Tarawih Ekspres di Blitar, 23 Rakaat Hanya 7-10 Menit

Blitar – Sholat tarawih ekspres atau super cepat yakni 23 rakaat dilaksanakan dalam waktu 7 – 10 menit tetap digelar oleh warga sekitar Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Hikam di Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar di tengah wabah Virus Corona (Covid-19).

Menurut penuturan jamaah yang ikut shalat tarawih ekspres di sana, tidak hanya warga sekitar pondok tapi ada juga dari luar kecamatan hingga luar daerah seperti Tulungagung dan Kediri.

Shalat tarawih di lingkup Ponpes Mambaul Hikam yang dilakukan sangat cepat tersebut, sudah digelar turun temurun sejak dulu. Shalat tarawih yang berlangsung tidak lebih dari 10 menit ini, banyak menarik perhatian warga karena cepat selesai dan selalu banyak jamaahnya. “Setiap tahun saya kesini, karena tarawihnya cepat selesai dan selalu banyak yang datang,” tutur Wahyu, Kamis (23/4/2020).

Ketika disinggung soal wabah Covid-19 yang sedang terjadi saat ini, Wahyu pihak pondok tetap menyampaikan agar menjaga jarak, memakai masker dan cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.

“Sekaligus ujian keimanan kita, karena ibadah dan ikhtiar antisipasi Virus Corona harus bisa berjalan bersama. Semua sudah diatur oleh Allah SWT, kita harus terus berusaha dan berdoa,” ungkapnya.

Sementara itu disampaikan salah satu pengasuh Ponpes Mambaul Hikam, Dliya’udin Azzamzami jika pelaksanaan shalat tarawih super cepat tersebut, telah berlangsung sejak tahun 1907 silam. Saat pandemi Covid-19 seperti saat ini, shalat tarawih dan shalat jumat masih tetap dilaksanakan.

Baca Juga :  Kluster Moge Sumbang 9 dari 21 Tambahan Positif Corona di Kabupaten Blitar

“Karena Kecamatan Udanawu bukan termasuk zona merah atau terpapar Virus Corona,” tandasnya.

Pihak ponpes juga telah melakukan sejumlah upaya pencegahan, diantaranya menyediakan fasilitas cuci tangan dan penyemprotan desinfektan.

“Tentunya dibarengi dengan tawakal kepada Allah SWT, serta tidak lepas dari ikhtiar. Jadi ikhtiar itu kita lakukan setelah kita tawakal,” terang Gus Dliya’udin.

Meski demikian diakui Gus Dliya’udin adanya wabah Covid-19 juga mempengaruhi jumlah jamaah yang datang, biasanya pada hari pertama tarawih shof shalat keluar dari teras masjid sampai radius 25 meter. “Kini jamaah yang ikut shalat berkurang, jika dipadatkan mungkin cukup masuk ke dalam masjid semua,” ujarnya.

Disinggung soal himbauan MUI tentang ibadah selama ramadhan, mulai shalat tarawih, itikaf dan shalat wajib dilakukan di rumah bersama keluarga, Gus Dliya’ mengaku menghormatinya namun untuk pelaksanaannya tidak bisa disamakan dengan daerah lain seperti Jakarta atau wilayah yang sudah terpapar Covid-19.

“Tidak bisa disamakan seluruh Indonesia, jadi kita harus melihat kondisi di tiap daerah. Kami sangat menghormati fatwa MUI tapi karena di Udanawu belum ada yang terpapar maka tetap melaksanakan tarawih dan jumatan seperti biasa,” pungkasnya. (ais)


Latest news

Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini