
MALANG (Lenteratoday) – Harga kedelai terus alami kenaikan, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang beberkan tempe jadi salah satu penyumbang utama inflasi. Kepala BPS Kota Malang, Erny Fatma Setyoharini mengatakan, per November 2022 tempe menduduki urutan pertama sebagai komoditi pangan penyumbang inflasi dengan persentase 0,412%.
“Tempe ini mengalami kenaikan harga 8,12 persen. Juga jadi andil utama inflasi di bulan November, diperingkat pertama yakni sebesar 0,412 persen karena kenaikan harga kedelai,” ujar Kepala BPS Kota Malang, Erny Fatma Setyoharini, ketika dikonfirmasi oleh awak media, Selasa (6/12/2022).
Dikatakannya, meskipun komponen bahan makanan di bulan November cenderung melandai dan mengalami deflasi sebesar (minus) 5,44%. Namun tidak dipungkiri bahwa perkembangan harga komoditas cukup bergejolak. Erny menyebutkan, walaupun dalam segi harga tempe tidak terlihat signifikan. Namun banyak pedagang mengakali kenaikan harga kedelai dengan memperkecil ukuran tempe.
“Ini biasanya kita survey secara mingguan karena memang fluktuatif sekali. Bawang merah di bulan November itu mengalami inflasi sebesar 10,88 persen. Kemudian tempe juga naik karena harga kedelai naik. Walaupun kita tidak mengalami kenaikan harga, tapi secara ukuran, tempe saat ini diperkecil oleh pedagang,” urainya.
Selain tempe dan bawang merah, telur ayam juga disebutkan oleh Erny menjadi komoditi yang mengalami kenaikan harga. Sementara itu, cabai rawit, cabai merah, dan bawang putih cenderung mengalami deflasi dan harga turun.
“Kalau telur ayam mulai naik lagi jadi 7,19 persen. Cabai rawit, cabai merah, bawang putih itu cenderung turun harga,” tandasnya.
Disisi lain, mengkonfirmasi kenaikan harga tempe di Kota Malang. Salah satu pedagang di Pasar Oro-oro Dowo, Kota Malang menyebutkan bahwa harga kedelai yang naik menyebabkan pihaknya harus mengecilkan ukuran tempe yang biasa dijualnya.
“Kalau dulu (tempe) 10 ribu dapat 4, sekarang hanya 3 biji. Ini naik sudah lama, sekitar januari 2022 sudah naik delenya. Sizenya diperkecil untuk mengantisipasi kenaikan,” ungkap Moh. Syifa, pedagang tempe di Pasar Oro-oro Dowo, Selasa (6/12/2022).
Lebih lanjut, Syifa menyebutkan kenaikan kedelai juga membuat harga tempe semakin naik, terlebih saat menjelang natal dan tahun baru (nataru) seperti saat ini. Dijelaskannya, 1 kilogram kedelai saat ini dijual seharga Rp 15 ribu. Padahal, harga biasanya hanya dibanderol seharga Rp 6 ribu.
Atas hal tersebut, Syifa mengaku cukup mengalami penurunan penjualan, meskipun tidak banyak. Menurutnya, pembeli cukup menyadari akan kenaikan komoditi pangan yang terjadi saat ini.
“Pembeli sudah tahu, sudah menyadari. Asalkan kualitasnya sama. Kalau untuk penjualan sedikit turun. Dari biasanya bawa 12 potong yang besar, sekarang hanya 10. Kalau hari besar atau Sabtu Minggu ditambahi sedikit,” tandasnya.
Disisi lain, pedagang bumbu dapur di Pasar Oro-oro Dowo juga mengaku adanya lonjakan harga bawang merah. Menurutnya, harga beli bawang merah saat ini menyentuh Rp 40 ribu per kilo, dengan kualitas yang bagus. Sebelumnya, bawang merah berada pada harga Rp 34 ribu/kilo.
“Bumbu dapur naiknya di bawang merah. Harga belinya 40ribu untuk yang bagus. Biasanya 34rb. Minat pembeli tetap stabil, karena memang kebutuhan. Dari segi penjual untung tapi cuma sedikit. Istilahnya untuk membeli lagi itu harus nambahi,” cetus salah satu pedagang bumbu dapur di Pasar Oro-oro Dowo, Ismawati.
Sebagai informasi, BPS Kota Malang mengatakan bahwa per November 2022, inflasi kota Malang yang berada pada 6,61% termasuk rendah jika dibanding bulan sebelumnya. Erny bahkan menyebutkan persentase tersebut lebih rendah 0,01% dibandingkan dengan tingkat inflasi Provinsi Jawa Timur.(*)
Reporter: Santi Wahyu | Editor: Widyawati