Bedah Buku Mencintai Munir, Sosok Sederhana dan Pejuang HAM yang Telah Pergi Tapi Tak Pernah Pergi

MALANG (Lenteratoday) – Perjuangan mendiang Munir sampai saat ini masih selalu dikenang dan dilanjutkan. Pejuang HAM yang terbunuh dalam perjalanan ke Belanda ini telah mewariskan nilai-nilai perjuangan kepada generasi masa kini.
Suciwati, istri (alm.) Munir Said Thalib mengatakan, dalam buku yang berjudul Mencintai Munir, dirinya ingin memperkenalkan lebih dalam tentang sosok pejuang HAM yang sederhana tersebut kepada para pembaca. Hal tersebut menunjukkan, meskipun sosoknya telah pergi, namun sesungguhnya tak pernah pergi.
“Saya ingin mengenalkan kepada pembaca, bagaimana seorang Munir tidak hanya tampak luarnya saja. Yang terlihat selalu menunjuk kalau bicara pada penguasa saat menuntut keadilan HAM. Tapi ya yang ditunjuk itu memang orang yang menjalankan kekuasaannya dengan tidak benar. Saya ingin menampilkan bentuk rasa cinta saya lewat buku ini, dan meluruskan kesimpang siuran akan sosok Munir,” seru Suciwati, istri almarhum Munir sekaligus pendiri Museum HAM Munir, dalam kesempatannya menjadi pembicara di agenda diskusi publik FH-UB dan Bedah Buku Mencintai Munir, Jum’at (14/10/2022).
Hal serupa juga diungkap oleh Ketua Panitia Diskusi Publik dan Bedah Buku Mencintai Munir, yakni Bahrul Ulum. Dirinya mengatakan, buku yang ditulis langsung oleh istri mendiang Munir tersebut banyak menceritakan sisi lain dari seorang Munir. Pembaca akan dibawa untuk bersama merindukan akan keadilan dan kebenaran. Sosok Munir sebagai orang yang berani menyuarakan suara-suara terpendam dan tak bersuara dari buruh kecil yang mencari keadilan.
“Ini yang kemudian ingin diperkenalkan oleh Bu Suciati kepada khalayak secara keseluruhan, tidak hanya selama ini Munir yang kita kenal adalah pribadi yang giat melakukan advokasi, tapi juga ketika Munir berada dalam rumah sebagai manusia biasa,” cetus Bahrul Ulum, ditemui di tengah berjalannya acara diskusi.
Lebih lanjut, selain mencoba memperkenalkan sosok Munir lebih dalam. Pada acara yang dihadiri oleh mahasiswa, dosen, teman-teman dari buruh, para advokat, dan lembaga hukum tersebut diharapkan oleh Bahrul agar dapat meneruskan semangat juang sosok Munir dalam membela kaum tertindas.
“Harapannya selain fokus untuk memperkenalkan sosok Munir, yang kedua yakni semoga semangat yang dimiliki oleh Munir untuk pembelaan terhadap kaum kaum mustadh’afin, kaum kaum tertindas, dan yang lemah, itu tersalurkan pada kita semua,” ujarnya.
Bahrul pun sedikit menengok situasi yang sedang terjadi usai tragedi Kanjuruhan, yang mana banyak Aremania menuntut keadilan untuk mengusut tuntas tragedi yang telah menghilangkan sebanyak 132 nyawa tersebut.
“Kita tahu Malang juga saat ini telah melewati situasi yang tidak mengenakkan yakni paska tragedi Kanjuruhan. Tentu untuk melakukan advokasi atas dampak tersebut dibutuhkan semangat yang berlebih, semoga dengan acara ini juga dapat memberikan semangat bagi para korban atau Aremania yang tetap memberikan advokasi untuk bisa mengusut tuntas kejadian tersebut,” tandasnya.
Reporter: Santi Wahyu | Editor : Endang Pergiwati