya.

Dari proses menggambar dan bercerita ini, memori yang masih membekas ternyata berwujud menjadi pengetahuan baru bagi anak-anak yang tinggal di wilayah rawan bencana Gunung Semeru ini. Saat itu, mereka memang banyak yang mengalami kepanikan. Namun, dari beberapa celotehan yang berpadu dengan riuhnya suasana menggambar bersama, terdengar celotehan khas dari suara beberapa anak, “kalau ada bencana lagi kita tidak boleh panik. Jika harus mengungsi, jalan dengan tenang dan teratur biar dan cari tempat yang aman.”

Celotehan ini mungkin hanya sekilas dan berlalu berpadu suasana riuh anak-anak pada sebuah Mushola saat perhelatan membuat karya gambar. Namun, celotehan anak-anak ini boleh dibilang melampui kesadaran orang dewasa. Bahwa dari pengalaman mereka, tumbuhlah sebuah pengetahuan baru dalam sistem peringatan dini pada saat terjadinya bencana.

Gambar memang menjadi metode pembelajaran yang banyak disukai oleh anak-anak. Dengan apa yang disukai oleh anak-anak itulah, relawan Posko Aliansi Pulih Semeru berusaha mendapatkan banyak informasi maupun persepsi maupun peta pikiran dari anak-anak tentang apa itu bencana dan apa yang harus diperbuat jika anak-anak akan memilih bersahabat dengan bencana, atau membangun pola adapatasi dalam ruang yang rawan bencana seperti pada kawasan lereng Gunung Semeru. Dengan begitu, dari gambar, emosi maupun kecerdasan anak akan selalu membingkai pengetahuan yang baru. (Abg)*

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lentera Today.
Lentera Today.