
SURABAYA (Lenteratoday) – “Karena gila, semua jadi ada.” Kalimat ini sempat diulang beberapa kali oleh aktor monolog Jedink Alexander saat memainkan naskah berjudul Terlambat Jeda di Gedung Cak Durasim Taman Budaya Jatim, Sabtu (19/11/2022) malam.
“Karena ada orang gila, semuanya jadi ada. Artinya, orang gila itu membuat dokter, perawat, psikiater dan rumah sakit jiwa itu jadi ada,” terang Jedink Alexander, aktor Terlambat Jeda.
Pemahaman masyarakat umum tentang kegilaan atau orang gila dibongkar kembali melalui pentas monolog ini. Kegilaan yang menjadi problematika kehidupan normatif. Norma sosial yang menganggap kegilaan menjadi aib sosial yang harus diasingkan ketempat-tempat terisolir. Dalam pentas ini, masyarakat diajak berpikir kembali, bahwa orang gila bukan lagi kelompok tak berguna, bahkan sebaliknya karena mereka lah, para dokter, psikiater, dan perawat itu memiliki pekerjaan.
Karena adanya orang – orang gila ini, rumah sakit jiwa itu dibangun. Artinya, orang-orang gila ini juga memberi pekerjaan dan nafkah untuk orang lain. “Bahkan Dinas Sosial pun turun ke jalan untuk mengurus orang-orang gila ini,” tambah Mahmoud Elqadrie, penulis naskah monolog ini.
Mahmoud yang sebelumnya juga melakukan riset terhadap para pasien rumah sakit jiwa ini mengungkapkan bahwa orang itu memory yang berputar. “Jadi bukannya hilang, ingatannya ada Cuma tidak berurutan. Di kepala orang gila itu, memory berkumpul, namun karena dia tidak memiliki kesadaran seperti orang lain, memorinya tidak karuan, seperti pita ruwet, namun dalam keruwetan itu ada potongan cerita pengalaman hidup yang terkait, misalnya dia dulu pernah sukses,” paparnya.
Dalam pandangan Mahmoud, orang gila juga memiliki kontribusi terhadap kehidupan banyak orang. Adanya ilmu jiwa, dokter jiwa, dan perawat karena ada pasien penyakit jiwa itu. “Gila itu asyik asyik aja, tetapi orang biasanya menganggap orang gila sebagai orang terbuang. Padahal orang gila punya kontribusi ” tuturnya.

Terkait pentas monolog yang berangkat dari naskah yang ditulisnya setahun terakhir ini, menurut Mahmoud, dirinya tidak berharap seluruh pementasan akan sesuai dengan apa yang ditulis dalam naskah. “Itu keniscayaan. Pikiran penulis tidak akan seratus persen diterjemahkan oleh sutradara. Namun garis besarnya kena. Misalnya, dalam pementasan menggunakan multi media, padahal dalam naskah tidak ada. Namun naskah sudah menjadi milik sutradara dan aktor ketika dipentaskan,” ucap Sekjen Teater Asdrafi Yogyakarta ini.
Karya monolog yang disutradai oleh Bramanti F. Nasution, ini tengah pentas keliling di lima kota, mulai dari Yogayakarta, Solo, Bogor dan terakhir di Kota Surabaya ini.(*)
Reporter : Endang Pergiwati | Editor: WIdyawati