21 April 2025

Get In Touch

Kerusuhan di Wamena Tewaskan 10 Orang, Kapolda Papua Minta Maaf

Kapolda Papua Irjen Polisi Mathius Fakhiri (Ant)
Kapolda Papua Irjen Polisi Mathius Fakhiri (Ant)

MIMIKA (Lenteratoday) -Kapolda Papua Irjen Mathius D Fakhiri menyampaikan rasa prihatin dan permintaan maafnya kepada para korban kericuhan di Sinakma, Distrik Wamena, Kabupaten Jayawijaya yang terjadi pada Kamis (23/2/2023) siang.

Aparat keamanaan dikatakannya telah berusaha menjaga situasi tetap kondusif, namun massa sudah tidak terkendali dan bersikap anarkis.

"Saya menyampaikan permohonan maaf dan turut berduka cita. Berdasarkan update terkini, situasi di Wamena sudah terkendali dan berangsur-angsur kondusif," ujarnya di Mimika, Jumat (24/2/2023).

Fakhiri menjelaskan, pada awalnya Polisi hanya ingin menghentikan upaya main hakim sendiri yang akan dilakukan oleh sejumlah warga yang menuduh dua pedagang sebagai pelaku penculikan anak.

Namun, ada sekelompok massa yang tiba-tiba datang dan membuat situasi tidak terkendali sehingga aparat keamanan terpaksa melakukan tindakan tegas.

"Kericuhan di Wamena dipicu hoaks atau isu yang tidak benar tentang penculikan anak di bawah umur. Hal inilah yang direspons Polres Jayawijaya untuk menghentikan aksi main hakim sendiri sesuai instruksi saya untuk menindaklanjuti isu yang tidak benar yang beredar di tengah masyarakat. Akan tetapi situasi yang terjadi malah berbalik," tuturnya,

Kini, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Jayawijaya sedang berusaha membangun komunikasi terhadap tokoh-tokoh agama, masyarakat dan adat setempat.

"Forkopimda telah mengambil langkah bersama untuk agar terciptanya situasi yang kondusif di Wamena. Forkopimda juga akan berkomunikasi dengan tokoh masyarakat setempat," kata dia, mengutip Kompas.

Peristiwa kericuhan bermula ketika warga menghentikan sebuah mobil yang digunakan untuk berjualan, di Sinakma, Kamis (23/2/2023) siang. Dua orang yang ada di dalam kendaraan tersebut dituduh menculik seorang anak.

Kapolres Jayawijaya yang mendapat laporan tersebut kemudian tiba di lokasi untuk mengendalikan situasi.

Ajakan Kapolres untuk menyelesaikan masalah di Kantor Polres Jayawijaya sempat diterima, namun tiba-tiba muncul sekelompok warga yang melakukan provokasi dan kemudian melakukan aksi anarkistis.

Tidak hanya berusaha menyerang dua warga yang dituduh menculik anak, massa juga menyerang aparat keamanan yang ada di lokasi.

Peringatan yang diberikan oleh Polisi pun tidak dihiraukan massa yang terus berusaha menyerang aparat keamanan dan kendaraan yang ada di lokasi kejadian.

Akibatnya aparat terpaksa melepaskan tembakan untuk membubarkan massa yang terus bersikap anarkis dan melakukan pembakaran bangunan (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.