

HARI Kamis 30/06/2022 akhirnya perjalanan dimulai. Rasa bahagia membuncah di hati kami. Penuh rasa syukur karena tak semua mendapatkan kesempatan ini.
Jika dihitung secara kuota dan peluang berhaji penduduk Indonesia, maka hanya 100.000 dari 250 juta umat Muslim yang bisa menuju Tanah Suci pada tahun ini.
Sebuah misteri Ilahi. Panggilan menjadi tamu istimewa. Banyak yang lebih mampu dari kami tapi tak semua mendapat kesempatan ini.
Penantian kami sejak tahun 2011 menjadi tertunda selama dua tahun (2020-2011) karena adanya pandemi. Namun Allah memberikan hadiah penantian berupa Haji Akbar di tahun ini. Sungguh menambah rasa syukur yang tidak terhingga.
Haji tahun 1443 Hijriah memiliki dua kelangkaan. Pertama, ini adalah haji pertama dengan partisipasi jamaah internasional setelah pandemi Covid-19. Kedua, ibadah haji kali imi disebut sebagai "haji akbar" karena wukuf di Arafah berlangsung pada hari Jumat.
Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Nurul Hayat Surabaya -tempat kami berkelompok, memutuskan berkumpul di Masjid Al-Akbar, Kamis (30/6/2022). Di sini dihelat acara khataman Quran sebagai upaya rohani agar perjalanan rombongan berjalan dengan lancar.
Seterusnya dipanjatkan doa keberangkatan, sholat Maghrib dan Isya yang dijamak dan makan malam. Selanjutnya dikumandangkan adzan bagi kami sebelum naik ke bus.
Diiringi salam perpisahan dari keluarga, kami memasuki bus yang akan membawa ke Asrama Haji. Perjalanan ditempuh kurang lebih 40 menit hingga mencapai lokasi Asrama Haji Sukolilo.
Para jamaah diantar kerabatnya dan sanak saudaranya. Sebuah perjalanan yang istimewa bagi sebuah keluarga besar. Bahkan ada yang sengaja sekeluarga pengantar berseragam yang sama. Tak beda halnya dengan hajatan pernikahan misalnya.
Transit
Tiba di Asrama haji Sukolilo, Surabaya tempat transit sementara. Menuju gedung Bir Ali untuk memastikan semuanya clearance terkait koper.
Beberapa jamaah wanita dipanggil karena kopernya berisi barang-barang terlarang. Paling sering ketahuan membawa rokok -yang terlalu banyak Ada dugaan barang titipan suaminya.
Dilakukan pula cek kesehatan kembali dengan wawancara singkat. Khusus jamaah wanita usia subur harus menjalani tes kehamilan.
Tes kehamilan ini menjadi unik. Karena dua hari sebelumnya pihak Puskesmas sudah mewajibkan tes kehamilan di laboratorium. Apakah mungkin hanya berselang dua hari bisa hamil? Secara logika tentu tak mungkin.
Menurut informasi para jamaah selalu banyak akal. Menurut cerita istri sebelum tes, masuk ruangan diminta membentangkan tangan untuk diperiksa. Rupanya pernah ada kejadian jamaah membawa air seni yang disembunyikan untuk bahan tes.
Unik dan lucu rasanya, tapi benar pernah kejadian.
Setelah melewati tes kesehatan, para jamaah mendapat gelang dan nomor kamar untuk bermalam.
Gelang khusus dari logam yang digravir. Tertulis nama, kloter hingga nomer paspor sebagai identitas jamaah haji asal Indonesia.
Usai dari gedung Bir Ali kami diarahkan menuju pintu keluar gedung. Sambil dicek oleh petugas kembali terkait kartu kesehatan.
Selangkah kemudian, ada orang berteriak: “Buka masker.. buka masker!" Semua jamaah difoto.
Antara serius dan tidak, saya bertanya, “Untuk apa Mas?” Orang berseragam itu berkata, “Buat pemberkasan…!”
“Bukannya dijual 10ribuan ya,” saya menggoda..
Dan pagi hari Jumat (1/7/2022), usai sholat subuh terjawab. Foto semua jamaah calon haji dipajang. Dijual seharga Rp10ribu (*)
Penulis: Dr. Aryo Nugroho, M.T. -Dosen/Jamaah Haji Kloter 37 Surabaya|Editor: Arifin BH