06 April 2025

Get In Touch

Konsisten Turunkan Stunting, Pemkot Malang Optimalkan Operasi Bulan Timbang

Wali Kota Malang, Sutiaji saat memberikan sambutannya dalam giat Evaluasi Rencana Tindak Lanjut Audit Kasus Stunting 2022, Rabu (23/11/2022). (Foto:Santi/Lentera)
Wali Kota Malang, Sutiaji saat memberikan sambutannya dalam giat Evaluasi Rencana Tindak Lanjut Audit Kasus Stunting 2022, Rabu (23/11/2022). (Foto:Santi/Lentera)

MALANG (Lenteratoday) – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang konsisten mengupayakan penurunan angka stunting di wilayahnya. Diketahui, saat ini angka stunting Kota Malang mencapai 8,67%. Walhasil, untuk memaksimalkan penurunan stunting, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang akan mengoptimalkan operasi bulan timbang. Yaitu pengukuran panjang atau tinggi badan pada anak usia di bawah 2 tahun.

“Ini kan tiap bulan kita timbang. Sehingga yang sudah kita keluarkan dari pendek dan sangat pendek itu kita jaga. Supaya jangan masuk lagi ke pendek. Yaitu tetap dengan intervensi. Nah yang masih di pendek atau sangat pendek itu yang masih dikuatkan intervensinya,” ungkap Kepala Dinkes Kota Malang, Husnul Muarif, ditemui usai memberikan arahan pada agenda Evaluasi Rencana Tindak Lanjut Audit Kasus Stunting 2022, Rabu (23/11/2022).

Husnul menyampaikan, dengan pengoptimalan bulan timbang maka diharapkan tingkat stunting di Kota Malang dapat terus berkurang setiap bulannya. Sehingga, di tahun 2023, angka stunting di Kota Malang dapat mencapai atau bahkan melampaui target prevalensi stunting pemerintah pusat, yakni sebesar 14%.

“Makanya di setiap bulan itu (harapannya) bisa berkurang. Misalnya pendek masuk ke normal, atau sangat pendek masuk ke pendek. Intervensi (fokus) di kesehatan. Karena itu yang spesifik. Dimulai dari kesehatan reproduksi remaja sampai pada balita. Itu program kita masuk di 9 pilar,” urainya.

Lebih lanjut, berdasarkan Pemantauan Status Gizi (PSG) yang dilaporkan pada Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM). Tingkat stunting Kota Malang telah melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2022 Kota Malang dengan target 16%. Sehingga capaian tersebut, dikatakan Husnul harus terus dijaga dengan konsisten.

“Jadi untuk Pemantauan Status Gizi (PSG) yang dilakukan oleh teman-teman Puskesmas, yang dilaporkan di E-PPGBM yang ada di Provinsi, itu 8,67 persen. Kalau di RPMJMD tahun 2022, targetnya itu 16 persen. Berarti sudah baik karena melampaui target,” terangnya.

Terlepas dari capaian penurunan angka stunting. Husnul juga menyebutkan hasil dari audit stunting Kota Malang, di semester 2 tahun 2022. Dari hasil tersebut, diketahui 4 faktor yang telah dilakukan sampling, dan dapat menyebabkan pertumbuhan stunting. Diantaranya yakni, calon pengantin (catin), ibu hamil, ibu nifas, dan anak usia di bawah 2 tahun (baduta).

Terpisah, Wali Kota Malang, Sutiaji menekankan dalam pengoptimalan penurunana stunting. Semua stakeholder harus terlibat, mulai dari RT/RW, Lurah, hingga OPD terkait.

“Harapannya ini mampu untuk mitigasi (stunting). Sehingga ini bukan hanya urusan Dinkes dan Dinsos saja. Tapi dibantu Pak Lurah untuk mencegah, mengurangi angka stunting. Karena nanti kan dilihat pada data-data timbangannya. Jadi harus tau ini faktornya apa, oh gizi kurang, dan seterusnya,” ungkap Wali Kota Malang, Sutiaji, ditemui pada kesempatan yang sama.

Diakhir, Sutiaji menekankan bahwa saat ini Pemkot Malang telah berupaya mengoptimalkan ketersediaan infrastruktur dan asupan gizi untuk masyarakatnya. Sutiaji juga mengatakan terus memperkuat pelayanan di bidang kesehatan.(*)

Reporter: Santi Wahyu | Editor: Widywati

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.