06 April 2025

Get In Touch

Kasus TBC di Kota Kediri Capai 1.380 Orang, Tertinggi dalam 5 Tahun Terakhir

Pj Wali Kota Kediri, Zanariah saat memberikan arahan dalam Workshop Update Tatalaksana TBC SO dan TBC RO bagi tenaga kesehatan di lingkungan Pemkot Kediri.
Pj Wali Kota Kediri, Zanariah saat memberikan arahan dalam Workshop Update Tatalaksana TBC SO dan TBC RO bagi tenaga kesehatan di lingkungan Pemkot Kediri.

KEDIRI (Lenteratoday)- Kasus Tuberkulosis (TBC) di Kota Kediri saat ini tertinggi dalam waktu 5 tahun terakhir. Menurut catatan, ada 1.380 kasus TBC Sensitif Obat (SO) dan 40 TBC Resisten Obat (RO).

Hal itu dungkapkan Pj Wali Kota Kediri Zanariah saat memberikan arahan dalam Workshop Update Tatalaksana Tuberkulosis (TBC) Sensitif Obat (SO) dan TBC Resisten Obat (RO) bagi tenaga kesehatan di Kota Kediri di Hotel Lotus Garden, Senin (29/4/2024).

Workshop ini menghadirkan narasumber Prof. Dr. Soedarsono, dr., Sp. P(K) dari Fakultas Kedokteran Universitas Hangtuah Surabaya dan dr. Retno Asih Setyaningrum, dr., Sp.A (K), keduanya dari RSUD Dr. Soetomo serta dr. Palmalina Anggita dari RS Muhammadiyah Kota Kediri.

“Ini disebabkan pengobatan yang tidak konsisten, sehingga bakteri penyebab TBC Mycobacterium Tuberculosis menjadi kebal terhadap obat-obatan,” ujar Zanariah..

Ditambahkan, TBC masih menjadi masalah kesehatan serius. Terlebih Indonesia menjadi peringkat 2 sebagai negara dengan beban TBC tertinggi di dunia. Sejauh ini tantangan dalam penanganan TBC adalah angka putus pengobatan yang cukup tinggi .

Hal itu disebabkan, salah satu adalah durasi pengobatan cukup lama yaitu minimal enam bulan, efek samping obat, kesulitan akses, masalah ekonomi dan juga stigma negatif.

Untuk itu pemberantasan TBC terus dilakukan pemerintah. PJ Wali Kota Kediri mengingatkan agar setiap fasilitas kesehatan yang menemukan kasus Tuberkulosis wajib melaporkan ke Dinas Kesehatan (Dinkes) dan mencatat di sistem informasi Tuberkulosis.

“Maka dari itu, seluruh tenaga kesehatan untuk saling bersinergi mencapai target eliminasi TBC tahun 2030. Karena tenaga kesehatan merupakan ujung tombak dalam penanganan tuberkulosis ini,” tambahnya.

Di akhir sambutannya, PJ Wali Kota Kediri berharap dengan workshop ini para tenaga kesehatan bisa memahami update penanganan program TBC yang berubah begitu cepat. Selain itu bisa meningkatkan kompetensi sumber daya tenaga kesehatan dalam melakukan pelayanan program TBC di seluruh fasilitas kesehatan di Kota Kediri.

"Semoga dengan ikhtiar ini, kasus TBC di Kota Kediri semakin berkurang, sehingga derajat kesehatan masyarakat juga terus meningkat," tutupnya.

Turut hadir dalam acara ini Kepala Dinkes Kota Kediri Muhammad Fajri, dan peserta workshop yakni Kepala Puskesmas se-Kota Kediri, dokter spesialis, dokter umum, perawat, bidan, apoteker dan farmasi.

Reporter: Gatot Sunarko/Editor: widyawati

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.