
MALANG (Lenteratoday) – Berbagai instansi terus berupaya memberikan bantuan psikososial pada korban tragedi Stadion Kanjuruhan pada Sabtu (1/10/2022) lalu. Salah satunya adalah dari Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) wilayah Malang yang mengembangkan layanan hotline.
Dekan Fakultas Psikologi UMM sekaligus ketua Himpsi wilayah Malang, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., mengatakan bahwa program ini bersinergi dengan relawan psikolog lembaga perguruan tinggi di Malang.
“Kami terus mengembangkan sinergi sehingga kerja sama dengan lembaga lain seperti UMM, UIN Malang, Universitas Merdeka Malang, Universitas Brawijaya, Save the children, relawan Arema Menggugat, Maharesigana, dan juga 2 hari yang lalu berkoordinasi dengan BTS Army. Jadi untuk kegiatan dikembangkan adalah pelayanan hotline ternyata sangat efektif,” ujar Muhamad Salis Yuniardi ketika memberikan sambutan pada pertemuan relawan Trauma Support Mobility, Kamis (6/10/2022).
Selain memberikan layanan hotline, Salis juga mengatakan bahwa UMM telah mendirikan posko berpusat di Masjid UMM lantai 1 dan bekerjasama dengan DP3A, Aremania Menggugat, serta mahasiswa psikolog terlatih lainnya. Di luar dua layanan tersebut, relawan psikolog, lanjut Salis, juga akan mengunjungi rumah masing-masing korban untuk melakukan asesmen awal.
“Mahasiswa yang telah kami latih, melakukan asesmen awal, intervensi awal lalu dicover ke Himpsi, psikologi UMM, UB, UIN, maupun rekan lainnya yang akan siap mem-back up untuk menurunkan psikolog-psikolognya. Begitu Senin pagi dibuka. Ternyata banyak yang masuk ke kami, yang kemudian kami tangani melalui pelayanan berkunjung ke rumah-rumah dibantu DP3A,” jelasnya.
Terpisah, Ketua DP3A Malang, Arbani Wibowo mengungkap bahwa fokus awal layanan hotline adalah membidik semua anak dan perempuan yang turut menyaksikan langsung pertandingan dan menjadi supporter.
“Namun seiring berjalannya waktu bahwa yang perlu ditangani langsung adalah anak korban meninggal, baik itu orang tuanya atau anggota keluarganya. Dan anak yang mengalami luka fisik. Cuma hal itulah yang kami rasa masih sulit untuk mendapatkan data supporter anak dan perempuan,” paparnya.
Disampaikan oleh Arbani bahwa saat ini, penanganan trauma support mobility telah menjangkau Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.
“Di Wagir hari ini relawan kesana, ada 12 anak yang menjadi korban, 5 orang meninggal, 7 di rumah sakit diantaranya 2 luka berat dan 5 luka ringan,” pungkasnya.
Pelayanan Trauma Support Mobility ini juga mendapatkan apresiasi dari Menteri Koordinanor Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy, sebab menurutnya, perlu adanya fokus yang besar untuk kondisi psikis korban dan keluarga tragedi Kanjuruhan. (*)
Reporter: Santi Wahyun | Editor : Lutfiyu Handi