
SEMARANG (Lenteratoday) -Prihatin dengan kondisi Pantai Utara Jawa yang penuh limbah, menggerakkan hati Salamun untuk mengolahnya. Berbekal ketekunannya dan kepiawaian tangannya, ia mendaur ulang limbah menjadi beragam karya megah dengan brand Merak Jawa.
Berawal dari tahun 2018, ia mulai memilah limbah-limbah yang sekiranya masih bisa didaur ulang. Sebagian besar limbah yang diambilnya berasal dari kaleng bekas makanan.
"Mulai membuat kerajinan ini sejak tahun 2018. Awal mulanya karena rasa prihatin terhadap banyaknya sampah yang ada di pantai. Akhirnya ya sudah saya ambil dan coba saya daur ulang limbah itu. Limbah yang saya ambil ya semuanya, biasanya itu kaleng, bambu, kayu, semua saya ambil dan coba saya kreasikan," ujarnya saat ditemui di Kediamannya di Tambakrejo, Semarang Utara, Selasa (8/11/2022).
Limbah yang diolahnya disulap menjadi replika berbagai hewan dan benda. Mulai dari elang, merak, naga, dan visual warak ngendog.
Ukuran per karyanya mulai dari 40 cm hingga 1 meter. Harga yang dibandroll untuk per karyanya pun mulai dari Rp 200.000 hingga Rp 3.000.000. Adapun waktu yang dibutuhkan untuk membuat suatu karya juga beragam.
"Untuk proses pembuatan tergantung ukuran, kalau kecil itu bisa 6-7 hari kira-kira menghabiskan 4-7 kaleng. Tapi kalau yang besar membutuhkan 37-38 kaleng dan butuh waktu sampai 2 minggu," ujarnya.
Saat ini, untuk mewarnai karyanya, Salamun masih menggunakan pilox dan cat tembok. Nantinya, ia juga berencan akan menggunakan pewarna alami.
Pemasaran Merak Jawa sudah merambah di pasar lokal hingga internasional. Melalui akun media sosialnya, ia menerima pemesanan dari pelanggan setianya.
"Pasarnya paling banyak Semarang dan Jogja, tapi juga pernah dua kali terjual di luar negeri, yaitu Singapura dan Malaysia. Kalau penjualannya saya lewat Instagram @kerajinan_merak_raja," katanya.
Reporter: Azifa Azzahra|Editor: Arifin BH