Tersengat LEXICON : Isyana Ini Beneran Kamu?

Oleh: Widyawati –Penikmat Musik

Sebagai penyuka musik, melihat ajang Idol-idolan menjadi hiburan tersendiri. Paling asyik saat main tebak-tebakan, bukan siapa yang bakal menang, tapi siapa yang bakal tenar dan diterima pasar. Bukan rahasia lagi, kalau juara pertama dalam ajang pencarian bakat secara kilat seperti ini, tak menjamin jadi idola blantika musik tanah air, Setuju?

Bukan mau menulis mengenai para idol, tapi kejutan dari salah satu penyanyi papan atas Indonesia, Isyana Sarasvati yang benar-benar membuat saya tersedak. Emejing!! (amazing,red)

Sebelum ada tangis Isyana di panggung saat mendapat komentar dari teman sesama penyanyi dan pecipta lagu, sebagai orang awam, saya sangat menikmati lagu berjudul LEXICON. Tampilan yang cukup gotic dengan ditemani band, membuat saya teringat ciri khas Barasuara. Bukan maksud membandingkan, karena jelas Iga Massardi si vokalis Barasuara lebih ganteng dari Isyana—eh.

Album ketiga penyanyi Isyana Sarasvati, langsung membuat jatuh cinta.. Bukan hanya karena sangat berbeda dari dua album sebelumnya, tapi seperti menunjukkan jati diri Isyana yang sesungguhnya.

Jati diri Isyana tersebut adalah musik yang benar-benar ia suka dan ditekuni sejak dulu, musik klasik. Isyana diketahui juga berkuliah di Nanyang Academy of Fine Arts (Singapura) dan Royal College of Music (Inggris) untuk mendalami musik klasik serta opera.

Nuansa klasik kental terasa. Gaya bernyanyi Isyana dalam lagu ini juga sangat berbeda dari sebelumnya. Kesan kelem dan cewek banget langsung ambyar.

Lagu yang paling berbeda dan menarik dalam album ini adalah LEXICON. Pada lagu yang digunakan sebagai judul album ini, Isyana Sarasvati memadukan genre musik klasik dengan genre progresif metal. Apalagi saat melihat Isyana tampil di panggung Senin (9/3/2020) malam, saya langsung berhenti mengunyah kerupuk rambak di toples. WOW..WOOW..WOOWWW!!!

Baca Juga :  Bersiaplah Patah Hati, Isyana akan Menikah Besok

Pada beberapa bagian lagu LEXICON, Isyana bernyanyi dengan cepat terutama saat ketukan drum dan melodi gitar. Namun seketika ia kemudian bernyanyi dengan tempo yang lambat diiringi piano.

Perpindahan tempo dan gaya bernyanyi antara progresif metal dengan klasik terbilang cukup mengagetkan. Akan tetapi itu bukan masalah karena racikannya bisa terima dan masih nyaman didengar.

Isyana layak mendapatkan pujian atas penggarapan album ini yang sangat matang. Dalam menggarap LEXICON, Isyana dibantu tiga produser ternama, Tohpati, Gerald Situmorang, dan Kenan Loui.

Saat ditanya, Anang Hermansyah dan Maia Estianti, Isyana sempat menangis. Dia menjelaskan ini merupakan wujudnya sebagai seniman yang berkarya dengan hati, dengan tulus dan tanpa ekspektasi, dirinya bisa menjadi pribadi yang menerima setiap keadaan.

Ketika mendengarkan lagu pembuka yang bertajuk Sikap Duniawi, rasanya kita memasuki dunia lain–indah ya, bukan horor. Lagu berdurasi empat setengah menit itu berisikan alat musik orkestra yang padat, dipadukan dengan sedikit suara gitar elektrik.

Pada lagu lain yaitu Sikap Duniawi, Isyana bernyanyi dengan nada yang sangat tinggi bak penyanyi seriosa. Nuansa senada dari Sikap Duniawi bisa ditemukan pada lagu Pendekar Cahaya, Ragu Semata dan Biarkan Aku Tertidur. Komposisi alat musik orkestra dengan alat musik modern dibuat pas tanpa cacat. Lagu yang sedikit berbeda dengan unsur lebih pop ada pada Untuk Hati Yang Terluka dan Lagu Malam Hari. Pada dua lagu ini, piano amat dominan dibanding alat musik lain. Namun komposisi musik tetap terasa seimbang kayak rasa kuwak dalam rawon, mantap!

Trus aku kudu ngomong piye maneh? Aku suka kamu yang ini.





Latest news

Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini