04 April 2025

Get In Touch

Ugo Untoro: Seniman Surabaya Telah Kehilangan ‘Kenakalannya’

Seniman Ugo Untoro
Seniman Ugo Untoro

SURABAYA (Lenteratoday) – Seniman kelahiran Purbalingga, Ugo Untoro menyayangkan seniman Kota Surabaya mulai kehilangan ‘kenakalannya’. Hal itu diungkapkannya saat mengikuti Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) yang digelar di Gedung JX Internasional, Jalan A Yani Surabaya.

“Seniman Surabaya punya kekuatan sendiri yang berbeda dengan daeah lain. Mereka memiliki gaya dan warna tersendiri. Bahkan warna mereka saya lihat warna norak. Mereka tidak peduli teknik, mereka hanya perduli apa yang ingin disampaikan. Saya lihat karakter Surabaya seperti itu. Tetapi kini, entah karena pasar atau pendidikan seni yang memang sering mengacu pada Yogyakarta atau Bandung, karakter Surabaya yang begitu mulai hilang,” ungkap Ugo Untoro, di Gedung JX Internasional, Senin (21/11/2022).Selain mengikuti pameran, Ugo Untoro juga menjadi pembicara dalam berbagai diskusi.  

Kekuatan seniman Surabaya yang non-teknik , dengan ekspresi yang sangat kuat menjadikan karya Surabaya memiliki ciri khas. Ugo lantas menyebut contoh seniman Gombloh, Leo Kristi. “Karya Gombloh dan Leo Kristi, misalnya, secara industrial mereka tidak laku sebenarnya. Alat musik yang dipakai pun tidak karuan. Syairnya juga nakal,“  tuturnya.

Sayangnya, karakter ‘nakal’ itu, menurut Ugo, kini berubah.  “Entah mengapa, sekarang semua mengacu pada keseragaman. Tidak hanya Surabaya, namun Yogya, Bandung, semua juga begitu mengarah pada keseragaman,” tambahnya.

Hal ini ia lihat mulai sekitar tahun 2008, yang ditandai dengan era ‘booming lukisan’. Menurut Ugo, tak bisa dibedakan lagi karya seniman Yogyakarta, Bandung, Jakarta dan Surabaya, semua tampak ‘seragam’.

Di sisi lain, budaya dan kesenian kekinian kontemporer telah dipahami dengan keliru. “Kontemporer itu sebenarnya mengangkat persoalan personal, lokalitas. Pemahaman kita terhadap sebuah isu atau peristiwa menurut pembacaan kita, atau personal kita, tetapi yang kita lihat saat ini, semuanya malah seragam,” ucapnya.

Institusi pendidikan, dalam pandangan Ugo memang memiliki kontribusi yang sangat besar dalam mencetak anak didiknya. Termasuk dalam institusi pendidikan seni. “Seharusnya pendidikan itu memberi ruang untuk kebebasan berpikir yang lebih luas, cara pandang atau sudut pandang yang beragam,” katanya.  

Namun Ugo juga melihat adanya usaha dari para seniman maupun akademisi Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) dan Aksera untuk menolak keseragaman itu. Diakui Ugo, hal inilah yang membuat Ugo bersedia untuk diundang ke Surabaya dan mengikuti PSLI di JX Internasional ini. “Saya  melihat dalam visi misi penyelenggaraan dari PSLI ini ada pembaruan. Selain itu, di sini ada seniman yang tidak berangkat dari pendidikan formasl, namun dari sini mereka bisa hidup. Bagi saya, itu energi yang luar biasa,” ucapnya.

“Saya berharap banyak pada Aksera dan STKW, mereka bisa mengembalikan seni pada hakekatnya, dimana seni merupakan ruang yang sangat personal, dimana orang punya kebebasan untuk berpikir, bisa berangkat dari sudut pandang kita, pengalaman kita dan kita berani untuk menuangkan itu,” katanya.

Sementara Dosen STKW, Agung Suryanto, atau yang akrab dipanggil Agung Tato, sepakat dengan Ugo. Hal itu menurut Agung Tato, tidak lepas dari lembaga pendidikan seni. Karena itu pula, dirinya bersama institusi STKW berupaya untuk membongkar keseragaman itu dari kurikulum di institusi tempatnya mengajar. “Kami telah menerapkan pada mahasiswa STKW untuk membebaskan karya mereka, dengan cara mengubah kurikulum. Dulu ada matakuliah Lukis, Patung, Grafis, sekarang dijadikan satu menjadi matakuliah Seni Visual, dimana mahasiswa boleh membuat piring, mangkok, anyaman, rajutan dan apa saja, yang pasti harus seni visual. Matakuliah ini diletakkan pada Seni Kontemporer,” ungkapnya.

Sebagai pengajar, terhadap beranekaragamnya karya mahasiswa tersebut, dirinya tidak lagi menerapkan sistem penilaian yang sama dengan sebelumnya. “Yang kami nilai adalah proses dia mencari jati dirinya pada saat mengerjakan projectnya itu. Jadi mahasiswa tidak lagi mendapat tugas membuat produk, melainkan project. Dengan project, ada proses trial and error, proses inilah yang dinilai,” tuturnya.

Harapannya, dengan sistem kurikulum ini, mahasiswa seni bisa memiliki proses personal, yang berangkat dari diri sendiri dan sehingga menghasilkan gagasan dan pola berpikir yang tidak hanya mengekor pada yang sudah ada. (*)

Reporter : Endang Pergiwati | Editor:Widyawati

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.