Fenomena Munculnya Kerajaan Baru, Ini Kata Psikolog

Surabaya – Indonesia baru-baru ini Indonesia dikejutkan dengan fenomena munculnya kerajaan baru. Kerajaan yang dibangun tidak ada landasan sejarah apapun ini sempat viral beberapa waktu lalu. Hal ini tentu membuat masyarakat Indonesia resah.

Jika dilihat dari kacamata psikologi tentunya hal ini bisa di kaitkan dengan kejiwaan seseorang. Dosen Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Andik Matulessy mengatakan jika dalang dibalik munculnya kerajaan baru ini bisa dikatakan mengalami gangguan Psikologis atau melakukan tindak pembohongan terhadap publik.

“Ada satu nama dalam psikologis itu delusi, yakni seseorang dapat memiliki imajinasi, pemikiran, emosi yang sebenarnya irasional jauh dari kata realita,” kata Andik saat di temui di ruang kerjanya, Selasa (28/1/2020).

Andik menjelaskan, jika munculnya kerajaan yang berada di Purworejo sebenarnya bukan gangguan jiwa melainkan suatu kebohongan demi mendapatkan keuntungan.

“Jadi masyarakat yang ingin menjadi pengikutnya diberi janji bahwasanya nantinya jika mereka bersedia menjadi bagian dari kerajaan akan mendapatkan uang berkali-kali lipat, jabatan yang tinggi dan itu dilakukan setiap hari untuk meyakinkan,” jelasnya. 

Sebab, menurut Andik perkataan yang terus diucap secara berulang-ulang dapat mempengaruhi pemikiran seseorang. Dampaknya memang tidak membahayakan akan tetapi masyarakat seperti mendapatkan sesuatu dari kerajaan tersebut.

Baca Juga :  Kabar Duka: Direktur RSI Surabaya Meninggal Akibat Terpapar Covid-19

 “Kalau saya lihat masyarakat Indonesia sekarang itu masyarakat yang lagi sakit, ingin mendapatkan sesuatu dengan mudah, ingin mendapatkan sesuatu dengan cepat, ingin mendapatkan status sosial yang tinggi, itu kan kalau saya lihat semua tidak merasa tertipu dan merasa bahwa apa yang dilakukan benar,” tegasnya.

Dikatakan, masyarakat sedang sakit sebab mereka percaya akan sesuatu yang tidak ada buktinya. Sakitnya itu terletak pada sesuatu yang dianggap irasional jadi rasional.

“Orang yang bergabung adalah orang yang frustasi dengan kondisi dirinya sendiri, maupun kondisi eksternalnya. Mereka rela memberikan uang lebih dan berharap mendapatkan lebih dari itu,” tuturnya.

Andik menuturkan jika masyarakat mudah percaya dengan apa yang dijanjikan sebab tingkat pendidikan yang sangat rendah. Maka dari itu munculnya kerajaan baru ini tidak pernah terjadi di tengah perkotaan.

 “Itu lah mengapa kejadian seperti ini selalu berada pada daerah-daerah pelosok. Ya dikarenakan satu, tingkat pendidikan yang tergolong sangat minim, kedua bahwa pendiri kerajaan meyakini kurangnya akses informasi yang mereka dapat bisa menjadi celah. Sebab mereka tidak akan mencari sumber informasi lain selain dari kerajaan,” pungkasnya. (ard)


Latest news

Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini