Wakil Ketua DPRD Gresik Nurhamin: Pengembangan Bandar Grissee Harus Optimalkan Tiga Perspektif

GRESIK (Lenteratoday) - Berdasarkan hasil studi tiru DPRD Kabupaten Gresik bersama dengan Komunitas Wartawan Gresik (KWG) ada tig prespektif yang harus dioptimalkan untuk pengelolaan kawasan wisata heritage, Bandar Grisse sehingga mampu menjadi pilihan wisatawan dan memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar. Hal ini disampaikan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Gresik, Ahmad Nurhamin, Sabtu (18/3/2023).
"Jika kita belajar dari Malioboro yang menjadi salah satu ikon Kota Yogyakarta, setidaknya ada tidak prespektif yang harus dioptimalkan di Bandar Grissee. Yaitu prespektif historis, potensi ekonomi dan manajemen," ujar Nurhamim.
Dia menjelaskan, prespektif historis sangat penting dalam mengangkat potensi kawasan wisata. Untuk itu, perlu ada kajian sejarah terhadap kawasan Bandar Grisse.
"Sejarah wilayah ini nanti akan menjadi pembeda dari daerah lainnya. Inilah yang akan menjadi karakter di Bandar Grissee nantinya" terangnya.
"Kita tahu Bandar Grisse punya sejarah panjang berkaitan dengan pelabuhan Gresik. Apalagi ada lima kampung yang ada di dalamnya, yaitu Kampung Peranakan, Kampung Kolonial, Kampung Pecinan, Kampung Pribumi, dan Kampung Arab," imbuhnya.
Menurut Nurhamin, keberadaan Bandar Grisse diyakini bisa mendongkrak pariwisata dan ekonomi. Sehingga tak salah pemerintah pusat menggelontorkan anggaran untuk penataan kawasan.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti mengungkapkan bahwa, kawasan Malioboro sudah ada sejak lama. Namun, dalam perkembangannya terdapat inovasi dalam pengelolaannya.
"Yang terbaru, kawasan PKL dulunya berada di sekitar trotoar kini kami buatkan tempat khusus dan ada sentranya. Meski awalnya sangat sulit dan ada pro kontra namun kami berhasil melakukan," ujarnya.
Diungkapkan Yetti, pengelolaan Malioboro di bawah UPT Pengelolaan Cagar Budaya. Unit pelaksana tugas itu mempunyai wewenang dan tanggungjawab penuh.
"Seperti pengaturan PKL, pedagang, pengamen, bahkan soal kebersihan dan keamanan dan pekerja kreatif lainya. Kami terus mengawasi sehingga bisa terkontrol. aktivitas seperti pengamen itu izin ke UPT," terangnya.
Ke depan, Yetti juga berharap ada kolaborasi yang dilakukan Pemkan Gresik dan Pemkot Yogyakarta. Hal ini penting untuk menghasilkan ide dan gagasan baru dalam membangun pariwisata budaya.
"Tentu kami senang jika bisa kolaborasi bersama, dan kami siap datang ke Gresik untuk sama-sama belajar. Yogyakarta dan Gresik ada kesamaan, semoga ada kesamaan kesana," pungkasnya. (ADV/Asepta YP)
Editor: widyawati