08 April 2025

Get In Touch

Optimalkan Restorative Justice, Kajati Jatim Resmikan ‘Pondok Seduluran’ di Kota Batu

Pemotongan pita dalam peresmian Pondok Seduluran seluruh desa/kelurahan Kota Batu oleh Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Mia Amiati yang secara simbolis dilakukan di Kantor Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Rabu (23/3/2022). (Foto: Reka/Lentera)
Pemotongan pita dalam peresmian Pondok Seduluran seluruh desa/kelurahan Kota Batu oleh Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Mia Amiati yang secara simbolis dilakukan di Kantor Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Rabu (23/3/2022). (Foto: Reka/Lentera)

BATU (Lenteratoday) – Guna mengoptilkan restorative justice, Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur (Kajati) Mia Amiati meresmikan Pondok Seduluran seluruh desa/kelurahan se-Kota Batu yang secara simbolis dilakukan di Kantor Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Rabu (23/3/2022).Dia berharap dengan adanya pondok tersebut bisa mengurangi kejahatan serta kasus yang sampai masuk meja hijau sehingga bisa menekan jumlah tahanan.

Pondok tersebut bisa untuk menggelar pertemuan antara korban dan terdakwa dengan melibatkan para perwakilan masyarakat secara umum."Sehingga upaya untuk mengembalikan keadaan semula yang baik, harmonis dan masyarakat yang damai bisa terwujud. Dalam ilmu hukum asas tujuan hukum pidana itu untuk kembalikan keadaan semula yang baik, harmonis dan masyarakat yang damai," kata mantan Direktur Pengamanan Pembangunan Strategis, pada Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Kejaksaan Agung (JAMIntel) ini.

Untuk diketahui, secara umum restorative justice atau keadilan restoratif adalah sebuah pendekatan yang ingin mengurangi kejahatan dengan menggelar pertemuan antara korban dan terdakwa, dan kadang-kadang juga melibatkan para perwakilan masyarakat secara umum. Sehingga, keberhasilannya ditentukan dari hasil sinergi kepolisian, kejaksaan, pengadilan, tokoh masyarakat dengan mengedepankan musyawarah mufakat berkeadilan.

"Namun tidak semua kasus bisa dilakukan restorative justice karena yang bisa diterapkan lebih ke arah hukum yang ringan dengan ancaman hukumannya di bawah 5 tahun dan kerugian di bawah Rp2,5 juta. Lalu terdakwa bukan residivis," ujarnya.

Rumah restorative justice ini rencananya akan ada 2 di setiap masing-masing kejaksaan negeri. Semua warga, bisa menggunakan fasilitas ini. Sementara itu ‘Pondok Seduluran’ adalah rumah restorative justice ke-11 yang sudah dibangun hingga Maret 2022.

"Kami berharap bisa menghidupkan kembali peran tokoh masyarakat, agar memulihkan kembali perdamaian dan harmoni di tengah penduduk," lanjut Mia Amiati. Sejak adanya program ini, setidaknya sudah ada 28 kasus yang terselesaikan sepanjang 2022, melalui proses kekeluargaan.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Batu, Punjul Santoso menjelaskan jika restorative justice sejalan dengan budaya ketimuran yang mengedepankan kekeluargaan dan musyawarah."Kalau penyelesaian kasus hukum demikian, baik masyarakat damai sisi pemaaf dimunculkan maka hal-hal kecil bisa saling dimaafkan. Harapannya semua kelurahan bisa terapkan model keadilan ini," katanya.

Ia berharap dengan adanya Pondok Seduluran, restorative justice tersebut bisa menyadarkan masyarakat dalam mencegah tindakan yang berimplikasi hukum."Masyarakat diharapkan semakin sadar hukum, dan memang diperlukan skema program kolaborasi bersama. Pondok Sedulurun bisa memberikan edukasi pemahaman hukum lebih dipahami sejak dini supaya arah pelanggaran hukum bisa diantisipasi," tuturnya.

Di tempat yang sama, Kepala Desa Pandanrejo, Abdul Manan sangat mengapresiasi peresmian Pondok Seduluran."Tempat ini nanti bisa menyelesaikan masalah dan edukasi kepada masyarakat agar lebih faham dan melek hukum," tutupnya. (adv)

Reporter: Reka Kajaksana |Editor: Widyawati

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.