05 April 2025

Get In Touch

Studi Tiru Malioboro, DPRD Gresik Kaji Tata Kelola Bandar Grisse

Studi Tiru Malioboro, DPRD Gresik Kaji Tata Kelola Bandar Grisse

GRESIK (Lenteratoday) - DPRD Kabupaten Gresik menggandeng Komunitas Wartawan Gresik (KWG) melaksanakan studi tiru ke Malioboro, Yogyakarta, Jumat (17/3/2023). Kegiatan ini bertujuan untuk mengkaji tata kelola wisata Malioboro untuk pengembangan Bandar Grissee.

Studi tiru ini dipimpin oleh Wakil Ketua DPRD Gresik Ahmad Nurhamim. Ia menyampaikan bahwa, keberadaan kawasan Bandar Grisse di Jalan Basuki Rahmat hingga Setia Budi, Kecamatan Gresik bisa mendongkrak pariwisata dan pekonomian apabila dikelola dengan tepat. Oleh karena itu, pihaknya akan mengkaji tata kelola Malioboro, khususnya penataan UMKM dan parkir untuk diadobsi di Bandar Grissee. Tentu dengan tetap mengedepankan karakter yang ada di Bandar Grissee.

"Bandar Grissee memiliki karakter unik, menawarkan integrasi antaretnis di satu lingkungan terintegerasi. Bandar Grissee terbagi menjadi lima kampung yaitu Kampung Peranakan, Kampung Kolonial, Kampung Pecinan, Kampung Pribumi, dan Kampung Arab," tandasnya.

Nurhamin menambahkan, keberagaman masyarakat di wilayah itu memang bisa menjadi simbol miniatur keberagaman budaya. Tak heran, bila pemerintah pusat menggelontorkan anggaran Rp 47 miliar melalui Kementerian PUPR untuk penataan kawasan.

"Nah kami ini belajar ke Yogyakarta, ingin mencontoh kawasan Malioboro yang menjadi primadona. Kami kaji bagaimana tata kelolanya," tandasnya kembali.

Menurutnya, kawasan Malioboro dan Bandar Grisse memiliki kesamaan. Di antaranya, terdapat histori. Dahulu di Jalan Basuki Rahmat merupakan kawasan kepelabuhanan (syahbandar) yang terkenal.

"Saya kira ada suatu kesamaan. Sehingga, kami tidak rugi belajar kesini karena sama-sama ada prespektif ekonomi, histori. Nanti hasil diskusi ini akan kami adopsi, sehingga studi komparasi ini ada hasil," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti menyampaikan, kawasan Malioboro sudah ada sejak tahun 1940. Akan tetapi dalam perkembangannya terdapat inovasi dalam pengelolaan.

"Yang terbaru, kawasan PKL dulunya berada di sekitar trotoar kini kami buatkan tempat khusus dan ada sentranya. Meski awalnya sangat sulit dan ada pro kontra namun kami berhasil melakukan. Kami butuh waktu setahun untuk itu," ucapnya.

Yetti mengungkapkan, pengelolaan Malioboro di bawah UPT Pengelolaan Cagar Budaya. Unit pelaksana tugas tersebut mempunyai wewenang dan tanggungjawab penuh.

"Seperti pengaturan PKL, pedagang, pengamen, bahkan soal kebersihan dan keamanan serta pekerja kreatif lainnya. Kami terus mengawasi, sehingga bisa terkontrol. aktivitas seperti pengamen itu izin ke UPT," tuturnya.

Ke depan, tambah Yetti, diharapkan ada kolaborasi yang dilakukan Pemkab Gresik dan Pemkot Yogyakarta. Hal ini penting untuk menghasilkan ide dan gagasan baru dalam membangun pariwisata budaya.

"Tentu kami senang jika bisa kolaborasi bersama. Kami siap datang ke Gresik untuk sama-sama belajar. Yogyakarta dan Gresik ada kesamaan semoga nanti kita bisa berkunjung kesana," imbuhnya.

Sementara itu, Ketua KWG, Miftahul Arif menambahkan, selain berperan dalam mempromosikan keberhasilan daerah, KWG juga berkomitmen kolaborasi dengan pemerintah baik eksekutif maupun legislatif.

"Seperti kegiatan kali ini, kami membuat program studi banding yang diharapkan ada manfaatnya untuk pengembangan pariwisata khususnya kawasan Bandar Grisse di Gresik," katanya.

Dia menambahkan, kawasan wisata Bandar Grisse kebetulan berada di depan Kantor Sekretariat KWG. Hal ini harus dimanfaatkan secara maksimal untuk menumbuhkan ekonomi masyarakat sekitar.

"Kami berharap nantinya kawasan Bandar Grisse ini bisa ramai dikunjungi wisatawan seperti Jalan Malioboro Yogyakarta," tutupnya. (ADV/Asepta YP)

Editor: widyawati

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.