05 April 2025

Get In Touch

Utang Lagi, Beban Negara Makin Berat

Utang Lagi, Beban Negara Makin Berat

Jakarta – Belum satu bulan dilantik, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani membuat kebijakan mengundang kontroversi yaitu ingin menambah utang. Rencana tersebut dianggap malah akan membebani keuangan Negara.

Kritikan itupun disampaikan oleh Anggota DPR RI Heri Gunawan. Dia mengatakan Menkeu akan menambah utang dengan menerbitkan surat utang berdenominasi valuta asing (valas) atau global bond yang ditawarkan kepada para investor asing. Rencana penambahan utang ini dilakukan dengan dalih Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 mengalami defisit dan kebutuhan negara yang membesar.

 “Jalan pintas yangdiambil Kementerian Keuangan dengan cara menerbitkan global bond secara tidaklangsung membuktikan bahwa tidak adanya perbaikan ekonomi selama lima tahunbelakangan ini. Pertumbuhan ekonomi tidak pernah mencapai target dan penerimaanpajak yang selalu meleset. Selama ini pemerintah tidak berhasil melakukandiversifikasi sumber pemasukan dari sektor pajak dan masih mengandalkansumber-sumber lama dari sektor migas,” paparnya.

Padahal, lanjut Heri Gunawan, kondisi harga komoditas saatini mengalami penurunan akibat tensi perang dagang dan ketidakpastian ekonomiglobal. Surat utang tersebut dikabarkan akan diterbitkan dalam dua valuta asing(dual-currency) berdenominasi dollar AS dan Euro. Masing-masing sebesar 1miliar dollar AS untuk tenor 30 tahun dan EUR 1 miliar untuk tenor 12 tahun.Itu berarti akan jatuh tempo pada 30 Oktober 2031 dan 30 Oktober 2049.

 “Apa yang dilakukan Menkeu Sri Mulyani pada periode keduanya ini tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, tidak ada hal yang baru. Utang, utang, dan utang,” ungkap politisi Partai Gerindra itu.

Semetara, beberapa waktu lalu, Kepala Biro Komunikasi danLayanan Informasi Kementerian Keuangan, Nufransa Wira Sakti, dalam keteranganresmi di Jakarta mengatakan Kemenkeu akan mengkombinasikan pembiayaan, baikdari domestik maupun internasional. Diantaranya adalah dengan berencanamenerbitkan Surat Utang Negara (SUN) dalam dua valuta asing atau dual-currencyberdenominasi dollar AS dan euro, masing-masing sebesar satu miliar dollar ASuntuk tenor 30 tahun dan satu miliar euro untuk tenor 12 tahun.

Dia mengatakan bahwa Penerbitan SUN dual-currency dilakukan padamomentum yang tepat dengan memanfaatkan kondisi pasar keuangan yang relatifstabil. Termasuk juga dengan menjaga kecukupan likuiditas dalam negeri. SUNjuga untuk mengatisipasi pelebaran anggaran APBN Tahun Anggaran 2019, sebagaiimplementasi kebijakan counter-cyclical. (ist/ufi)

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.