
SOLO - Lulusan FKIP tak selalu menjadi guru. Tiga lulusan Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer (PTIK) FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo ini membuat perusahaan rintisan berbasis teknologi (startup) bernama Mixnox.
Saat memulai cerita tentang usaha mereka pada Rabu (10/7/2019) malam di Kafe Opallet, ketiganya saling ejek soal usia, tentang siapa yang paling muda dan siapa yang paling tua.
Padahal usia ketiganya masih muda, Ahmad Pramono, 24; Fauzan Adi, 23; dan Rix Rangga, 23. Mereka adalah lulusan PTIK Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.
Meski bersekolah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), namun ketiganya tak berminat menjadi pengajar. Menurut mereka, kuliah di FKIP bukan lantas menjadikan lulusannya harus menjadi seorang guru.
Ketiganya ingin menjadi pengusaha. Itulah alasan mereka membuat Mixnox, perusahaan rintisan yang melayani pembuatan website, multimedia, instalasi jaringan, sampai desain kaver buku.
Fauzan membuka cerita tentang awal-mula berdirinya Mixnox yang dilatarbelakangi kegelisahan ketiganya. “Omong-omongannya saat nganggur, di sela mengerjakan skripsi maksudnya. Jadi kita membahas bagaimana setelah kuliah. Awalnya banyak sih yang bergabung. Sekarang yang aktif sekitar tujuh orang,” kata dia.
Memanfaatkan akun Instagram @mixnoxstudio, mereka menawarkan berbagai layananan kepada para pengikut yang mencapai 1.855 akun. Pemasaran lewat Instagram efektif untuk menjangkau banyak kalangan selain juga pemasaran dari mulut ke mulut.
Pramono menjelaskan klien mereka saat ini kebanyakan adalah mahasiswa. Yang mereka pesan biasanya sebuah aplikasi untuk kepentingan riset. “Ada juga dosen yang meminta aplikasi khusus untuk melengkapi bukunya. Jadi buku yang dicetak dosen itu dilengkapi ilustrasi di setiap bab. Kebetulan buku matematika sih. Seingat saya pesannya empat media pembelajaran karena menyesuaikan jumlah bab,” jelas Pramono.
Fauzan memperlihatkan salah satu aplikasi multimedia pengajaran untuk siswa. Dalam aplikasi itu, selain materi pelajaran, ada pula animasi sederhana, soal-soal, serta materi pengajaran. “Aplikasinya memang untuk memudahkan proses belajar-mengajar,” sambung Fauzan.
Bekerja sama dengan Solo Techno Park (STP) Solo, para pemuda ini berhak menggunakan space sekitar 10 meter X 5 meter untuk tempat layanan dan workshop. Praktiknya mereka seringkali bekerja di rumah masing-masing karena pengerjaan aplikasi biasanya membutuhkan waktu panjang sementara STP tutup pada sore hari.
“Kalau untuk produk harganya beragam. Aplikasinya dari yang sederhana sampai rumit. Ada yang harganya Rp150.000 sampai Rp10 juta,” jelas dia. Ketiganya berharap Mixnox berkembang. Salah satu hal yang paling mereka butuhkan adalah pembimbing yang bisa memberi contoh, mulai dari pengembangan usaha, riset, sampai manajemen.