03 April 2025

Get In Touch

Potensi Stunting di Bumiayu Tertinggi, Camat Kedungkandang Terus Kejar Upaya Penurunannya

Prayitno, selaku Camat Kedungkandang, menjelaskan terkait permasalahan stunting yang tinggi di wilayahnya. Ditemui usai menghadiri Sosialisasi Resiko Kekerasan Berbasis Gender Perlindungan, Eksploitasi Seksusal dan Penurunan Stunting.
Prayitno, selaku Camat Kedungkandang, menjelaskan terkait permasalahan stunting yang tinggi di wilayahnya. Ditemui usai menghadiri Sosialisasi Resiko Kekerasan Berbasis Gender Perlindungan, Eksploitasi Seksusal dan Penurunan Stunting.

MALANG (Lenteratoday) – Camat Kedungkandang, Prayitno, mengaku cukup kaget dengan data potensi stunting yang menunjukkan wilayah kelurahan Bumiayu memiliki potensi cukup tinggi. Sebab sebelumnya ia sempat mengira potensi stunting tertinggi di kecamatan Kedungkandang berada pada wilayah Dukun Baran.

“Ini unik, saya kemarin membayangkan kalau tertinggi (potensi stunting) itu Baran, karena kan sinyal di sana susah masuk, jadi informasi ke wargamya juga lambat. Ternyata itu malah landai, dan yang naik itu Bumiayu. Makanya yang kami kejar yakni ke Bumiayu, Arjowinangun, dan Kota Lama. Kita masih telusuri penyebabnya ini persoalan mindset, teknis, pemikiran atau pemahaman mereka terkait dengan stunting,” ujar Prayitno, selaku Camat Kedungkandang, ditemui usai menghadiri acara Sosialisasi Resiko Kekerasan Berbasis Gender Perlindungan, Eksploitasi Seksusal dan Penurunan Stunting, Senin (26/9/2022)

Pihaknya kemudian menyebutkan organisasi seperti PKK dan Pokja IV yang turut bergerak bersama dalam penanganan stunting di Kedungkandang, khususnya wilayah Bumiayu.

“Kami gerakkan mulai dari PKK, dan pokja IV sesuai dengan permasalahannya. Seperti di BumiAyu yang kemarin cukup tinggi, maka kita kejar apa penyebabnya, sehingga kita tahu langkah apa yang harus dilakukan,” cetusnya.

Lebih Lanjut, Camat Kedungkandang tersebut juga menyampaikan bahwa telah melakukan mini lokakarya (minilok) yakni dengan cara bersinergi antara kelurahan di Kedungkandang bersama puskesmas untuk melakukan pencarian titik penyebab stunting.

“Misalnya di Arjowinangun yang terindikasi ASI asupannya rendah. Kita telusuri data dari minilok itu kita cari by name, lokasi, RT, RW, kita monitor semua. Sehingga kita bisa langsung datang ke warga-warga yang mempunyai masalah dengan ASI nya,” jelasnya.

Setelah dilakukannya minilok bersama stakeholder tersebut di atas. Dikatakannya bahwa penyebab stunting di Kedungkandang diketahui berasal dari asupan ASI, gizi, dan medis yang masih menjadi salah satu penyebab teknis terjadinya stunting yang tinggi. Sehingga, Prayitno menekankan perlu adanya dampingan kepada calon ibu, calon pengantin, hingga ibu yang baru melahirkan dan yang memiliki balita dengan maksimal usia 59 bulan.

“Masalah teknis itu ada asupan gizi, asupan ASI, kemudian medis ada apeksia yakni gagal napas, terus ada ibu-ibu yang lingkar lengannya kecil, nah itu juga berpotensi untuk melahirkan bayi yang stunting. Mulai dari calon pengantin kita harus benar-benar beri dampingan. Kita ulas semuanya, masing-masing kelurahan kita deteksi dimana kelemahannya, jadi nanti akan ketemu setiap kelurahan beda permasalahannya,” terang Prayitno.

Selain beberapa penyebab seperti yang telah disebutkan di atas, Prayitno menyebut bahwa pernikahan anak di bawah umur yang cukup banyak terjadi di Kedungkandang dirasa turut menjadi faktor tingginya stunting. Ia kemudian menghimbau kepada orangtua agar tidak lalai dalam menjaga pergaulan sang anak.

“Kita diskusi dengan KUA agar anak-anak di bawah umur yang kejadian terpaksa menikah, supaya tidak sampai terjadi lagi. Makanya ini penting bahwa masyarakat terlebih orangtua harus selalu mengawasi anak laki-laki dan perempuannya, jangan sampai lalai,” tegasnya.

Prayitno mengatakan, data Kedungkandang pada 2021 kemarin terdapat setidaknya 60 pasang anak di bawah umur yang harus menikah di KUA dan akhirnya memunculkan ketidaksiapan calon ayah serta ibu baru, sehingga menghasilkan balita-balita stunting.

“Makanya, dari sisi KUA mengejar untuk giatkan sosialisasi bahwa stunting dan pergaulan bebas anak-anak ini menjadi isu yang harus digencarkan di setiap RT dan RW. Nikah muda, cerai muda. Gizi pas hamil tidak tercukupi, bayinya terindikasi stunting. Kan kasian,” pungkasnya.

Reporter: Santi Wahyu | Editor : Endang Pergiwati

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.