
SETELAH berada di Turki selama 6 malam, catatan menarik dari perjalanan ini adalah pemerintah dan masyarakat Turki terlihat sangat serius dalam mengelola sektor pariwisata.
Beberapa kota yang memiliki potensi wisata dikembangkan secara maksimal sehingga menjadi tujuan yang dikunjungi banyak wisatawan. Dan tentu saja, bisa memberikan banyak kesempatan kerja kepada masyarakat.
Sebelum ke Istanbul kami bermalam di Kusadasi kota di tepi laut dengan kontur wilayah berbukit. Ada catatan menarik, penduduk tetapnya cuma 100.000 orang ketika musim dingin, tetapi mulai musim semi kunjungan wisatawan bisa naik melebihi jumlah penduduk tetap bahkan saat musim panas bisa dikunjungi 2 juta wisatawan sehingga memberikan lapangan kerja yang sangat luas bagi penduduk tetap dan menarik orang-orang di kota sekitarnya menjadi pekerjaan musiman.
Kota Istanbul sendiri memang sangat eksotis karena banyak bangunan seperti Hagia Sophia menjadi bukti sejarah masa kejayaan kekaisaran Byzantium. Juga bangunan istana Topkapi dan masjid Al Fatih atau dikenal sebagai masjid biru yang dibangun saat masa kekhalifahan Utsmaniyah setelah Muhammad Al Fatih menaklukan sebutan kota Konstantinopel dan merubah namanya menjadi Istanbul.

Bangunan-bangunan peninggalan sejarah tersebut masih sangat terpelihara dan menjadi obyek kunjungan yang sangat menarik, menurut Sarjan -pemandu wisata, kunjungan wisatawan yang tercatat masuk ke Turki lewat Istanbul di tahun 2022 sekitar 20 juta.
Wisatawan dari Indonesia termasuk sangat besar. Indikasinya adalah beberapa tur guide seperti Sarjan berani mengambil pangsa pasar khusus melayani wisatawan Indonesia.
Kemudian banyak pedagang souvenir yang bisa tawar menawar berbahasa Indonesia bahkan sempat menerima pembayaran dalam mata uang rupiah
H. Mukharam Khadafi -Direktur Manaya Indonesia yang mengantarkan kami, menyebutkan, sistem kepariwisataan di Turki sudah sangat tertata. Kalau ingin murah kita harus mengikuti program bekerjasama dengan travel lokal dan paket kunjungan yang mereka tentukan.
Termasuk kunjungan ke tempat penjualan barang seperti carpet, pottery dan jewels & sultanic stones di Coppadocia.

Di Pamukkale mampir ke outlet textile and leather goods sisa ekspor. Barang-barang ini bisa jadi sebetulnya barang palsu. Tempat-tempat belanja yang sudah ditentukan di setiap tujuan, barang yang dijual di toko-toko memang berkualitas tetapi harganya juga tidak murah.
Sepertinya ada program subsidi silang, biaya transportasi dan akomodasi murah, tetapi wisatawan "dipaksa" untuk menyediakan dana cukup besar untuk belanja souvenir atau barang yang ditawarkan di toko yang dikunjungi.
Kalau kita ingin membuat program sendiri tanpa paket kunjungan ke toko-toko harga paketnya akan mahal, demikian juga kalau tanpa kerjasama dengan travel lokal kita akan kesulitan untuk mencari persewaan transportasi dan akomodasi.
Turki memang destinasi wisata yang sangat menarik karena eksotisme alam dan banyaknya peninggalan sejarah peradaban yang bisa kita lihat.
Kalau ingin sesuatu langsung dibeli saja tanpa dihitung. Sebagai contoh: untuk minum jus jeruk segar segelas 100TL (Rp.65.000) padahal di Car Free Day cuma Rp. 10.000. Mie dalam gelas styrofoam brand Indonesia tetapi diproduksi untuk pasar Turki (tercantum bahasa Turki) harganya 40TL (Rp.26.000) per cup. BarakALLAH!
Penulis: Muh. Rudiansyah, Wiraswastawan|Editor: Arifin BH