Penjualan Semen Indonesia 2019 Menurun, Ada Apa?

Gresik – Data Asosiasi Semen Indonesia (ASI) menyebutkan bahwa konsumsi semen di Indonesia sepanjang Januari hingga Oktober 2019 mengalami pelemahan sebesar 1,5 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2018. Total penjualan semen domestik sampai dengan Oktober tercatat sebesar 56,10 juta ton atau menurun menjadi 56,97 juta ton.

Pelemahan tersebut juga dialami Semen Indonesia, dimana volume penjualan domestik Perseroan diluar akuisisi PT Solusi Bangun Indoensia Tbk (SBI) hingga Oktober 2019 mengalami penurunan sebesar 4,1 persen menjadi 21,54 juta ton dibanding periode yang sama tahun 2018 sebesar 22,46 juta ton. Sedangkan penjualan domestik SBI juga mengalami penurunan sebesar 2,2 persen menjadi 8,47 juta ton.

Hal tersebut disampaikan Kepala Departemen Komunikasi Perusahaan Semen Indonesia, Sigit Wahono, Sabtu (30/11). “Tahun ini sejumlah proyek infrastruktur pemerintah yang strategis sudah banyak selesai. Selain itu, pemerintah juga belum mempunyai proyek prestisius lainnya,” ujar Sigit Wahono.

Penurunan volume penjualan ini, tambahnya juga disebabkan adanya persaingan bisnis yang semakin ketat. Karena ketika ada investor baru datang di Indonesia maka yang diserang adalah pasar utama Semen Indonesia. Seperti hadirnya pesaing semen di Jember dengan kapasitas produksi 3 juta ton per tahun.

“Tapi alhamdulillah volume penjualan kami meningkat pada periode November 2019, kendatipun pada akhir tahun diprediksi tetap tidak akan mampu mengejar ketertinggalan penjualan di tahun 2019 ini,” ujar Sigit Wahono.

Sementara itu di tengah melemahnya pasar domestik semen, Ia menambahkan jika pihaknya memperkuat penjualan ekspor. Pada periode Januari hingga Oktober 2019, Perseroan berhasil mencatatkan volume penjualan ekspor sebesar 3,38 juta ton dari fasilitas produksinya di Indonesia. Angka ini mengalami peningkatan 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Semen Indonesia sedang fokus menggarap pasar Asia Selatan dan Asia Tenggara, seperti Bangladesh, India, Sri Lanka, Maladewa, Filipina, dan Timor Leste. Pada tahun 2019 ini, Perseroan berhasil memperluas jaringan ekspor di kawasan Asia Timur, salah satunya China yang sedang mengalami kekurangan produksi semen,” ungkap Sigit Wahono.

Meskipun banyak pabrik semen diChina, ternyata di sana masih ada daerah yang belum tersuplai. Kesempatan ini dimanfaatkan Semen Indonesia.

“Tapi pasar di China tidak bisa dijadikan jangka panjang. Tapi Asia Selatan dan Asia Tenggara bisa untuk jangka panjang, sebab belum ada investor besar yang bermain di sana,” tandasnya.

Langkah pertama untuk meningkatkan ekspor adalah mengoptimalkan fasilitas distribusi, karena masih ada beberapa permintaan yang belum terpenuhi karena kendala distribusi. “Semen Indonesia fokus untuk meningkatkan kemampuan distribusinya baik untuk kebutuhan ekspor maupun domestik,” tutupnya. (sep)

Latest news

Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini