04 April 2025

Get In Touch

RI Diminta Waspada! Virus Langya Infeksi 35 Orang di Cina, Dipantau CDC Eropa

Pemerintah Cina terus melakukan pengecekan kesehatan dengan munculnya virus Langya yang telah membuat sebanyak 35 orang sakit. (Foto:CNA)
Pemerintah Cina terus melakukan pengecekan kesehatan dengan munculnya virus Langya yang telah membuat sebanyak 35 orang sakit. (Foto:CNA)

JAKARTA (Lenteratoday)- Virus baru yang disebut Langya Henipavirus atau Layv baru-baru ini ditemukan di Cina . Sejauh ini, virus Langya telah membuat sebanyak 35 orang sakit. Kemunculan virus ini juga tak luput dari pemantauan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC). Meski risiko warga Uni Eropa terpapar virus ini masih dianggap sangat rendah, virus Langya saat ini ditetapkan berada di bawah pemantauan ECDC.

"Sebagai bagian dari kegiatan intelijen epidemi, ECDC memantau terjadinya infeksi dengan patogen manusia yang muncul termasuk virus dari genus Henipavirus," tulisnya yang dikutip dari laman resmi ECDC, Sabtu (13/8/2022).

"Berdasarkan informasi yang ada saat ini, risiko warga Uni Eropa yang mengunjungi atau tinggal di Provinsi Shandong dan Henan di Cina , tempat virus itu dilaporkan, dianggap sangat rendah. Demikian pula risiko infeksi bagi warga negara Uni Eropa di Eropa, yang dianggap sangat rendah (terinfeksi virus Langya)," jelasnya.

Virus Langya diidentifikasi melalui surveilans sentinel kasus demam dengan riwayat paparan dari hewan yang terjadi di Cina  Timur. Sebanyak 35 orang yang terinfeksi virus Langya terdeteksi di Provinsi Shandong dan Henan, antara bulan April 2018 hingga Agustus 2022.

Dari informasi yang ada, tidak ada indikasi penularan virus Langya dari manusia ke manusia, tetapi hal itu tidak bisa dikesampingkan. Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memahami penularan virus LayV ini.

Sejauh ini, tidak ditemukan adanya kasus kematian akibat virus Langya. Tingkat keparahan dari penyakit ini juga relatif rendah."Gejala dan tanda yang dilaporkan tidak spesifik, sehingga kami tidak dapat mengecualikan terjadinya kasus manusia sebelum 2018 dan distribusi geografis virus yang lebih luas," tulis peneliti.

Berpotensi Ada di Indonesia

Terpiah, epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengatakan kondisi alam di Cina  hampir mirip dengan Indonesia, sehingga ada kemungkinan virus Langya atau virus lain yang berasal dari hewan (zoonotik) dapat mengancam Indonesia.

"Nah kalau bicara seperti ini, kita harus sadari Indonesia adalah salah satu wilayah yang memiliki risiko adanya 'new emerging disease', penyakit baru yang mewabah. Karena alam kita luas, kaya, hewan kita juga banyak masih liar, dan perilaku kita dalam mengelola alam ini terutama peternak dan petani ini masih banyak yang tradisional," ucapnya.

"Potensi ini, situasi alam yang mirip ini, pasti ada, bukan hanya langya virus tapi juga virus-virus lain yang serupa atau bahkan berbeda," sambungnya.

Menurut Dicky, virus Langya yang ada di Cina  kemungkinan besar berasal dari hewan liar sejenis tikus yang menginfeksi para petani. Indonesia yang memiliki keadaan alam mirip dengan Cina  bisa jadi sudah memiliki virus-virus dari hewan liar namun masih belum terdeteksi.

"Dan ini yang cenderung berpotensi menjadi ada yang disebut dengan spill over atau lompatan virus zoonosis dari hewan ke manusia," bebernya.

"Sebagian kasus-kasus ini sudah terjadi, kemungkinan, walaupun tidak mewabah hanya kasus-kasus ringan saja. Karena apa? karena ini selama kita kontak dengan hewan erat, potensi itu ada," tambahnya.

Dicky menyatakan, pemerintah berperan penting untuk melakukan deteksi dini untuk mencegah adanya wabah baru di Indonesia."Pesan pentingnya, sebetulnya adalah sudah saatnya belajar dari pandemi ini meningkatkan, satu, kalau bicara dari aspek pemerintah ya deteksi dini surveilans hewan dan manusia. Itu harus diperkuat dan itu PR besar dan itu tidak mudah ya, perlu waktu, setidaknya satu dekade membangun itu," pesannya.(*)

Sumber:CNA,ist,rls | Editor:widyawati

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.