07 April 2025

Get In Touch

Korsel Hadapi Lonjakan Kasus Omicron

Seorang petugas kesehatan beristirahat di dalam bilik saat dia melakukan tes penyakit virus corona (COVID-19) di lokasi pengujian virus corona di Seoul, Korea Selatan (Ant)
Seorang petugas kesehatan beristirahat di dalam bilik saat dia melakukan tes penyakit virus corona (COVID-19) di lokasi pengujian virus corona di Seoul, Korea Selatan (Ant)

SEOUL (Lenteratoday) -Untuk pertama kalinya Korea Selatan mengalami lonjakan kasus harian tertinggi, 13.000 kasus Covid-19 baru, Rabu (26/1/2022).

Otoritas kesehatan Korea Selatan memerkirakan selama beberapa pekan mendatang, jumlah kasus harian bisa meningkat hingga beberapa kali lipat.

Menurut Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDA), dikutip dari kantor berita Yonhap, dari 13.012 infeksi baru yang terjadi dalam 24 jam terakhir, sebanyak 12.743 infeksi di antaranya merupakan infeksi lokal.

Total kasus aktif yang terjadi di Korea Selatan saat ini adalah 762.983 kasus. Data kasus baru yang terjadi di Korea Selatan adalah lompatan besar dibandingkan kasus yang terjadi sehari sebelumnya.

Pada Selasa (25/1/2022), jumlah kasus baru mencapai 8571 kasus baru, sebuah angka yang juga merupakan rekor baru sejak kasus Covid-19 dilaporkan pertama kalinya terjadi di Korea Selatan pada Januari 2020. Galur Omicron menjadi penyebab dominan lonjakan kasus di Negeri Ginseng itu.

"Ke depan, prioritas utama kami adalah mengurangi pasien yang sangat kritis dan kematian," kata Perdana Menteri Kim Boo-Kyum, dalam pertemuan antarkementerian dan lembaga, mengutip Kompas.

Untuk mencegah melonjaknya hunian di rumah-rumah sakit yang bisa mengakibatkan kelelahan pada tenaga kesehatan, otoritas kesehatan Korsel menerapkan sistem respon baru yang diharapkan bisa meminimalisir kasus kritis dan tingkat kematian.

Di bawah aturan baru, rumah sakit dan pusat layanan kesehatan atau klinik lokal akan melakukan tes cepat (antigen) kepada semua warga.

Sementara untuk warga yang berisiko tinggi, terutama warga lansia di atas usia 60 tahun, otoritas kesehatan merekomendasikan tes reaksi berantai polimerase (PCR).

Sistem ini akan diujicoba di empat wilayah yang mengalami lonjakan kasus baru, yaitu Gwangju, Provinsi Jeolla Selatan, Kota Pyeongtaek dan Anseong di Provinsi Gyeonggi. Sistem ini akan diperluas penerapannya mulai 29 Januari 2022 dan melibatkan sekitar 256 stasiun pengujian.

Masa karantina dan perawatan di rumah untuk pasien Covid-19 yang divaksinasi telah dikurangi, dari 10 hari menjadi tujuh hari. Warga yang telah divaksinasi dan melakukan kontak erat dengan pasien Covid-19 tidak perlu dikarantina, tapi mereka wajib melakukan tes PCR sepekan setelah kontak awal.

Lonjakan kasus baru ini memicu kekhawatiran tentang kemungkinan gelombang infeksi baru jelang masa liburan Tahun Baru Imlek, yang dimulai Sabtu(29/1). Hingga saat ini korban meninggal dunia akibat Covid-19 di Korea Selatan menapai 6620 jiwa.

Menurut data KDCA, lebih dari 95 persen orang dewasa di negara itu telah divaksinasi lengkap. Sementara, untuk dosis penguat atau booster, angka cakupannya baru sekitar 58 persen.

Hengkang dari China

Departemen Luar Negeri AS dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk mengizinkan diplomat dan keluarga mereka di China untuk keluar dari negara tersebut karena ketidakmampuan Washington mencegah pihak berwenang Beijing mengganggu mereka atas kebijakan pembatasan geraknya.

Dua sumber yang mengetahui permasalahan ini mengatakan, Kedutaan Besar AS di China, Senin (24/1), mengirimkan permintaan resmi kepada Washington, saat China memperketat protokol pencegahan pandemi Covid-19 jelang pembukaan Olimpiade Musim Dingin 2022 (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.