
MALANG (Lenteratoday) –Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang menjadi pelopor perguruan tinggi swasta di Indonesia yang memiliki dan menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas daya sebesar 0.5 MegaWatt (MW).
ITN juga telah melakukan penjanjian kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur terkait dengan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) tersebut.
"ITN sudah memulai dengan membangun PLTS dengan kapasitas 0.5 Megawatt atau setara dengan 500.000 Watt. Kedepannya juga digunakan untuk menjadi laboratorium lapangan guna mendukung kegiatan pembelajaran bagi dosen dan mahasiswa,” ujar rektor ITN Malang Prof. Dr. Eng. Ir. Abraham Lomi, MSEE, Rektor ITN Malang, usai Penandatangan Kesepakatan Bersama ITN Malang dengan Pemprov Jawa Timur serta Peresmian Wisata Edukasi PLTS, Sabtu (20/8/2022).
Prof. Abraham menambahkan, agenda tersebut merupakan kegiatan yang mengekspos teknologi dan edukasi PLTS, yaitu hasil karya teknologi inovasi peningkatan produk baru dan terbaru dari dosen dan mahasiswa ITN Malang.
"Kita tahu bahwa target Presiden untuk bauran energi di tahun 2025, EBT ditargetkan sebesar 23 persen. Tentu saja untuk mencapai target itu, Pemprov didorong untuk mengembangkan EBT, di instansi masing-masing dan salah satunya di perguruan tinggi seperti ITN Malang ini," imbuhnya.
Rektor ITN Malang tersebut mengharapkan, dengan adanya PLTS yang dimiliki oleh ITN agar menjadi stimulan bagi perguruan tinggi lainnya. Hal ini merupakan wujud kesiapan ITN dalam rangka mengurangi penggunaan energi fosil.
Disinggung mengenai mekanisme penggunaan serta target market, Abraham menyatakan bahwa sampai saat ini PLTS milik ITN Malang masih belum dikomersilkan.
"Belum pada tahap komersial, namun ini merupakan salah satu upaya kita dalam mengembangkan EBT dalam lingkup kampus," cetusnya.
Jika masyarakat hendak menggunakan energi PLTS maka bisa berhubungan langsung dengan PLN, bukan dengan pihak ITN untuk sementara ini.
"Kapasitas 0,5 MW kita gunakan sendiri, karena untuk penggunaannya kita masih sekitar 40 persen sementara 60 persen kita ikutkan ke PLN. Artinya, ITN memproduksi untuk digunakan masyarakat luas, memang secara langsung tidak bisa dengan kita (pihak ITN) namun harus melalui regulasi dengan PLN. Kita kedepannya akan membangun barter bisnis sehingga energi yang kita buat dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk hal-hal yang menyangkut bisnis-bisnis," jelasnya.
Kepala Dinas ESDM Prov.Jatim, yakni Nur Kholis membenarkan bahwa adanya kendala pada regulasi yang diatur dalam peraturan Kementerian, dimana di dalamnya mengatur pembatasan EBT yang dilakukan oleh instansi swasta, bahwa ada presentase sekian persen dari seluruh listrik yang diproduksi oleh swasta.
Nurkholis menyatakan bahwa saat ini Provinsi Jawa Timur merupakan wilayah tertinggi di Indonesia yang memiliki total energi PLTS sebanyak 50MW, termasuk dengan PLTS dari ITN Malang. Sedangkan untuk wilayah Malang terdapat total 75000Watt, dengan rincian yakni RSSA terpasang 25000Watt dan Bakorwil Simpang Ijen sebesar 50000Watt.
Perlu diketahui bahwa Penandatangan Kesepakatan Bersama antara ITN dengan Pemprov Jawa Timur ini langsung menindaklanjuti dengan perjanjian kerjasama antara Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Kerjasama (LP2K) dengan Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Ciptakarya Pronvinsi Jawa Timur.
Adapun perjanjian kerjasama diantaranya meliputi penyusunan dokumen perencanaan pengadaan tanah DPPT Indonesia Islamic Science Park Provinsi Jawa Timur, serta proses percepatan RTRW dan penyusunan rencana tata bangunan dan lingkungan Provinsi Jawa Timur.
Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH