07 April 2025

Get In Touch

Pemantau Iklim Dunia Laporkan, Suhu Panas Meningkat di Eropa

Gambaran orang-orang menyejukkan diri di air mancur Trocadero di depan menara Eiffel, menjelang Olimpiade Paris 2024 yang diperkirakan akan dilanda gelombang panas musim semi. (Getty)
Gambaran orang-orang menyejukkan diri di air mancur Trocadero di depan menara Eiffel, menjelang Olimpiade Paris 2024 yang diperkirakan akan dilanda gelombang panas musim semi. (Getty)

BRUSSELS (Lenteratoday) – Eropa semakin sering menghadapi serangan panas ekstrem sehingga kesulitan mengatasi. Hal tersebut dipicu meningkatnya suhu yang terus berlanjut akibat perubahan iklim, menurut layanan pemantauan iklim Copernicus dari Uni Eropa dan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada hari Senin (22/4/2024).

Laporan terbaru tentang iklim Eropa oleh Copernicus dan WMO menyoroti kondisi ekstrem pada tahun sebelumnya. Pada tahun lalu, gelombang panas yang terjadi pada bulan Juli menyebabkan tekanan panas yang kuat, sangat kuat, atau bahkan ekstrim di 41% wilayah selatan Eropa - mencatatkan rekor sebagai wilayah terluas dalam kondisi tersebut dalam satu hari dalam sejarah.

Di beberapa wilayah Italia, bulan Juli lalu mencatat peningkatan kematian sebanyak 7% dari angka biasanya. Salah satu kasus termasuk kematian seorang pria berusia 44 tahun yang sedang melakukan pekerjaan pengecatan marka jalan di kota Lodi bagian utara, yang kemudian pingsan dan meninggal dunia.

Stres panas menjadi indikator penting dalam mengukur dampak lingkungan terhadap tubuh manusia. Ini menggabungkan berbagai faktor seperti suhu udara, tingkat kelembapan, dan respons tubuh individu untuk menentukan suhu yang "dirasakan".

Panas yang ekstrem menghadirkan risiko kesehatan yang khusus bagi pekerja di luar ruangan, orang lanjut usia, dan individu dengan kondisi kesehatan yang rentan seperti penyakit kardiovaskular dan diabetes.

Menurut laporan tersebut, angka kematian terkait panas telah melonjak sekitar 30% di Eropa dalam 20 tahun terakhir, diduga sebagai dampak dari perubahan iklim.

Badan lingkungan hidup Uni Eropa baru-baru ini memperingatkan pemerintah-pemerintah di Eropa untuk segera mempersiapkan sistem perawatan kesehatan guna menghadapi tantangan perubahan iklim yang makin ekstrem. Mereka juga menyerukan adopsi peraturan Uni Eropa yang lebih ketat untuk melindungi pekerja di luar ruangan dari cuaca yang sangat panas, dengan harapan untuk mengurangi risiko kesehatan yang mengancam.

Menurut laporan, emisi gas rumah kaca menjadi penyebab utama dari kondisi panas yang luar biasa pada tahun tersebut. Faktor lain yang berperan termasuk pola cuaca El Nino.

Peningkatan suhu menyebabkan terjadinya cuaca ekstrem, seperti banjir, karena atmosfer yang lebih hangat dapat menampung lebih banyak uap air. Ini mengakibatkan hujan yang lebih deras ketika uap air dilepaskan.

Banjir di Slovenia tahun lalu telah memengaruhi sekitar 1,5 juta orang, sementara Yunani mengalami kebakaran hutan terbesar di Uni Eropa yang pernah tercatat, dengan luas mencapai 960 km persegi, dua kali lebih besar dari wilayah Athena. Selain itu, gletser Alpen kehilangan sekitar 10% dari volume yang tersisa selama tahun 2022 dan 2023.

Menurut Carlo Buontempo, direktur Copernicus Climate Change Service, beberapa peristiwa yang terjadi pada tahun 2023 mengejutkan komunitas ilmiah karena intensitasnya, kecepatan kemunculannya, luasnya, dan durasinya. Hal ini menunjukkan perlunya perhatian serius terhadap perubahan iklim.

Sumber: Reuters/Penerjemah: Aria (mk)|Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.